Peristiwa Merah Salju 2 [Serial Pisau Terbang keEmpat]

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 14 September 2011

Pelan-pelan juragan Song menghela napas, ujarnya, "Yap-kongcu, apa kau pun kenal?"
Yap Kay tertawa, sahutnya, "Pernah kudengar saja, kabarnya orang ini menggunakan sebatang
pedang yang teramat cepat dan keji."
Juragan Song segera tertawa lebar, katanya, "Dua tahun mendatang ini, orang-orang Bu-lim
yang tidak atau belum pernah mendengar nama besarnya kukira jumlahnya bisa dihitung dengan
jari."
"Ya, memang tidak banyak," Yap Kay manggut-manggut.
"Kabarnya Sin-liong-su-kiam (empat pedang naga sakti) dari Kun-lun-san dan Ciangbunjin
Tiam-jong-pay juga kalah oleh pedangnya itu," juragan Song mengoceh lagi.
Yap Kay manggut-manggut, ujarnya, "Agaknya juragan Song amat hapal sekali mengenai
seluk-beluk sepak terjangnya belakangan ini."
Juragan Song menyengir tawa, katanya, "Biarlah Yap-kongcu tahu, pemuda yang hebat luar
biasa ini adalah putra seorang saudaraku yang lain."
"Dia sudah datang?" tanya Yap Kay.
"Agaknya dia belum lupa akan famili tua yang rudin seperti aku ini," juragan Song mengoceh
lebih lanjut. "Dua hari yang lalu dia menyuruh orang memberi kabar kepadaku, maka aku tahu
bahwa dia kini berada di sekitar sini."
Ting-losu cepat menambahkan, "Oleh karena itu kemarin malam kita sudah mengutus orang
untuk pergi mengundangnya kemari."
"Kalau tidak terjadi sesuatu di luar dugaan”juragan Song berkata lebih lanjut "sebelum matahari
terbenam nanti, dia pasti sudah tiba."
Thio-losu mengepal tinjunya, katanya gemas, "Kalau dia sudah datang, kita akan membikin Pho
Ang-soat tahu rasa."
Yap Kay mendengarkan saja, kini tiba-tiba tertawa, katanya, "Hal ini kalian sudah putuskan
bersama, kenapa diberitahukan kepadaku?"
Tan-toakoan tertawa, katanya mendahului yang lain, "Yap-kongcu kau seorang yang tahu diri,
selama ini kami memandang Yap-kongcu sebagai teman sendiri." Seperti kuatir Yap Kay
mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar, segera ia menambahkan, "Tapi kami juga tahu
bahwa Yap-kongcu biasanya juga baik terhadap bocah she Pho itu."
"Apa kalian takut bila aku turut campur dalam persoalan ini?" tanya Yap Kay.
"Kami hanya mengharap sekali ini Yap-kongcu jangan lagi melindunginya," pinta Tan-toakoan.
"Aku ini orang jujur," sela Thio-losu, "maka aku pun bicara sejujurnya."
"Silakan berkata," ujar Yap Kay.
Kata Thio-losu, "Lebih baik kau membantu kami membunuhnya, kilau kau tidak membantu
kami. paling tidak jangan membantunya, kalau tidak...."
"Kalau tidak bagaimana ...." Yap Kay menegas.
Thio-losu bangkit berdiri, katanya dengan suara keras, "Kalau tidak, meski aku tidak dapat
merobohkan kau, aku akan mengadu jiwa juga dengan kau."
Yap Kay tertawa lebar, serunya, "Bagus, memang omongan yang jujur, aku senang mendengar
orang bicara dengan jujur."
Thio-losu senang, tanyanya, "Kau suka membantu kami?"
"Paling tidak aku tidak akan membantu dia."
Tan-toakoan menghela napas lega, katanya mengunjuk tawa, "Kalau demikian, sungguh kami
amat berterima kasih kepadamu."

"Aku hanya mengharap bila Lok Siau-ka tiba di sini, kalian suka memberi tahu kepadaku."
"Sudah tentu, akan kuberi kabar," Tan-toakoan menjanjikan.
Yap Kay menghela napas, mulutnya menggumam, "Sungguh sejak I ima aku ingin bertemu
dengan orang ini, demikian pula pedangnya itu ...."
Tiba-tiba seseorang menyeletuk, "Kabarnya pedangnya itupun jarang diperlihatkan kepada
orang." Itulah suara Siau Piat-li. Orangnya masih di atas loteng, namun suaranya sudah
berkumandang di bawah.
Yap Kay mengangkat kepala, katanya sambil tertawa, "Apakah pedangnya sama dengan golok
Pho Ang-soat?"
Siau Piat-li tersenyum, sahutnya, "Ada satu hal tidak sama."
"Hal yang mana?"
"Golok Pho Ang-soat peranti membunuh tiga macam manusia, tapi pedangnya hanya
membunuh semacam saja."
"Hanya membunuh orang macam apa?"
"Orang hidup," sahut Siau Piat-li, pelan-pelan dia turun dari loteng, kulit mukanya yang selalu
pucat itu mengulum senyuman sinis, katanya lebih lanjut, "Dia tidak sama dengan Pho Ang-soat,
dalam pandangannya di dunia ini hanya ada dua macam orang, yaitu manusia hidup dan mati."
"Asal manusia hidup dia ingin membunuhnya?" tanya Yap Kay.
Siau Piat-li menghela napas. "Paling tidak belum pernah kudengar ada orang hidup setelah
menjadi korban kelihaian pedangnya itu."
Yap Kay juga menghela napas, ujarnya, "Sekarang aku hanya ingin tahu satu hal."
"Hal apa?"
"Entah pedangnya yang cepat? Atau golok Pho Ang-soat yang lebih cepat."
0oo0
Memang siapa pun ingin tahu akan hal ini.
0oo0
Surya sudah terbit.
Tio Toa, pemimpin penjaga keamanan kota kecil ini sedang sibuk memimpin anak buahnya
membersihkan puing-puing bekas kebakaran.
Orang-orang yang hadir di dalam rumah beramai-ramai keluar melihat dari kejauhan, mulut
mereka sedang ribut pula saling berdebat dan berkomentar.
Siau Piat-li dan Yap Kay tetap tinggal di dalam rumah. Dari jendela Yap Kay melongok keluar
mengawasi kesibukan orang-orang di luar, katanya tersenyum, "Tak nyana Tio Toa mau bekerja
begitu giat."
"Sudah tentu dia harus bekerja giat."
"O, kenapa?"
"Siapa yang tidak tahu bahwa Li Ma-hou sebetulnya tidak ceroboh, berdagang selama puluhan
tahun, kabarnya dia sudah menabung sampai ribuan tahil perak."
"Uang perak takkan terbakar habis."
"Dia pun tidak punya keturunan."

"Oleh karena itu bila bisa menemukan uang-uang perak itu, bakal menjadi milik dan bagian
penjaga keamanan."
"Tak heran mereka tadi bilang kau ini orang yang serba tahu."
"Kau dengar pembicaraan mereka tadi?" tanya Yap Kay.
"Bila orang-orang itu mau berbincang, seperti kuatir bila percakapan mereka tidak didengar
orang."
"Tak heran kau tidak bisa jatuh pulas, semula kukira ada seseorang menemani kau minum arak
di atas."
Berkilat biji mata Siau Piat-li, katanya, "Kau kira Ting Kiu."
Yap Kay mandah tertawa, ditariknya sebuah kursi, lalu duduk.
"Kau ingin mencari dia?" tanya Siau Piat-li.
"Bicara terus terang, yang benar-benar ingin kucari adalah Pho Ang-soat."
"Kau tidak tahu dimana dia berada?"
"Kau tahu?"
Berpikir sebentar, Siau Piat-li menjawab, "Yang terang dia tidak akan pergi dari sini."
"Mungkin digiring dengan cambuk pun dia tidak mau diusir pergi."
"Tapi sulit dia mencari seorang penduduk yang mau menerima dirinya lagi."
"Agaknya memang amat sulit."
Kata Siau Piat-li lebih lanjut seperti menepekur, "Namun ada sementara tempat yang tidak
dimiliki orang, pintunya pun selalu terbuka lebar."
"Umpamanya tempat-tempat mana saja?"
"Umpamanya, Koan-te-bio ...."
Bersinar biji mata Yap Kay, tiba-tiba dia berdiri, katanya, "Koan-hucu adalah orang yang paling
kukagumi, memang sejak dulu aku sudah ingin pergi ke kuilnya memasang dupa memberi selamat
kepadanya."
"Lebih baik kalau kau kurangi jumlah dupa yang kau bakar, supaya tidak membakar rumah "
Yap Kay tertawa, ujarnya, "Untungnya Koan-hucu selamanya takkan buka mulut, kalau tidak,
mungkin bisa terjadi."
0oo0
Jenazah yang sudah hangus sudah diketemukan dan dikebumikan dengan baik, tapi uang perak
yang dicari ubek-ubekan tak ketemu juga.
Tio Toa sementara itu sudah keletihan dan sedang beristirahat di bawah emperan, dengan
sebuah cawan besar dia tengah minum air, dengan suara keras dia memerintahkan anak buahnya
supaya bekerja lebih giat lagi. Kalau uang perak itu diketemukan, semua orang akan mendapat
bagian yang setimpal.
Yap Kay maju menghampiri, berdiri di sampingnya, tiba-tiba dia berkata hampir berbisik,
"Kabarnya ada orang yang suka menyimpan uangnya dipendam di bawah kolong tempat tidur."
Seketika tergerak hati Thio Toa, berkobar semangatnya, serunya sambil berjingkrak bangun,
"Betul, sejak tadi seharusnya sudah kuduga tempat ini." Seperti baru sekarang dia sadar yang
memberi bisikan adalah Yap Kay, tiba-tiba dia berpaling pula sambil berkata dengan tertawa, "Jika
ketemu, rekening arak Yap-kongcu di sini boleh diteken atas namaku Tio Toa."

"Kukira tidak usah, aku hanya mengharap kau suka membereskan si korban selayaknya, carikan
dua peti mati yang baik "
"Peti mati sudah ada, malah tidak usah beli mengeluarkan uang segala."
"O, di sini ada peti mati yang diperoleh tanpa membeli, aku belum pernah dengar."
Tio Toa tertawa, katanya, "Yap-kongcu masa sudah lupa, beberapa hari yang lalu bukankah
ada orang mengangkut peti-peti mati kemari?"
Kembali bersinar biji mata Yap Kay, tanyanya, "Bukankah peti-peti mati itu hendak diangkut ke
Ban-be-tong?"
"Dua-tiga hari belakangan ini agaknya Sam-lopan selalu ketiban sial, siapa yang berani
mengangkut peti mati itu ke sana?"
"Lalu dimana peti-peti mati itu sekarang?"
"Sebetulnya ditumpuk di tanah kosong di belakang sana. kemarin waktu api berkobar, lalu
kusuruh orang memindahkan ke Koan-te-bio, sungguh menguntungkan orang-orang yang mati
beberapa hari ini, setiap orang masih kebagian sebuah peti mati."
"Agaknya orang-orang yang mati di daerah ini memang tepat."
Tio Toa sebaliknya menghela napas, katanya, "Tapi yang tidak mati hidup di tempat miskin
seperti ini, benar-benar tersiksa dalam hidupnya."
"Siapa bilang tempat ini miskin, bukan mustahil di dalam sana ada ribuan tahil uang perak
sedang menunggu kau untuk mengambilnya."
"Terima kasih atas pujian Kongcu, segera juga akan kuambil." Dengan menyingsing lengan baju
segera dia memburu ke sana, tiba-tiba dia berpaling pula, katanya, "Kongcu, bila di sini kau
menemui kesulitan apa-apa, aku Tio Toa pasti akan memilihkan sebuah peti mati yang paling baik
untuk dirimu."
Mengawasi punggung orang yang beranjak ke sana. sungguh Yap Kay menjadi bingung sendiri,
entah dongkol atau geli, lama juga baru dia mengunjuk tertawa getir, gumamnya, "Agaknya bocah
ini memang teman sontoloyo."
0oo0
Jalan raya ini sudah termasuk daerah mewah di kota kecil ini, sudah tentu tidak hanya melulu
terhadap sebuah jalan raya seperti ini saja.
Bila kau tiba di ujung sana, lalu belok ke kiri bangunan rumah, di sini kelihatan jauh lebih
sederhana kalau tidak mau dikata sudah bobrok, orang-orang yang menetap di sini kalau bukan
penggembala kambing, tentunya para kusir kereta atau tukang cuci binatang, demikian juga
pegawai-pegawai dari beberapa buah toko besar di jalan raya ini kebanyakan menetap di sana.
Seorang nyonya yang sudah bunting tua tengah berjongkok membuat api. Di punggungnya
menggendong seorang anak kecil, di pinggirnya masih berdiri tiga orang yang lain, roman muka
mereka mirip sayur-sayur hijau yang keputihan, demikian juga dia* sendiri kelihatannya sudah
kuyu, sudah tua mirip seorang nenek.
Diam-diam Yap Kay menghela napas, kenapa keluarga yang miskin, anaknya justru semakin
banyak? Apakah karena mereka tidak punya uang pembeli minyak untuk menyulut dian, karena
menganggur dan iseng, maka hanya begitulah kerja mereka di malam hari.
Bagaimana pun juga keluarga yang semakin miskin, anaknya semakin banyak, bila anak terlalu
banyak, maka keluarga itu lebih miskin lagi, seolah-olah keadaan seperti ini sudah menjadi
peraturan yang takkan berubah untuk selamanya.
Tiba-tiba Yap Kay menyadari hal ini merupakan persoalan yang amat penting, tapi tak terpikir
olehnya cara bagaimana untuk membatasi kelahiran bayi-bayi dari keluarga miskin itu. Tapi dia
yakin dan percaya, hal ini kelak entah kapan pasti akan bisa ditanggulangi.

0oo0
Maju lagi tidak berapa jauh dari jarak yang tidak boleh dikata dekat kau sudah akan bisa
melihat Koan-te-bio yang bobrok tak terurus itu. Kuil kecil ini sudah jarang dikunjungi orang,
tulisan huruf-huruf emas di atas papan pengenalnya pun sudah luntur. Pintu besarnya sudah reyot
hampir roboh, peti-peti mati itu ditumpuk di pekarangan, pekarangan yang tidak begitu besar,
maka peti-peti mati sekian banyaknya terpaksa harus ditumpuk.
Patung pemujaan yang terdapat di atas altar masih terpelihara baik, kalau ada orang tidur di
bawah kaki patung di atas meja sembahyang jelas masih kuat. Dan yang terang saat itu memang
ada seseorang sedang rebah di sana.
Seorang yang bermuka pucat, tangannya mencekal sebatang golok yang serba hitam, sepasang
matanya yang jeli bersinar tengah menatap Yap Kay dengan tajam.
Yap Kay tertawa lebar.
Pho Ang-soat tidak tertawa, mengawasinya dingin, katanya, "Pernah kukatakan, kau jalan
menuju ke arahmu sendiri, aku pergi ke tujuanku sendiri pula."
"Aku pernah mendengar kau berkata demikian."
"Lantas kenapa sekarang kau mencariku kemari?" tanya Pho Ang-soat.
"Siapa bilang aku kemari mencari kau?"
"Aku."
Yap Kay tertawa pula.
"Tempat ini hanya ada dua orang, seorang hidup dan seorang tonggak kayu, tentunya kau
bukan sedang mencari manusia kayu itu."
"Manusia kayu, maksudmu Koan-hucu?"
"Aku hanya tahu dia adalah manusia kayu."
"Aku tahu selamanya kau tidak pernah menaruh hormat kepada siapa
pun, tapi paling tidak kau harus menghormat kepadanya "
"Kenapa aku harus hormat kepadanya?"
"Karena ... karena beliau sudah menjadi malaikat."
"Dia adalah malaikatmu, bukan malaikatku."
"Jadi kau tidak percaya akan adanya malaikat?"
"Yang kupercayai bukan orang macam dia, aku pun tidak habis mengerti perbuatan apa yang
patut kau hormati."
"Paling tidak dia tidak sampai dibeli oleh Co Coh, sedikitnya tidak sudi menjual sahabatnya
sendiri."
"Banyak sekali orang yang tidak sudi menjual teman sendiri."
"Tapi tentunya kau pun tahu ...."
Pho Ang-soat segera menukas dengan suara dingin, "Aku hanya tahu bila dia tidak terlalu
takabur, negeri Han tidak akan gampang dicaplok dan dimusnahkan oleh musuh."
"Aku juga tahu kenapa kau tidak menaruh hormat kepadanya."
"O, apa yang kau tahu?"
"Karena orang lain banyak yang menaruh hormat kepada beliau, sebaliknya apa pun yang suka
kau lakukan pasti dan harus berlainan dengan orang lain "

Pho Ang-soat tiba-tiba melejit bangun sambil memutar badan, pelan-pelan dia tinggal pergi.
"Kau akan pergi begini saja?"
"Hawa di sini terlalu pengap, aku sungguh tak tahan lagi" sahut Pho Ang-soat.
"Seseorang bila ingin hidup di dunia ini, maka dia perlu juga merasakan kepengapan itu."
"Itu kan cara berpikirmu, terserah bagaimana kau berpikir, kan tiada sangkut-pautnya dengan
diriku."
"Lalu bagaimana menurut pikiranmu?"
"Bagaimana pun pikiranku juga tiada sangkut-pautnya dengan kau." "Memangnya kau tidak
ingin hidup langgeng di dunia ini?"
"Hakikatnya aku memang tidak pernah hidup di dunia ini." Tanpa berpaling dia tinggal pergi.
Yap Kay tidak melihat rona wajahnya, namun dilihatnya jari-jari tangan yang menggenggam
gagang golok tiba-tiba mengencang keras. Sayang sekali, betapapun besar tenaga remasannya,
derita sanubarinya takkan mungkin bisa digenggam remuk.
Mengawasi punggung orang, Yap Kay berkata, "Adapun yang kau pikirkan, akan datang suatu
hari kau pasti akan putar kembali ke dunia ini, karena kau tetap harus bertahan hidup, malah tidak
bisa tidak harus hidup."
Seolah-olah Pho Ang-soat sudah tidak mendengar ucapannya, kaki kirinya melangkah setapak,
kaki kanannya yang kaku lalu diseretnya maju ke depan. Mengawasi kaki dan langkah orang, Yap
Kay lama kelamaan melenggong, sorot matanya diliputi kekuatiran. Umpama kata goloknya
memang lebih cepat dari Lok Siau-ka, tapi kakinya itu ....
0oo0
Pho Ang-soat sudah keluar dari pekarangan. Yap Kay tidak menahannya, dia pun tidak
menyinggung tentang kedatangan Lok Siau-ka.
Paling cepat Lok Siau-ka akan datang tiga jam lagi, dia tidak mengharap Pho Ang-soat diliputi
rasa tegang dari sekarang sampai matahari terbenam nanti. Memangnya kedatangannya ke sini
bukannya ingin memberi peringatan kepada Pho Ang-soat.
Maksud kedatangannya adalah untuk melihat peti-peti mati yang bertumpuk di pekarangannya
ini.
0oo0
Seluruh peti-peti mati itu serba baru, pliturnya masih mengkilap terang, tapi sekarang sudah
banyak tempat yang lecet dan rusak, cuma tidak terlalu parah, ada sebagian malah sudah rada
hangus.
Jika Tio Toa tiba-tiba tidak ketiban rasa bajiknya, mungkin sekian banyak peti-peti mati ini
sudah hangus seluruhnya. Mungkin orang yang melepas api itu memang bermaksud membakar
habis peti-peti mati ini juga.
Yap Kay meraup segenggam batu kerikil, duduk di undakan batu di depan pintu, satu per satu
dia lempar batu-batu itu ke arah peti-peti mati itu.
Begitu batu mengenai peti-peti mati itu, mengeluarkan suara nyaring, maklumlah biasanya tong
kosong berbunyi nyaring. Demikianlah peti itu pertanda kosong tak berisi. Seperti anak-anak
bermain lempar batu Yap Kay terus melemparkan batu-batunya ke arah peti-peti mati dari satu
peti ke peti yang lain, pada lemparannya yang kedelapan, waktu batu membentur peti mati lagi,
suaranya justru berubah.

Peti mati yang satu ini seolah-olah ada isi di dalamnya. Memangnya ada tersimpan apa dalam
peti mati ini? Bahwa peti mati kosong itu ada beberapa jumlahnya, tapi peti-peti yang berisi
ternyata ada beberapa buah.
Muka Yap Kay menampilkan mimik yang aneh, segera dia beranjak maju mendekati, beberapa
peti yang berbunyi lain itu dia pindah dan dipisahkan.
Kenapa tiba-tiba dia jadi tertarik terhadap peti-peti mati ini? Waktu tutup peti dia buka,
ternyata di dalamnya memang ada isinya. Seperti lazimnya, peti mati sudah berisi jenazah.
0oo0
Kecuali orang mati apa pula yang patut disimpan di dalam peti mati? Bahwa di dalam peti mati
terdapat mayat orang, sebetulnya bukan suatu hal yang harus dibuat heran. Tapi mayat yang
terdapat di dalam peti mati ini ternyata adalah Thio-losu yang belum lama ini masih bicara dengan
dirinya di kedai arak Siau Piat-li.
Dia rebah tenang di dalam peti, cuma kain celemek yang berlepotan minyak biasa membungkus
dada dan perutnya itu kini sudah tiada lagi. Laki-laki jujur yang berjerih payah hidup mencari uang
secara sederhana, kini sudah tenang dan tenteram menuju ke alam baka.
Tapi barusan saja dia masih berada di dalam kota, kain celemek yang dekil berminyak itu masih
menempel di badannya, kenapa sekarang tahu-tahu rebah di dalam peti mati ini tak bernyawa
lagi. Lebih aneh lagi Tan-toakoan, Ting-losu, juragan Song dan juragan Oh yang mengusahakan
hasil bumi di ujung jalan sana pun sama-sama rebah di dalam peti mati yang lain. Beberapa orang
jelas belum lama ini masih berada di dalam kota dan segar-bugar, cara bagaimana mendadak bisa
mati semua di sini?
Kapan mereka meninggal? Waktu dada mereka diraba, jazad mereka sudah dingin dan kaku,
paling sedikit sudah sepuluh jam mereka meninggal. Jika mereka sudah mati sepuluh jam yang
lalu, memangnya siapa saja yang mengajak bicara dengan Yap Kay di dalam kota tadi?
Mengawasi mayat-mayat ini sedikit pun Yap Kay tidak menampilkan rasa kaget atau keheranan,
dia malah tertawa penuh arti, seolah-olah dia malah menikmati sesuatu dan merasa amat puas.
Memangnya kejadian ini sebetulnya sudah berada dalam dugaannya?
0oo0
Bahwa orang-orang ini mampus, sudah tentu ada sebab-musababnya yang membuat mereka
mati. Maka dengan cermat dan seksama Yap Kay memeriksa luka-luka penyebab kematian
mereka, tiba-tiba dia menyeret mayat-mayat itu dari dalam peti, terus disembunyikan ke dalam
semak-semak rumput di belakang kuil bobrok ini.
Setelah itu kembali dia tumpuk peti-peti mati itu ke tempat asalnya. Tapi dia masih belum ingin
berlalu, sekali enjot kaki, badannya malah melejit ke atas wuwungan, menyelinap bersembunyi di
balik wuwungan dan menunggu dengan sabar.
Siapakah yang sedang ditunggu? Tidak terlalu lama dia menunggu, maka dilihatnya seekor
kuda sedang mencongklang dengan pesatnya dari arah padang rumput nan luas sana, orang yang
bercokol di punggung kuda mengenakan pakaian mewah menyala, punggungnya membungkuk
besar tumbuh punuk, ternyata orang ini bukan lain Kim-pwe-tho-liong Ting Kiu adanya.
Sudah tentu naga bungkuk berpunggung emas Ting Kiu tidak melihat kehadiran Yap Kay,
begitu kudanya dibedal ke arah kuil ini dan berhenti di depan pintu, dari pelananya langsung dia
tekan tangannya melejit naik ke pagar tembok.
Peti mati itu tetap bertumpuk di dalam pekarangan, dalam posisi semula seperti tidak pernah
disentuh orang. Dengan seksama Ting Kiu menjelajahkan mata ke sekelilingnya, tidak terlihat
bayangan seorang pun di sekitar kuil bobrok ini. Inilah kesempatan paling baik untuk melepas api.
Maka dia lantas bekerja mulai menyulut api.

Menyulut api untuk membakar sesuatu juga memerlukan kepandaian khusus, agaknya Ting Kiu
memang sudah cukup ahli dalam bidang ini, begitu api tersulut dan berkobar, cepat sekali
menelan segala benda yang terdapat di sekelilingnya.
Dia sendiri yang membawa peti-peti mati sebanyak ini kemari, sekarang yang membakar dan
memusnahkan peti-peti mati inipun dia sendiri pula.
Kenapa dia bersusah-payah mengangkut peti-peti mati ini kemari? Kenapa pula sekarang ingin
membakarnya habis?
0oo0
Matahari sudah bertengger tinggi di angkasa raya, tapi masih cukup
lama untuk menunggu matahari ini terbenam ke arah barat. Yap Kay sudah kembali ke dalam
kota.
Tidak bisa tidak dia harus kembali, tiba-tiba terasa perutnya sudah keroncongan dan hampir
berontak, laparnya bukan main, seolah-olah ingin rasanya menelan bulat-bulat seekor kuda.
Api masih berkobar-kobar di Koan-te-bio, cuma sekarang sudah rada mengecil, asap masih
membumbung tinggi ke angkasa.
"Bagaimana Koan-te-bio bisa terbakar secara mendadak?"
"Tentu si pincang itu lagi yang membakarnya."
Sekelompok orang tengah ribut memperbincangkan kebakaran ini, di antara sekian banyak
orang yang menonton kebakaran ini ternyata ada Tan-toakoan, Ting-losu dan Thio-losu.
Sedikit pun Yap Kay tidak merasa heran, seolah-olah dia sudah menduga bakal melihat mereka
di tempat ini. Tapi tidak pernah terbayang olehnya bahwa di sini pula dia bisa melihat Be Hongling.
Be Hong-ling sudah melihat dirinya, seketika terunjuk mimik yang aneh pada roman mukanya,
seakan-akan sedang mempertimbangkan, entah apa perlu dia maju menyapa kepadanya.
Tanpa ragu-ragu Yap Kay sebaliknya menghampirinya, sapanya dengan tersenyum, "Apa
kabar? Baik-baik saja selama ini?"
"Tidak baik," sahut Be Hong-ling ketus dengan menggigit bibir. Berbeda dengan kebiasaannya,
hari ini dia tidak mengenakan pakaian serba merah, tapi serba putih, demikian pula air mukanya
pucat, kelihatannya rada kurus. Memangnya beruntun dua malam dia tidak bisa tidur.
Yap Kay mengedip-ngedipkan mata, tanyanya, "Mana Sam-lopan?"
"Untuk apa kau tanya dia?" Be Hong-ling melotot.
"Ya, bertanya sambil lalu saja."
"Tidak perlu kau tanyakan."
"Baiklah aku tidak akan bertanya."
Be Hong-ling masih mendelik kepadanya, katanya, "Aku malah ingin tanya kau, tadi kau pergi
kemana?"
Yap Kay tertawa, ujarnya, "Kalau aku tidak boleh bertanya kepadamu, kenapa kau sendiri
bertanya kepadaku?"
"Aku senang."
Berkata Yap Kay dengan tawar, "Aku pun ingin memberitahukan kepadamu, sayang sekali
urusan yang harus dikerjakan laki-laki, ada kalanya tidak boleh diutarakan di hadapan
perempuan."
"Jadi kau melakukan kerja yang malu dilihat orang."

"Untung aku tidak bisa dan bukan ahli membakar."
"Memangnya siapa yang melepas api?"
"Boleh kau terka sendiri?"
"Kau melihat bocah she Po itu?"
"Sudah tentu pernah kulihat."
"Kapan kau melihatnya."
"Sepertinya kemarin kalau tidak salah."
Be Hong-ling melotot gusar, dengan gemas dia membanting kaki, mukanya yang pucat berubah
merah padam.
Entah apa yang dipikirkan, tiba-tiba Tan-toakoan menghampiri dan berkata, "Entah bisa tidak
meluruk ke sana mencari Sam-lopan?"
"Dia tidak akan bisa menemukan," jengek Be Hong-ling.
"Kenapa?" tanya Tan-toakoan.
"Karena aku sendiri pun tidak berhasil menemukan beliau."
Kenapa Sam-lopan mendadak menghilang? Kemana dia pergi?
Ada orang ingin bertanya, tapi pada saat itu terdengar derap langkah kuda yang berlari
mendatangi, pembicaraan mereka terputus sementara.
Seekor kuda berbulu hitam mengkilap laksana dilumuri minyak dengan badan tegap dan kaki
panjang tengah mencongklang pelan-pelan memasuki kota dari ujung jalan sebelah sana. Di
punggung kuda besar ini bercokol seorang laki-laki bertubuh kekar dan berotot kencang seperti
manusia besi, kepalanya gundul, bertelanjang dada, mengenakan celana panjang terbuat dari
sutra hitam yang tersulam kembang dengan benang emas, sepatunya lancip, sepasang tangannya
tidak memegang kendali, tapi memeluk batang tiang bendera sebesar mangkuk besar.
Di ujung tiang bendera yang empat tombak panjangnya itu, ternyata berdiri pula seseorang.
Seorang yang mengenakan pakaian merah kedodoran, menggendong kedua tangan, berdiri di
ujung tiang, meski kuda itu berlari dengan pesat, tapi dia tetap berdiri angker dan tenang tak
bergeming sedikit pun, kelihatannya seperti lebih tegak dari berdiri di tanah datar.
Hanya sekilas Yap Kay mengawasi dari kejauhan, tak tahan dia menghela napas, katanya
menggumam seorang diri, "Cepat benar kedatangannya."
0oo0
Kuda gagah itu sudah mencongklang masuk kota, setiap orang di jalan raya tak tahan untuk
tidak mendongak mengawasi orang yang berada di atas tiang bendera itu dengan pandangan
kaget, heran dan senang seperti melihat tontonan akrobatik.
Setiap penduduk kota sudah tahu siapa sebenarnya orang di atas tiang bendera ini.
Tiba-tiba kuda gagah itu meringkik panjang, lalu menghentikan langkah kakinya.
Orang serba merah di atas tiang tetap menggendong kedua tangannya di belakang, tanpa
bergerak dia mendongak sambil bertanya, "Sudah sampai?"
"Ya, sudah sampai," laki-laki gundul segera menjawab.
"Ada orang keluar menyambut kedatangan kami tidak?"
"Agaknya ada beberapa orang."
"Orang macam apa saja mereka itu?"
"Sepintas pandang masih mirip manusia umumnya."

Orang baju merah manggut-manggut, gumamnya, "Cuaca hari ini baik sekali, memang cocok
hawa seperti ini untuk membunuh orang."
Yap Kay tertawa, katanya, "Sayang sekali di atas sana hanya bisa membunuh beberapa ekor
burung kecil, orang mana bisa kau bunuh dari tempat ketinggian seperti ini."
Orang baju merah segera menunduk melotot kepadanya. Dilihat dari bawah, kelihatan jelas
bahwa orang adalah seorang pemuda yang berwajah ganteng, sepasang biji matanya bersinar
terang laksana mutiara. Dari tempatnya yang tinggi melotot kepada Yap Kay, bentaknya bengis,
"Barusan dengan siapa kau bicara?"
"Kau," sahut Yap Kay pendek.
"Kau tahu siapa aku ini?"
"Memangnya kau ini Lok Siau-ka, bocah yang membunuh orang tidak mengedipkan mata?"
"Agaknya tajam juga pandanganmu” jengek orang baju merah sinis.
"Ah, terlalu memuji."
"Siapa kau?"
"Aku she Yap."
"Mereka mengundangku kemari untuk membunuh orang, apa kau orangnya?"
"Agaknya bukan!"
"Sayang sekali," ujar orang baju merah.
Yap Kay ikut menghela napas, ujarnya, "Ya, memang sayang sekali."
"Kau pun merasa sayang?"
"Ya, sedikit saja."
"Setelah kubunuh orang itu, bagaimana kalau kubunuh kau juga?"
"Baik sekali”sahut Yap Kay spontan, kelihatannya dia amat senang bertanya jawab.
Orang baju merah menengadah pula, katanya dingin, "Siapa bilang dia kelihatannya mirip
manusia, memang matamu buta."
"Ya, memang mata hamba buta," sahut laki-laki gundul. "Apakah di sini ada orang she Tan?"
Tan-toakoan segera tampil ke depan, sahutnya dengan menjura, "Inilah Cayhe adanya."
"Kau mengundangku kemari untuk membunuh orang?"
Tan-toakoan mengunjuk tawa, katanya, "Kedatangan Lok-tayhiap terlalu pagi, orang itu belum
lagi tiba."
"Lekas suruh dia kemari, supaya lebih cepat aku membunuhnya, tiada tempo aku menunggu
terlalu lama di sini." Dari nada ucapannya, seolah-olah kalau bisa mampus terbunuh olehnya,
siapa pun akan merasakan suatu kebanggaan, maka sejak tadi seharusnya sudah menunggu
kedatangannya malah.
Tan-toakoan menyengir dan kelabakan, katanya mengunjuk tawa dibuat-buat, "Lok-tayhiap
sudah tiba di sini, kenapa tidak silakan duduk dulu minum secangkir dua cangkir."
"Di atas sini lebih silir dan nyaman ...." tukas orang baju merah kaku dingin.
Belum habis dia bicara, sekonyong-konyong "krak", tiang bendera sebesar mangkuk besar itu
tiba-tiba putus tepat di tengah-tengah menjadi dua potong.
Orang baju merah seketika menggentak kedua lengannya, kelihatannya laksana kelelawar
merah tengah pentang sayap, dengan berputar-putar melayang turun ke bawah.

Sudah tentu semua orang yang mengawasi dengan terkesima dan terbelalak, tiba-tiba Be
Hong-ling bertepuk tangan seraya berseru memuji, "Ginkang bagus...."
Baru dua patah diucapkan, tukasnya dingin, "Memangnya siapa pula kau ini?" Biji matanya
hitam dan bersinar.
Merah muka Be Hong-ling, sahutnya dengan menunduk, "Aku ... aku she Be."
"Blang", baru sekarang kutungan tiang bendera itu berdentam jatuh di atas atap rumah, jelas
sekali kalau rumah itu ambruk bakal menindih kepala beberapa orang yang menonton di emperan
rumah.
Tak terkira laki-laki gundul itu tiba-tiba memburu maju, dengan kepalanya yang plontos itu dia
terjang tiang bendera itu, sehingga mencelat tinggi dan jatuh empat-lima tombak, terlempar ke
belakang wuwungan rumah.
Tak tahan Be Hong-ling tertawa pula, katanya, "Keras benar kepala orang ini!"
Orang baju merah berkata, "Lebih baik kalau kepalamu pun sekeras kepalanya."
"Kenapa?" tanya Be Hong-ling sambil mengedipkan mata. "Karena sisa tiang bendera yang lain
itu, sebentar bakal mengetuk batok kepalamu," ujar orang baju merah. Be Hong-ling tertegun.
Kata orang baju merah lebih lanjut dengan muka merengut, "Cara bagaimana tiang bendera ini
bisa tiba-tiba putus? Memangnya bukan kau yang cari gara-gara? Begitu melihat tampangmu, aku
lantas tahu kau pasti bukan manusia baik-baik."
Merah padam pula selebar muka Be Hong-ling, tapi kali ini merah lantaran hatinya terbakar,
tangannya masih mencekal cemeti, mendadak dia ayun tangan terus melecut ke muka orang baju
merah. Memangnya kapan Be-toasiocia pernah dihina dan dibikin marah oleh orang.
Tak nyana sekali ulur tangan, dengan mudah ujung cemetinya telah ditangkap oleh orang baju
merah, katanya tertawa dingin, "Eeh, tidak kecil ya nyalimu, berani turun tangan terhadapku."
Begitu tangannya terangkat dan menarik ke belakang, tanpa kuasa Be Hong-ling terseret jatuh ke
depan, baru saja tangannya hendak diulur menggampar muka orang, tahu-tahu tangannya yang
sudah terulur itu tertangkap kencang oleh jari-jari orang.
Leher Be Hong-ling ikut merah, desisnya mengertak gigi, "Kau ... lepaskan tidak cekalanmu?"
"Tidak!"
"Apa yang kau inginkan?"
"Berlutut dulu menyembah tiga kali kepadaku, lalu merangkak pula dua putaran, baru
kuampuni jiwamu!"
"Jangan kau harap," Be Hong-ling berpekik beringas.
"Kalau begitu jangan harap aku akan melepaskan tanganmu."
Be Hong-ling mengertak gigi, serunya sambil membanting kaki, "Orang she Yap, kau ... kau,
memangnya kau sudah mampus?"
Yap Kay menghela napas, ujarnya, "Memang di sini ada seorang mati, tapi terang bukan aku!"
"Siapa bilang bukan kau?"
Yap Kay tertawa sambil menengadah memandang ke wuwungan di seberang, katanya, "Tiang
bendera ini terang adalah kau yang membikin patah, kenapa kau biarkan saja orang lain terima
getahnya lantaran perbuatanmu."
Tak tahan semua orang memandang ke sana, tapi wuwungan itu kosong, tiada apa-apa, jangan
kata manusia, bayangan burung atau setan pun tidak terlihat.

Tapi tiba-tiba dari belakang wuwungan mencelat keluar dua buah benda kecil, jatuh di jalan
raya, itulah kulit kacang. Tak lama kemudian kembali sesuatu benda terlempar jatuh, itulah kulit
buah jeruk yang sudah dikeringkan menjadi manisan.
Melihat kedua benda ini, seketika berubah rona muka orang baju merah, katanya dengan
mengertak gigi, "Agaknya setan keparat itu sudah datang."
Laki-laki gundul manggut-manggut, mendadak dia menghardik, badannya mencelat setinggi
tujuh kaki sembari mengayunkan sisa tiang bendera yang kutung di tangannya, mengemplang ke
belakang wuwungan rumah. Terdengar angin menderu disusul suara gemuruh dari
berhamburannya debu dan pecahan genting, seolah-olah seluruh rumah ini hendak dipukulnya
ambruk.
Siapa tahu tiba-tiba dari balik rumah sebelah sana melesat selarik sinar hijau, hanya berkelebat
sekali, tiang bendera itu tahu-tahu putus sejengkal pula.
Sudah tentu pukulan kepala gungul mengenai tempat kosong, sehingga badannya terjungkal
roboh dan terbanting keras di atas tanah. Tiang bendera yang putus itu tiba-tiba mencelat, lalu
melayang jatuh pula, dari bawah emperan rumah sana kembali sinar hijau berkelebat. Kutungan
tiang bendera yang masih tiga kaki panjangnya itu sekaligus menjadi kutungan tujuh-delapan
keping, semuanya berjatuhan ke atas tanah.
Pandangan mata semua orang mendelong.
Yap Kay menghela napas pula, katanya seperti menggumam, "Pedang yang cepat sekali,
memang tidak bernama kosong!"
Orang baju merah sebaliknya membanting kaki dengan gemas, katanya dongkol, "Kalau sudah
kemari, kenapa tidak kau turun saja."
Dari balik wuwungan sana ada seseorang menjawab, "Di atas sini lebih silir!"
Orang baju merah berjingkrak mencak-mencak, serunya keras, "Kenapa selalu bermusuhan dan
mencari gara-gara kepadaku?"
Orang itu balas bertanya, "Kenapa kau selalu suka bermusuhan dengan orang lain?"
"Aku bermusuhan dengan siapa?" tanya orang baju merah.
"Jelas kau tahu bahwa tiang bendera itu bukan nona Be itu yang memutuskan, kenapa kau
mempersulit dirinya?"
"Aku sedang senang!" sahut orang baju merah.
Yap Kay tertawa.
Biasanya Be Hong-ling binal dan tidak kenal aturan, siapa tahu hari ini dia kebentur orang yang
lebih binal, lebih tidak aturan lagi.
Berkata orang baju merah, "Memangnya aku tidak suka melihat tampangnya, apa sangkutpautnya
dengan kau? Kenapa kau bicara membela dia kalau aku digoda dan dibuat marah orang
lain, kenapa kau tidak bantu aku menghajarnya?"
"Siapa sih kau?" tanya orang itu.
"Aku ... aku ...." gelagapan orang baju merah.
"Lok Siau-ka gembong iblis yang membunuh manusia tanpa berkesip itu, kapan pernah dibuat
marah dan terima dihina orang!"
Tertunduk kepala orang baju merah, katanya, "Siapa bilang aku ini Lok Siau-ka?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang?"
"Orang itu yang bilang, bukan aku."
"Kau bukan Lok Siau-ka, memangnya siapa sebenarnya Lok Siau-ka?" "Kau'"

"Kalau aku ini Lok Siau-ka, kenapa kau hendak menyaru jadi dia?"
Tiba-tiba orang baju merah berjingkrak pula, serunya, "Karena aku suka kepadamu, aku kemari
hendak mencarimu." Semua orang melenggong dan terkesima mendengar kata-katanya yang
terus terang dan blak-blakan ini, semua orang mengawasinya.
"Kenapa kalian mengawasi aku," seru orang baju merah. "Memangnya aku tidak boleh
menyukai dia?" Tiba-tiba dia raih kain merah yang mengikat kepalanya, lalu katanya keras, "Mata
kalian memang sudah buta, masakah tiada yang tahu bahwa aku ini perempuan!"
Memang dia perempuan tulen. Lalu orang macam apa sebenarnya Lok Siau-ka itu?
Kata orang baju merah mendongak, "Aku sudah melepaskan dia, kenapa kau tidak turun
tangan juga?"
Ternyata tak terdengar lagi jawaban atau suara orang itu di balik wuwungan.
"Kenapa tidak kau bicara? Memangnya mendadak kau bisu?"
Tetap tidak mendapat jawaban. Orang baju merah mengertak gigi, mendadak dia menjejakkan
kaki melompat naik ke sana. Mana ada orang di belakang wuwungan? Orangnya sudah
menghilang, di sana ditinggalkan setumpukan kulit kacang yang sudah kosong.
Berubah muka orang baju merah, teriaknya, "Siau Lok, orang she Lok, kau mampus dimana,
hayo lekas keluar!"
Tiada orang keluar. Tiada orang menjawab.
Orang baju merah membanting kaki dengan gemas, katanya, "Akan kulihat sampai kapan kau
bisa menyembunyikan diri? Umpama bersembunyi ke ujung langit, akan kutemukan kau juga."
Tampak bayangan merah berkelebat, tiba-tiba dia pun menghilang. Laki-laki gundul itu tiba-tiba
mencelat bangun, melompat ke punggung kuda terus dibedal pergi.
Tan-toakoan terlongong di tempat, katanya seperti menggumam, "Agaknya perempuan itu rada
sinting."
Be Hong-ling juga menjublek, tiba-tiba dia menghela napas, katanya, "Aku sebaliknya kagum
kepadanya."
Tan-toakoan melenggong, tanyanya, "Kau mengaguminya?"
Be Hong-ling tertunduk, katanya perlahan, "Bila dia menyukai seseorang, berani bicara blakblakan
di hadapan orang banyak tanpa takut ditertawakan, paling tidak dia lebih berani dari aku."
0oo0
Tengah hari. Waktu hembusan angin berlalu, kulit-kulit kacang beterbangan jatuh dari atap
rumah, namun bayangan gelap dalam lubuk hati Be hong-ling tidak dihembusnya menghilang
Sorot matanya seperti memandang ke tempat jauh, tapi sengaja atau tidak sengaja, tak tahan
mengerling ke arah Yap Kay
Yap Kay sebaliknya sedang mengawasi kulit-kulit kacang yang beterbangan dihembus angin,
seolah-olah tiada sesuatu benda di dunia ini yang jauh lebih menarik perhatiannya kecuali kulitkulit
kacang itu.
Entah karena apa tiba-tiba merah pula selebar muka Be Hong-ling, pelan-pelan dia membanting
kaki, mulutnya mencibir bersuit ringan, kuda hitamnya segera berlari datang dari kejauhan. Segera
dia mencemplak naik ke punggungnya, tiba-tiba cemetinya terayun balik, kulit-kulit kacang di atas
wuwungan yang tidak terhembus jatuh itu seketika mencelat dan berjatuhan ke muka Yap Kay,
katanya keras, "Kalau kau menyukainya, biar kuberikan semuanya kepadamu."
Waktu kulit-kulit kacang itu berjatuhan, kuda tunggangannya sudah mencongklang jauh.

Seperti tertawa tidak tertawa Tan-toakoan mengawasi Yap Kay, katanya, "Sebetulnya meski
sesuatu tidak diuraikan dengan kata-kata, tidak jauh berbeda dengan diucapkan. Yap-kongcu,
benar tidak menurut pendapatmu?"
Yap Kay berkata tawar, "Tidak dikatakan sudah tentu jauh lebih baik daripada dikatakan!"
"Kenapa?" tanya Tan-toakoan.
"Karena orang yang cerewet sering membosankan."
Tan-toakoan tertawa, sudah tentu tertawa palsu.
Yap Kay berlalu dari depannya, mendorong daun pintu yang sempit itu, gumamnya, "Tidak
bicara tidak menjadi soal, kalau tidak makan barulah takkan tertahan lagi, kenapa orang banyak
justru sering tidak paham akan hal ini?"
Terdengar seseorang menanggapi, "Tapi asal ada kacang, tidak makan pun tidak menjadi soal."
0oo0
Orang ini duduk di dalam rumah, membelakangi pintu, di atas meja di sampingnya ada
setumpuk kacang kulit. Dia membuka sebutir kacang, dilempar ke atas, lalu disambut dengan
mulutnya, tinggi lemparannya, mulut pun menyambut dengan tepat.
Yap Kay tertawa, katanya tersenyum, "Belum pernah kau meleset?"
Orang ini tidak berpaling, jawabnya, "Selamanya tidak akan meleset." "Kenapa?"
"Lemparan tanganku mantap, mulutku pun mengincar dengan tepat."
"Oleh karena itu orang mengundangmu kemari untuk membunuh orang, untuk membunuh
orang bukan saja memerlukan gerakan tangan yang mantap, mulut pun tidak boleh cerewet,
malah harus tenang dan rapat."
Berkata orang itu dengan tawar, "Sayang sekali mereka tidak mengundangku kemari untuk
membunuh kau."
"Setelah kau bunuh orang itu, mau tidak kau membunuhku?"
"Bagus sekali!"
Yap Kay bergelak tertawa.
Tiba-tiba orang itupun tertawa lebar.
Tan-toakoan yang baru saja masuk justru menjublek di tempatnya.
0oo0
Dengan tertawa lebar Yap Kay beranjak menghampiri, duduk di hadapan orang, tiba-tiba dia
ulur tangannya menjemput sebutir kacang.
Tawa lebar orang itu tiba-tiba kuncup. Dia pun seorang pemuda. Seorang pemuda yang aneh,
memiliki sepasang mata yang aneh pula, sampai pun waktu dia tertawa, sepasang matanya itu
tetap dingin, seperti biji mata orang mati, tidak berperasaan, tidak beremosi. Mengawasi kacang di
tangan Yap Kay, katanya, "Letakkan."
"Aku tidak boleh makan kacangmu?" tanya Yap Kay.
"Tidak boleh. Kau bisa menyuruhku membunuh, tapi jangan sekali-kali kau makan kacangku."
"Kenapa?"
"Karena Lok Siau-ka bilang demikian!"
"Siapa itu Lok Siau-ka?"

"Aku inilah."
0oo0
Biji matanya kelabu berwarna mati, tapi menyorotkan sinar tajam setajam golok.
Mengawasi kacang di tangannya, Yap Kay menggumam,
"Kelihatannya hanya sebutir kacang belaka."
"Memangnya!"
"Tiada bedanya dengan kacang lainnya?"
"Tiada bedanya."
"Memangnya kenapa aku harus makan kacang yang ini?" dengan tersenyum pelan-pelan dia
kembalikan kacang itu.
Lok Siau-ka tertawa lagi, tapi sorot matanya tetap dingin, katanya, "Tentu kau inilah Yap Kay
adanya."
"O?" Yap Kay bersuara dalam mulut.
"Kecuali Yap Kay, tak habis kupikir ada orang seperti kau ini."
"Apakah ini umpakan?"
"Ada sedikit."
"Sayang sekali betapapun tinggi umpakanmu, tidak sebanding dengan sebutir kacangmu ini."
Lama Lok Siau-ka mengawasinya lekat-lekat, lama juga baru dia berkata pelan-pelan,
"Selamanya kau tidak pernah membawa pisau?"
"Paling tidak belum pernah ada orang melihat aku membawa pisau?"
"Kenapa?"
"Coba kau terka?"
"Karena selamanya kau tidak pernah membunuh orang? Atau karena kau membunuh orang
tidak perlu pakai pisau?"
Yap Kay tertawa, namun sorot matanya sedikit pun tidak memancarkan keriangan hatinya.
Matanya sedang mengawasi pedang Lok Siau-ka.
0oo0
Sebatang pedang yang amat tipis, tipis tapi tajam luar biasa. Tidak pakai sarung pedang.
Pedang tipis ini tersoreng miring terselip di ikat pinggangnya.
"Kau tidak pakai sarung pedang?"
"Paling tidak jarang orang melihat aku pakai sarung pedang."
"Kenapa?"
"Coba kau terka?"
"Karena kau tidak suka sarung pedang? Atau karena pedang ini memang tidak punya sarung?"
"Pedang macam apa pun, bila dia berhasil digembleng, semula tidak
pernah memakai sarung."
"O?" Yap Kay bersuara heran. "Sarung pedang dibuat belakangan." "Kenapa pedang ini tidak
pakai sarung?"

"Yang membunuh orang adalah pedangnya, bukan sarungnya."
"Sudah tentu."
"Yang ditakuti orang juga pedang, bukan sarungnya."
"Masuk akal."
"Oleh karena itu sarung benda hanya berlebihan belaka."
"Selamanya kau tidak pernah melakukan perbuatan yang berlebihan?" "Aku hanya membunuh
orang yang berlebihan!"
"Orang yang berlebihan?"
"Sementara orang hidup di dunia ini, memangnya tidak berguna, berlebihan!"
"Uraianmu terdengar amat mengasyikkan, cukup menarik juga."
"Sekarang kau pun sudah sependapat?"
"Aku tahu ada dua yang selalu menyoreng pedang tanpa menggunakan sarung pedang juga,
tapi mereka tidak bisa membanyol dengan uraian kata-katanya yang menarik."
"Mungkin umpama kata mereka berkata, belum tentu kau bisa memahaminya."
"Atau mungkin juga mereka memang tidak mau berbicara."
"O?" ganti Lok Siau-ka yang bersuara heran.
"Aku tahu mereka bukan orang yang suka cerewet, cukup asal mereka sendiri saja yang tahu
akan pengertian itu, jarang mereka uraikan hal-hal itu kepada orang lain."
Lok Siau-ka menatapnya, katanya, "Betul kau tahu orang macam apa sebenarnya mereka itu?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Kalau begitu terlalu banyak apa yang kau ketahui."
"Tapi aku belum tahu akan dirimu."
"Untung kalau kau belum tahu."
"Untung?"
"Kalau tidak, orang yang akan mampus pertama kali di sini bukan Pho Ang-soat tapi kau!"
"Sekarang bagaimana?"
"Sekarang aku belum perlu membunuh kau."
"Kau tak usah membunuhku, juga belum tentu mampu membunuhnya."
Lok Siau-ka tertawa dingin
"Kau pernah melihat ilmu silatnya?"
"Belum!"
"Kalau kau belum pernah menyaksikan, bagaimana kau punya keyakinan?"
"Tapi aku tahu bahwa dia seorang timpang."
"Memangnya timpang ada beberapa macam."
"Tapi ilmu silat orang timpang umumnya hanya ada satu macam."
"Macam yang mana?"
"Dengan ketenangan mengatasi pergerakan, bergerak ke belakang mendahului lawan, itu
berarti bahwa begitu dia turun tangan harus lebih cepat dari lawannya."

Yap Kay manggut-manggut, ujarnya, "Oleh karena itu maka dia mampu bergerak menundukkan
lawan lebih dulu."
Tiba-tiba Lok Siau-ka mencomot segenggam kacang terus dilempar ke atas. Sekonyongkonyong
pedangnya bekerja. Dimana sinar pedang berkelebat, seolah-olah hanya sekali berkelebat
saja, tahu-tahu pedang sudah terselip di pinggangnya. Sementara kacang-kacang itu berjatuhan
ke telapak tangannya, kacang yang sudah terkupas kulitnya, lebih bersih dari orang mengulitinya
satu per satu. Sedang kulit kacangnya sudah hancur-luluh.
Tiba-tiba seseorang bersorak memuji di luar pintu, sampai pun Yap Kay sendiri ada niat hendak
bersorak memuji. Pedang yang cepat.
Lok Siau-ka menjemput sebutir kacang, diangsurkan ke mulut, katanya dingin, "Menurut
penilaianmu, apakah dia bisa lebih cepat dari aku?"
Sebentar Yap Kay berdiam diri, akhirnya berkata lirih dengan menghela napas, "Aku tidak tahu
... untung aku masih belum tahu."
"Harus disayangkan kacang-kacangku ini."
"Kacang itu tetap kau sendiri yang memakannya."
"Tapi kacang harus satu per satu dikuliti dan sebutir demi sebutir dimakan, baru benar-benar
enak dan nikmat."
"Kalau aku malah lebih suka makan kacang yang sudah dikuliti."
"Sayang sekali kau tak bakal mencicipinya." Dimana tangannya terayun, kacang di tangannya
melesat terbang sambung menyambung, ternyata semuanya melesak amblas ke dalam tonggak
penyanggah rumah.
"Lebih baik kacangmu kau buang daripada dimakan orang?"
"Cewekku pun demikian, lebih baik aku membunuhnya daripada dia dipeluk orang lain."
"Asal yang kau sukai, sekali-kali kau tidak akan meninggalkan untuk dimiliki orang."
"Begitulah!"
"Untung yang menjadi kesukaanmu hanya kacang dan perempuan belaka."
"Aku juga suka uang perak."
"O."
"Karena tanpa uang perak, takkan bisa beli kacang, takkan bisa kau mempunyai cewek."
"Masuk akal, walau banyak benda di dunia ini jauh lebih berharga daripada uang, tapi ada
kalanya benda-benda itu hanya bisa dibeli dengan uang."
Lok Siau-ka tertawa. Tawa yang dingin dan aneh, katanya dingin, "Kau sudah mengoceh
setengah harian, hanya sepatah katamu ini baru mirip ucapan Yap Kay tulen."
0oo0
BAB 22. SEBELUM DAN SESUDAH MEMBUNUH
Tan-toakoan, Thio-losu, Ting-losu, sudah tentu sudah masuk semua, seolah-olah mereka
sedang menunggu petunjuk Lok Siau-ka. Tapi Lok Siau-ka sebaliknya seperti tidak pernah melihat
atau tahu akan kehadiran mereka. Sampai sekarang dia tetap tidak berpaling mengawasi mereka,
namun berkata dingin, "Di sini adakah orang yang mau membayar uang kepadaku?"
"Ada, sudah tentu ada!" Tan-toakoan segera menjawab dengan mengunjuk tawa.
"Apa yang kuinginkan kau bisa melaksanakan seluruhnya?"

"Siau-jin akan berusaha sekuat tenaga."
"Lebih baik kalau kau bekerja sekuat tenaga."
"Silakan memberi petunjuk."
"Aku minta lima kati kacang, kacang goreng, tidak terlalu panas, tapi jangan setengah matang."
Tan-toakoan segera mengiakan.
"Aku minta pula segentong air panas, gentong kayu yang tingginya enam kaki."
Kembali Tan-toakoan mengiakan.
"Siapkan pula dua perangkat pakaian dalam yang serba baru, kain belacu atau kain kaci pun
boleh."
"Dua perangkat?" tanya Tan-toakoan.
"Ya, dua perangkat, seperangkat kuganti untuk membunuh orang, habis membunuh ganti pula
seperangkat yang lain."
"Ya," Tan-toakoan manggut-manggut.
"Kalau kacang-kacang itu ada sebutir saja yang busuk atau rusak, maka tanganmu akan
kutabas kutung, kalau ada dua butir, jiwamu akan tamat."
Dingin bulu kuduk Tan-toakoan, tersipu-sipu dia mengiakan lagi.
Tiba-tiba Yap Kay bertanya, "Kau harus mandi dulu baru akan membunuh orang?"
"Membunuh orang bukan membunuh babi, membunuh orang merupakan tugas suci bersih
yang menyenangkan."
"Orang yang harus kau bunuh memang harus menunggu kau mandi lebih dulu?"
"Dia boleh tidak usah menunggu, aku pun boleh mengutungi kakinya lebih dulu, setelah mandi
baru kucabut jiwanya."
"Tak nyana sebelum kau membunuh orang, masih memerlukan banyak kesulitan."
"Setelah aku membunuh orang masih ada juga kesulitannya."
"Kesulitan apa?"
"Kesulitan yang paling besar."
"Perempuan?"
"Itulah ucapanmu kedua yang pintar!"
"Kesulitan paling besar bagi laki-laki memangnya perempuan, kukira laki-laki yang paling bodoh
pun paham akan hal ini."
"Oleh karena itu maka kau harus menyediakan juga seorang perempuan, perempuan yang
paling baik."
Tan-toakoan ragu-ragu, katanya, "Tapi bagaimana kalau nona baju merah itu kembali datang."
Lok Siau-ka tiba-tiba tertawa, katanya, "Kau kuatir dia cemburu?"
"Bagaimana aku tidak akan takut, batok kepalaku ini kan gampang dikepruk sampai pecah."
"Kau kira dia betul-betul sedang mencari aku?"
"Memangnya bukan kau yang dicari?"
"Bahwasanya selamanya belum pernah aku melihat orang seperti dia itu."
Tan-toakoan melenggong, katanya, "Lalu tadi dia ...."

Lok Siau-ka menarik muka, katanya, "Masakah kau tidak tahu bila dia memang sengaja hendak
mencari gara-gara?" Tan-toakoan melongo.
"Tentu kalian sendiri yang membocorkan kabar ini, dia tahu aku hendak kemari, sengaja
memburu datang lebih dulu."
"Untuk apa dia kemari?"
"Kenapa tidak kau tanya kepada dia?"
Tiba-tiba terpancar rasa takut dalam sorot mata Tan-toakoan, namun kulit mukanya sebaliknya
sedang tersenyum palsu. Senyum palsu ini seolah-olah sudah diukir di kulit mukanya.
0oo0
Toko kain sutra milik Tan-toakoan tidak terhitung besar, tapi di kota kecil di pedalaman yang
jauh dari keramaian kota besar sudah termasuk toko yang paling mentereng.
Sudah tentu toko kainnya hari ini jarang dikunjungi pembeli, maka kedua pembantu tokonya
hari ini kelihatan duduk-duduk saja dengan malas, mereka mengharap hari lekas petang, supaya
lekas pulang, kalau di toko mereka sebagai pelayan, di rumah mereka sebaliknya menjadi juragan.
Tidak lama Tan-toakoan berada di tokonya, begitu pulang lantas pergi pula tergesa-gesa
menuju ke bilangan belakang. Setelah melewati sebuah pekarangan kecil, dia tiba di tempat
tinggalnya sendiri. Selamanya tidak akan pernah terpikir olehnya di pekarangan kecil ini ada
seseorang sedang menunggu kedatangannya.
0oo0
Dalam pekarangan kecil ini terdapat sebatang pohon cemara, Yap Kay sedang berdiri di bawah
pohon ini, katanya dengan tersenyum, "Tidak menduga aku berada di sini?"
Tan-toakoan melengak, segera dia tertawa dibuat-buat, katanya, "Kenapa Yap-kongcu tak
menemani Lok-tayhiap mengobrol? Bukankah kalian tadi bicara begitu asyik?"
"Kacang pun dia tidak mau berbagi kepadaku, perutku sudah kelaparan, seekor kuda pun bisa
ku telan bulat-bulat."
"Aku buru-buru pulang hendak membikin api menggodok air, di dapur masih ada sedikit sisa
makanan, kalau Yap-kongcu tidak merasa ...."
Yap kau lekas menukas, katanya, "Kabarnya Tan-toako pandai memasak sayur, agaknya hari ini
aku beruntung dapat menikmati hidangannya."
Tan-toakoan menghela napas, ujarnya, "Sayang sekali kedatangan Yap-kongcu hari ini tidak
kebetulan, beberapa hari ini dia lagi sakit."
"Lagi sakit?" Yap Kay mengerut kening.
"Sakitnya tidak ringan, sehari-hari rebah saja di ranjang tidak bisa bangun."
Yap Kay tiba-tiba tertawa dingin, katanya, "Aku tidak percaya."
Tan-toakoan kembali melengak, katanya, "Buat apa aku harus membohongi Yap-kongcu?"
"Kemarin dia masih segar-bugar, bagaimana bisa hari ini tiba-tiba jatuh sakit? Ingin aku
menengoknya, dia terserang penyakit apa?" dengan muka bersungut, dia sudah siap menerjang
ke dalam rumah.
Tan-toakoan menundukkan kepala, katanya pelan-pelan, "Kalau demikian biar Cayhe bawa
Yap-kongcu menengoknya." Betul juga dia bawa Yap Kay memasuki ruang tamu terus menuju ke
kamar tidur, pelan-pelan membuka pintu sambil menyingkap kerai.
Cahaya dalam kamar tidur amat guram, kalau tidak mau dikatakan gelap, daun jendela tertutup
rapat, kamar penuh ditaburi asap dupa yang berbau wangi.

Seorang perempuan rebah di atas ranjang menghadap ke arah tembok, rambutnya awutawutan,
tubuhnya ditutup selimut tebal, kelihatannya memang orang sakit.
Yap Kay menghela napas, katanya, "Agaknya aku keliru menyalahkan
kau."
"Tidak menjadi soal," ujar Tan-toakoan tertawa dibuat-buat.
"Cuaca begini panas, kenapa dia masih selimutan? Tak sakit bisa menjadi sakit."
"Mungkin dia terserang malaria, semalam badannya masih gemetar kedinginan meski sudah
kututupi dua lapisan selimut tebal."
Yap Kay tertawa pula, katanya tawar, "Orang mati masakah masih bisa gemetar?" Belum habis
dia bicara, tiba-tiba dia sudah menerjang masuk, terus menyingkap selimut. Warna merah
melambari seluruh badan orang yang kaku dan tertutup selimut. Darah memang berwarna merah!
Badan orang ternyata sudah kaku dingin.
0oo0
Pelan-pelan Yap Kay menutup pula jenazah orang dengan selimut itu, seolah-olah takut kalau
membikin kaget perempuan ini. Dia anggap orang selamanya tidak akan bangun lagi. Yap Kay
menghela napas, pelan-pelan dia berpaling muka.
Tan-toakoan masih berdiri di tempatnya, senyuman dingin dan sadis menghiasi mukanya,
seolah senyuman ini sudah terukir di kulit mukanya.
Kata Yap Kay setelah menghela napas, "Agaknya selamanya aku takkan beruntung menikmati
hidangan Tan-toaso lagi."
"Orang yang sudah mati memang tidak bisa masak lagi," ujar Tan-toakoan dingin.
"Dan kau?"
"Aku bukan orang mati."
"Tapi kau juga patut demikian!"
"O, masa?"
"Karena aku sudah melihatmu di dalam peti mati."
Kelopak mata Tan-toakoan seperti meronta-ronta, roman mukanya tetap tersenyum yang
memang sudah terukir di kulit mukanya.
Kata Yap Kay, "Untuk menyaru jadi Tan-toakoan memang bukan tugas yang sulit, karena orang
itu setiap saat selalu tersenyum palsu, memang mukanya seolah-olah mengenakan kedok."
"Oleh karena itu orang ini pantas mati," jengek Tan-toakoan.
"Tapi betapapun mirip samaranmu, kau tak akan bisa mengelabui bininya, tiada kepandaian
tata rias yang begitu lihai dan misterius di dunia, ini."
"Oleh karena itu bininya itu patut juga dibikin mampus."
"Aku hanya heran, kenapa kalian tidak memasukkan sekalian mayat istrinya ke dalam peti
mati?"
"Kalau ada orang tidur di sisi kan lebih baik, supaya pelayan-pelayan toko tidak curiga."
"Kau tidak mengira bila ada orang lain mencurigai kau?"
"Memang tidak kuduga."
"Oleh karena itu aku pun pantas dibikin mampus."
"Hakikatnya persoalan ini sebenarnya tiada sangkut-pautnya dengan kau."
"Aku mengerti, tujuan kalian hanya untuk menghadapi Pho Ang-soat."

Tan-toakoan manggut-manggut, ujarnya, "Dia memang patut mampus!"
"Kenapa?"
"Kau tidak mengerti?"
"Setiap musuh Ban-be-tong harus mampus?"
Terkancing mulut Tan-toakoan.
"Kalian orang-orang undangan Ban-be-tong?"
Semakin kencang mulut Tan-toakoan. Tapi sekarang jari-jarinya sudah terlepas, semula
tangannya kosong, kini melesatlah segulung sinar dingin bagai hujan deras dari tangannya.
Tepat pada waktu yang sama, dari luar jendela juga melesat masuk setitik sinar bintang
laksana perak, mendadak berpencar laksana kembang bertaburan di pucuk pohon.
Setitik sinar perak mendadak berubah menjadi bintik-bintik kembang yang bertaburan, dimana
sinar-sinar perak itu menyambar, sinarnya yang menyala membuat orang sukar membuka mata
untuk melihatnya.
Tapi pada saat itu pula sebilah pisau kecil tahu-tahu sudah menghujam ke tenggorokan Tantoakoan.
Sampai ajalnya tetap tidak melihat darimana datangnya pisau kecil yang menamatkan
jiwanya.
0oo0
Pisau itu tidak terlihat, namun senjata-senjata gelap itu terlihat dengan jelas. Kalau senjatasenjata
gelap itu kelihatan jelas, tapi bayangan Yap Kay tiba-tiba menghilang tak keruan paran.
Kejap lain, bintik-bintik sinar perak yang bertaburan di dalam kamar pun mulai mereda dan
kuncup seluruhnya. Bayangan Yap Kay tetap tidak kelihatan.
Angin menghembus di luar jendela, namun sudah tidak terdengar lagi dengus napas di dalam
kamar. Lama berselang, mendadak sebuah tangan pelan-pelan mendorong daun pintu, sebuah
tangan yang elok, jari-jarinya panjang, kukunya juga terpelihara dengan baik. Tapi lengan bajunya
justru amat kotor, kumal, dekil berminyak lagi.
Tangan ini terang bukan tangan Thio-losu, namun lengan baju itu adalah lengan baju Thio-losu,
seraut wajah tiba-tiba menongol masuk, itulah muka Thio-losu. Dia tetap tidak melihat bayangan
Yap Kay, namun dia melihat pisau di tenggorokan Tan-toakoan.
Mendadak jari-jarinya mengejang. Tahu-tahu tenggorokannya sendiri pun mendadak tertusuk
sebilah pisau kecil. Sampai ajal dia tetap tidak melihat pisau ini.
0oo0
Pisau yang sudah menancap di tenggorokan orang lain sudah tentu tidak berbahaya lagi sudah
tentu dia bisa melihatnya dengan jelas. Sayang sekali, dia hanya melihat pisau yang itu saja.
Apa benar hanya pisau yang tidak kelihatan baru benar-benar menakutkan?
Seenteng asap melayang Yap Kay meluncur dari atas langit-langit rumah, terlebih dulu dia
jemput masing-masing satu macam senjata rahasia, dua batang senjata rahasia tergenggam di
tangannya, baru pelan-pelan dia mencabut pisaunya sendiri. Dengan nanar dia awasi pisaunya
sendiri, sikap dan mimik wajahnya tiba-tiba jadi serius, begitu seriusnya seolah-olah dia amat
segan dan menghormatinya.
"Aku pasti tidak akan menyuuruh kau membunuh orang yang tidak pantas mampus, aku
berjanji, orang-orang yang kubunuh adalah manusia yang memang pantas menemui ajalnya."
0oo0

Song-lopan atau juragan Song sudah membuka mata.
Dalam kamar hanya ada dua orang, keduanya tidur di atas ranjang, salah seorang perempuan
tidur menghadap ke dalam tembok, cara tidurnya mirip dengan istri Tan-toakoan, cuma rambut
kepalanya sudah ubanan.
Memang usia mereka suami istri sudah cukup lanjut. Setelah dalam kamar itu terdengar suara
orang ketiga, kedua biji mata juragan Song baru terpentang lebar. Yang pertama-tama dilihatnya
adalah sebuah tangan. Di antara jari-jari tangan ini terdapat dua benda yang aneh, sebuah mirip
dengan duri rumput liar di tengah pegunungan, sebuah yang lain seperti kelopak kembang yang
terbuat dari air raksa. Waktu dia mengangkat kepalanya, baru dilihatnya Yap Kay.
Karena inipun guram, namun kedua biji mata Yap Kay justru terang laksana dua pelita, kedua
pelita tajam ini sedang menatap dirinya, katanya, "Kau tahu apakah ini?"
Juragan Song geleng-geleng kepala, sorot matanya memancarkan keheranan dan ketakutan,
lehernya pun serasa kaku.
"Inilah senjata rahasia."
"Senjata rahasia?"
"Senjata rahasia adalah senjata yang dapat membunuh orang secara menggelap."
Entah mengerti atau tidak penjelasan ini, yang terang juragan Song manggut-manggut.
"Kedua macam senjata rahasia ini masing-masing dinamakan Ngo tok-ji-ih-bong dan Hwe-jigin-
hoa, keduanya adalah senjata rahasia tunggal milik Hoa Hong (tawon kembang) dan Phoa
Ling."
Juragan Song menjilati bibirnya yang kering, katanya tertawa dibuat-buat, "Nama besar
Tayhiap ini belum pernah kudengar."
"Mereka bukan Tayhiap."
"Bukan?"
"Mereka adalah maling rendah yang paling kotor, maling pemetik bunga (tukang perkosa)."
Sampai di sini Yap Kay menarik muka, katanya lebih lanjut, "Selamanya aku menghargai jiwa
orang lain, tapi orang-orang kotor dan rendah seperti mereka menjadi kekecualian bagiku."
"Aku tahu, tiada orang yang tidak membenci maling cabul."
"Tapi mereka adalah lima aliran terendah yang paling suka menggunakan senjata rahasia
jahat."
"Lima orang maksudmu?"
"Kelima orang ini dijuluki Kangouw-ngo-tok (lima racun dari Kangouw), kecuali orang yang
kusebut tadi, masih ada tiga orang lagi yang lebih jahat dan berbisa."
"Apakah kelima orang ini sama-sama sudah datang?"
"Mungkin satu pun tiada yang ketinggalan."
"Kapan sih mereka datang?"
"Kemarin lusa, yaitu pada waktu ada orang membawa peti-peti mati itu kemari."
"Kenapa aku tidak melihat adanya lima orang asing yang datang ke kota kecil ini?"
"Yang datang pada hari itu bukan hanya kelima orang ini saja, cuma mereka semua
bersembunyi di dalam peti mati, maka tiada orang dalam kota ini yang melihat mereka."
"Si Bungkuk itu mengantar peti mati kemari, apakah tujuannya hendak mengangkut pula
orang-orang itu kemari?"
"Mungkin demikian."

"Apakah sekarang mereka masih bersembunyi dalam peti mati?" "Sekarang peti-peti mati itu
sudah berisi mayat-mayat tulen."
"Jadi mereka sudah mampus semuanya," juragan Song menghela napas lega.
"Sayang sekali bukan mereka yang mampus, semuanya orang lain." "Bagaimana mungkin bisa
orang lain?"
"Karena waktu mereka keluar, lalu mengganti orang lain masuk kesana "
"Siapa saja yang menggantikan mereka?"
"Sekarang aku baru tahu Hoa Hong adalah Tan-toakoan, Phoa Ling menggantikan Thio-losu."
"Mereka ... cara bagaimana mereka menukar diri?"
"Di dunia ini ada seorang, sebenarnya dia ahli di bidang tata rias."
"Siapa?"
"Sebun Jun."
Juragan Song mengerut kening, katanya, "Siapa pula gerangan Sebun Jun? Kenapa selamanya
tidak pernah kudengar?"
"Sekarang aku juga ingin tahu siapa sebenarnya dia itu, tapi cepat atau lambat, akhirnya aku
pasti berhasil menemukannya "
"Menurut katamu dia bikin Hoa Hong menyaru jadi Tan-toakoan, Phoa Ling menyaru jadi Thiolosu?"
Yap Kay manggut-manggut, katanya, "Sayang sekali betapapun tinggi teknik dan ahlinya
seseorang menggunakan tata riasnya, dia tidak akan bisa mengelabui sanak-kadangnya sendiri,
oleh karena itu orang pertama yang terpilih oleh mereka adalah Thio-losu."
"Kenapa?"
"Karena bukan saja Thio-losu tidak punya sanak-kadang, dia pun tidak punya teman, apalagi
jarang mandi, orang yang berani bergaul dan berdekatan dengannya memangnya tidak banyak
jumlahnya "
"Oleh karena itu umpama dia berubah apa pun, takkan ada orang yang memperhatikan."
"Sayang sekali, orang-orang seperti Thio-losu dan Ting-losu di dalam kota kecil ini hanya ada
beberapa orang saja."
"Kenapa mereka memilih juga Tan-toakoan?"
"Karena dia yang mau mendekatinya."
"Tapi dia kan punya istri."
"Maka istrinya itu harus mampus."
Juragan Song geleng-geleng kepala, "Itulah yang dinamakan menutup pintu duduk di dalam
rumah, bencana datang dari langit."
Dengan menghela napas, dia bergerak hendak duduk, tapi Yap Kay lantas menekan pundaknya,
katanya, "Aku sudah banyak menceritakan kejadian ini kepadamu, maka ada sebuah pertanyaan
ingin juga kutanyakan kepadamu."
"Silakan berkata."
"Bahwa Thio-losu ternyata adalah Phoa Ling dan Tan-toakoan alias Hoa Hong, lalu kau siapa?"
Juragan Song melenggong, katanya tergagap, "Aku she Song, dipanggil Song-toaya, namun
belakangan jarang ada orang memanggil namaku."

"Apakah karena semua orang tahu bahwa kau ini bangkotan licin dan licik, maka tiada orang
mencari perkara dan bergaul dengan kau."
Juragan Song tertawa dipaksakan, katanya, "Untung sekali mereka belum mengincar diriku
untuk menjadi duplikat mereka "
"O? Masa?"
"Kupikir, Yap-kongcu tentu tidak beranggapan aku inipun samaran palsu."
"Kenapa bukan?"
"Istri tuaku ini sudah hidup puluhan tahun bersamaku, memangnya dia tidak bisa membedakan
aku ini tulen atau palsu?"
"Kalau dia memang sudah menjadi mayat, sudah tentu takkan bisa membedakan dirimu."
"Memangnya kau kira aku sudi tidur seranjang dengan sesosok mayat?"
"Perbuatan apa saja yang tidak pernah kalian lakukan? Jangan kata hanya orang mati, umpama
mayat seekor anjing ...." belum dia bicara habis, nenek ubanan yang tidur di bagian dalam ranjang
tiba-tiba menghela napas panjang sambil menggeliat membalik badan. Kata-kata Yap Kay tidak
diteruskan lagi.
Orang mati sedikitnya tidak mungkin bisa menggeliat, terdengar pula nenek ubanan ini
mengigau seperti bicara apa-apa di alam mimpinya ... orang mati sudah tentu tidak bisa
mengigau.
Tangan Yap Kay sudah ditarik mundur.
Terpancar sinar puas dan senang pada sorot mata juragan Song, katanya, "Perlahan Yapkongcu
membangunkan dia, boleh kau tanya langsung kepadanya."
Terpaksa Yap Kay menyeringai kikuk, katanya, "Tidak usahlah!"
Akhirnya juragan Song bangun berduduk, katanya tertawa, "Kalau begitu silakan Yap-kongcu
duduk di ruang tamu untuk menikmati secangkir teh."
"Ah, bikin repot saja, tidak usahlah!" seperti tidak enak tinggal lama-lama lagi di situ, dia sudah
siap hendak tinggal pergi, siapa tahu mendadak juragan Song mencengkeram lengan nenek
ubanan itu terus diangkatnya dan dilempar ke arah Yap Kay.
Sudah tentu perbuatannya ini amat di luar dugaan, baru saja Yap Kay kebingungan, apa perlu
dia mengulur tangan menyambut lemparan badan orang. Pada saat itu pula, dari dalam selimut
tadi mendadak menyembur keluar segulung asap tebal.
Asap tebal yang berwarna ungu muda itu seolah-olah kabut pagi yang ditimpa sinar surya di
waktu fajar baru menyingsing, begitu indah dan menakjubkan.
Baru saja Yap Kay menyanggah badan nenek ubanan itu, terus diangsur kembali ke atas
ranjang, namun dia sendiri sudah terselubung di dalam kabut ungu yang tebal itu.
Mengawasi orang, sorot mata Song-lopan menyorotkan rona sadis dan bengis, dia tunggu
orang roboh di bawah kakinya
0oo0
Ternyata Yap Kay tidak roboh seperti yang diharapkan. Setelah kabut tebal itu sirna, juragan
Song masih tetap melihat sinar mata Yap Kay tetap terang menyala.
Sungguh merupakan suatu keajaiban. Siapa pun asal mengendus sedikit Hoa-kut-ciang,
manusia besi pun akan menjadi lumpuh tak bertenaga lagi. Sekujur badan juragan Song menjadi
kaku mengejang karena dijalari rasa takut yang mencekam sanubarinya.

Yap Kay balas mengawasinya, katanya pelan-pelan dengan menghela napas, "Ternyata
memang kau."
"Kau sudah tahu siapa aku sebenarnya?"
"Kalau tidak tahu, sekarang aku sudah roboh terkapar."
"Jadi sebelum kemari kau sudah siap siaga?"
"Bahwa aku sudah bicara panjang lebar dengan kau, sudah tentu kau tidak akan membiarkan
aku berlalu demikian saja, jika tidak siap sedia, masakah aku berani meluruk kemari?"
Juragan Song mengertak gigi, katanya, "Tapi aku tak habis mengerti cara bagaimana kau
mampu melawan kekuatan Hoa-kut-ciang."
"Kau boleh memikirkannya sendiri."
Bersinar lagi biji mata Song-lopan.
"Asal kau mau membeberkan siapa yang merias dirimu, mungkin kau masih bisa berpikir
sepuluh atau dua puluh tahun."
"Kalau tidak kukatakan?"
"Kalau begitu selamanya kau takkan punya kesempatan untuk berpikir lagi."
Song-lopan menatapnya, katanya dingin, "Mungkin hakikatnya aku tidak perlu berpikir, mungkin
aku pun bisa memaksa kau mengatakan."
"Sedikit kesempatan pun kau sekarang tiada lagi”ancam Yap Kay.
"O."
"Asal tanganmu bergerak, seketika aku bisa membikin kau mampus di atas ranjang," tutur
katanya lemah lembut, namun nadanya mengandung keyakinan yang menggiriskan orang yang
diancam, siapa pun tak berani untuk tidak mempercayai ancaman ini.
Kata Song-lopan dengan menghela napas, "Sebetulnya siapakah kau, aku tidak tahu, tapi aku
percaya kepadamu."
"Aku tanggung kau tidak akan kecewa," ujar Yap Kay tertawa.
"jika tidak kubeberkan, selamanya kau tidak akan tahu siapa ...." kata-katanya tidak sempat
habis diucapkan. Sekonyong-konyong sekujur badannya tiba-tiba gemetar dan mengejang, sorot
matanya berubah jadi kelabu lalu hitam, mirip benar dengan dua pelita yang tiba-tiba padam
karena kehabisan minyak.
Sebat sekali Yap Kay menerjang maju. Maka dilihatnya sebatang jarum menancap di atas
jidatnya. Sebarang jarum yang berwarna hijau keputihan.
Toh-popo turun tangan lagi! Ternyata dia memang belum mati
Dimanakah dia? Apakah dia menyamar jadi istri juragan Song ini? Tapi nenek ubanan ini terang
sudah lumpuh, napasnya pun berhenti, memangnya Hoa-kut-ciang tidak bisa dilawan oleh siapa
pun seperti keadaan Yap Kay sekarang.
Darimana Toan-yang-ciam ini ditimpukkan? Waktu Yap Kay angkat kepala, maka dilihatnya
sebuah pintu angin di langit-langit rumah, daun pintunya sudah tersingkap terbuka.
Dia tidak segera menerjang naik ke atas. Dia cukup tahu macam apa sebenarnya senjata
rahasia seperti Toan-yang-ciam itu.
Darimana tadi dia masuk ke kamar tidur ini, sekarang dari sana pula dia keluar. Karena dia tahu
jalan yang ditempuhnya ini paling aman.
0oo0

BAB 23. BUNYI KELINTINGAN
Di bilangan luar tembok terdapat pula sebuah pekarangan kecil.
Waktu Yap Kay mengundurkan diri dan keluar dari pintu, sinar surya masih tetap cermelang,
seekor kucing tengah mengawasi seekor kupu-kupu yang sedang menari-nari di atas rumput
kembang di pojok tembok sana. Ingin menangkapnya, tapi agaknya malas bergerak.
Sudah tentu tiada bayangan seorang pun di atas rumah.
Yap Kay tahu di atas rumah pasti takkan bisa menemukan bayangan orang, sudah tentu Tohpopo
tidak begitu goblok masih menunggunya di atas sana.
Tiba-tiba dia menghela napas, dia merasakan dirinya mirip dengan kucing jantan itu, dikiranya
asal dirinya mau turun tangan, dengan mudah akan bisa menangkap kupu-kupu itu.
Sebetulnya umpama kucing itu tidak malas, tetap dia tidak akan bisa menangkap kupu-kupu
itu. Kupu-kupu bukan tikus, kupu-kupu bisa terbang.
0oo0
Kupu-kupu terbang lebih tinggi, sekonyong-konyong sepasang tangan terulur masuk dari luar
tembok, "Plak", kupu-kupu itu tahu-tahu sudah terjepit di antara kedua telapak tangannya.
Kupu-kupu menghilang, tangan itupun lenyap. Tapi di atas tembok tahu-tahu duduk seseorang.
Di luar tembok ternyata adalah sebuah sawah ladang yang sudah lama telantar, entah yang
ditanam di sana gandum atau kapuk. Di tanah tandus seperti ini, tanaman apa pun yang kau
tanam di sini, pasti tidak akan menghasilkan panen yang memuaskan, tapi toh tanah di sini tetap
dicangkul dan ditanami apa saja yang bisa tumbuh. Itulah kehidupan.
Semua orang harus hidup, setiap orang harus berdaya-upaya untuk hidup.
Di tengah-tengah ladang telantar ini terdapat sebuah bangunan rumah kecil yang bobrok,
penghuninya adalah keluarga yang paling muskin di tanah tandus yang serba kekurangan ini.
Maka anak-anak kecil yang tumbuh dan dilahirkan dari rumah kecil reyot ini, semuanya memiliki
roman muka yang pucat hijau seperti warna sayur.
Akan tetapi anak betapapun tetap anak. dia tetap tumbuh menjadi dewasa dengan riang dan
lincah.
Saat itu kebetulan ada tujuh delapan anak-anak tengah berjajar membundar berdiri
mengelilingi pohon dengan membelalakkan mata mengawasi seseorang yang duduk di bawah
pohon.
Yap Kay yang sedang duduk di atas tembok pun sedang mengawasi orang ini. Orang ini
memiliki raut muka bundar, biji mata yang besar, kulit badannya putih laksana salju, kalau tertawa
tampak lesung pipit pada kedua pipinya.
Perempuan ini belum terhitung amat cantik, tapi tak usah disangsikan bahwa dia ini seorang
gadis elok yang lincah dan Jenaka.
Waktu itu dia mengenakan gaun panjang warna putih yang terbuat dari kain halus dan lemas
semampai, di atas lehernya yang jenjang dan putih itu mengenakan kalung gelang warna kuning
yang terbuat dari emas, pada kalung gelang emas ini tergantung pula dua buah kelintingan emas.
Kedua tangannya masing-masing juga mengenakan gelang bundar emas, di atas gelang
tangannya itupun tergantung masing-masing dua kelintingan emas, bila angin menghembus,
kelintingan yang tergantung di badannya itu lantas bersuara nyaring dan merdu.
Tapi tadi dia tidak berpakaian seperti ini, tadi dia mengenakan seperangkat pakaian serba
merah yang kebesaran. Kalau tadi dia berdiri di atas tiang bendera, sekarang dia duduk di bawah
pohon. Di hadapannya menyanding sebuah meja kayu yang sudah hampir rusak, di atas meja
pendek ini tertata sebuah anak-anakan kecil terbuat dari tanah liat yang mengenakan pakaian
merah, sebuah medali perak yang diukiri kembang, sebuah mainan kalung dari batu akik, sebuah

rantai yang berwarna-warni, sepasang dompet yang bersulam daun dan kembang teratai, sebuah
sangkar burung dan sebuah tempayan ikan. Kupu-kupu yang baru saja dia tangkap juga berjajar
di antara barang-barang itu.
Siapa pun takkan tahu darimana gadis ini membawa barang-barang itu kemari. Anehnya, di
dalam sangkar burung itu terdapat sepasang burung kenari, demikian pula di tempayan itu
terdapat beberapa ekor ikan mas.
Anak-anak yang mengelilingi dan mengawasinya itu, seolah-olah sedang mengawasi bidadari
yang baru saja turun dari kahyangan.
Gadis itu bertepuk tangan, lalu katanya tertawa, "Baik, sekarang kalian boleh berbaris, satu per
satu maju ke depan memilih barang, tapi satu orang hanya boleh mengambil satu, yang tamak
dan nakal akan kuhajar pantatnya."
Anak-anak itu ternyata amat patuh dan mendengar aba-abanya. Anak pertama beranjak maju,
setengah harian matanya terbelalak mengawasi barang-barang di depannya, sekian lama dia
menjublek, karena semua barang-barang yang terpampang di depannya belum pernah dilihatnya,
boleh dikata dia sudah kabur dan bingung melihatnya, tapi akhirnya dia toh memilih medali perak
itu.
Anak kedua memilih sepasang burung kenari.
Gadis cantik bermata besar itu berkata dengan tertawa, "Bagus, pilihan kalian baik sekali, kelak
pasti bisa belajar berdagang, yang lain bisa belajar sekolah dan jadi penyair yang kenamaan."
Kedua anak itu tertawa lebar, tertawa riang gembira.
Anak ketiga adalah perempuan, yang dia pilih adalah dompet bersulam itu.
Anak keempat berusia paling kecil, ingusnya masih meleleh keluar, sekian lama dia celingukan
pilih sana-sini, akhirnya dia memilih kupu-kupu mati itu.
Gadis itu mengerut alis, katanya, "Kau tahu apakah ini?"
Anak itu manggut-manggut, sahutnya, "Kupu-kupu yang telah mati."
"Tahukah kau barang yang lain lebih bagus dari kupu-kupu mati ini?"
Anak itu manggut-manggut.
"Kenapa tidak kau pilih lain barang, kenapa kau ambil kupu-kupu mati ini?"
Anak itu menyeka ingusnya dengan tangan, sahutnya ragu-ragu, "Karena bila aku memilih
barang yang lain, mereka pasti mencari akal untuk merebutnya, aku tidak unggulan berkelahi
dengan mereka, barang yang tidak baik ini pasti tidak akan direbutnya, aku bisa bermain beberapa
hari dengan aman dan tenteram."
Gadis mata besar mengawasinya, tiba-tiba tertawa, katanya, "Tak kukira kau bocah sekecil ini
sudah begini pintar."
Merah muka anak itu, dia menundukkan kepala.
Kata gadis itu sambil mengedip mata, "Aku kenal satu orang, cara berpikirnya boleh dikata
persis dengan kau."
Tak tahan tanya anak itu, "Dia pun bukan tandingan orang lain?"
"Dulu dia selalu kalah melawan orang, maka dia pun seperti kau, selalu rela diri sendiri yang
rugi dan menderita."
"Belakangan bagaimana?"
"Lantaran itu maka dia giat mempelajari ilmu dan kepandaian, sekarang tiada orang yang
berani melawannya lagi."

Anak itu tertawa senang, katanya, "Sekarang semua barang yang baik pasti sudah menjadi
miliknya."
"Benar, oleh karena itu bila kau ingin memiliki barang-barang baik, maka kau harus belajar
seperti dia, kejarlah ilmu dan tuntutlah kepandaian, kau paham?"
"Aku tahu, seseorang bila tidak ingin dihina dan dianiaya orang, maka dia sendiri harus punya
kepandaian."
"Benar sekali," puji si gadis, lalu dari tangannya dia menanggalkan sebuah kelintingan emas,
katanya, "Nih kuberikan kepadamu, jika ada orang merebut milikmu ini, laporkan kepadaku, biar
kuhajar pantatnya."
Ternyata anak itu geleng-geleng kepala, katanya, "Sekarang aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena kau pasti akan pergi, kalau kuterima, cepat atau lambat toh bakal mereka rebut, kelak
bila aku sudah punya kepandaian, sudah tentu aku bakal memiliki banyak barang."
"Bagus," seru gadis itu bertepuk tangan, "Kau bocah ini kelak pasti jempolan."
"Apakah aku bisa menyerupai temanmu itu?" tanya si anak dengan berkedip-kedip mata.
"Betul sekali," sahut si gadis, tiba-tiba dia membungkukkan badan mencium pipi si anak kecil
mungil ini.
Dengan muka merah bocah ini segera berlari pergi, tapi beberapa langkah kemudian dia
berhenti dan berpaling, tanyanya pula, "Orang yang mengejar ilmu dan menuntut kepandaian itu
siapa namanya?"
"Kenapa kau tanyakan namanya?"
"Karena aku akan belajar seperti dia, maka namanya harus kuukir dalam sanubariku."
Berkedip-kedip mata si gadis, sahutnya lembut, "Baik, kau ingat, dia she Yap dan bernama
Kay."
0oo0
Akhirnya bocah-bocah itu berlalu seluruhnya.
Gadis itu menggeliat dan memuntir pinggang, badannya menggelendot ke batang pohon di
belakangnya, sepasang matanya yang besar dan bening tengah mengerling ke arah Yap Kay.
Yap Kay sedang tersenyum simpul.
Kata si gadis dengan mengerling penuh arti, "Apa yang kau banggakan? Aku hanya menyuruh
setan kecil yang masih ingusan untuk belajar seperti dirimu saja."
"Sebetulnya dia lebih patut kalau belajar seperti kau."
"Apaku yang harus dia pelajari?"
"Asal melihat barang baik, ambil dulu urusan belakang, peduli akhirnya direbut orang atau
tidak?"
Gadis itu menggigit bibir, melotot kepadanya, lama juga baru dia berkata pelan-pelan, "Tapi
kalau memang barang yang kusukai, umpama ada orang berani merebutnya, cepat atau lambat
aku pasti akan merebutnya kembali, merebutnya kembali meski harus mempertaruhkan jiwa dan
raga."
Yap Kay tertawa getir, katanya menghela napas, "Tapi barang apa saja yang sudah diincar dan
disenangi oleh Ting-toasiocia, memangnya siapa yang berani merebutnya?"
Gadis itu tertawa cekikikan, katanya tersenyum lebar, "Mereka tidak datang merebutnya,
terhitung nasib mereka yang mujur." Saking gelinya dia tertawa terpingkal-pingkal, semua
kelintingan di badannya sampai tergoncang dan berbunyi nyaring.

Dia atau gadis mata besar ini bernama Ting Hun-pin. Maka kelintingan di badannya itupun
dinamakan kelintingan milik Ting Hun-pin.
0oo0
Kelintingan Ting Hun-pin ini bukanlah barang mainan seperti mainan umumnya, barang mainan
ini tidak boleh dibuat main-main dengan sembarangan.
Bukan saja barang mainan ini tidak lucu dan menggelikan, malah boleh dikata amat
menakutkan.
Sebetulnya orang-orang persilatan di Kangouw boleh dikata jeri dan ketakutan menghadapi
kelintingan milik Ting Hun-pin ini.
Tapi Yap Kay terang tidak perlu menakutinya. Seolah-olah tiada sesuatu di dunia ini yang bisa
membuatnya takut.
Setelah tertawa Ting Hun-pin lantas mengawasinya dengan mendelik, serunya, "Hai, kau sudah
lupa belum?"
"Lupa apa?" tanya Yap Kay.
"Urusan yang kau minta agar aku mewakilkan kau menyelesaikan itu, jelek-jelek aku sudah
menyelesaikan tugasku dengan baik."
"O, soal tugas apa?"
"Kau suruh aku menyaru jadi Lok Siau-ka, untuk menyelidiki asal-usul orang-orang itu."
"Agaknya kau tidak berhasil mencari tahu siapa mereka sebenarnya."
"Hal ini tidak boleh kau salahkan aku."
"Tidak salahkan kau, memangnya harus menyalahkan siapa?"
"Salahmu sendiri, kau sendiri yang bilang dia tidak akan datang begitu cepat."
"Pernah aku bilang demikian?"
"Kau malah bilang, umpama dia sudah datang, kau pun takkan dirugikan."
"Memang kau agaknya tidak dirugikan."
"Tapi kapan aku pernah dibuat malu oleh orang demikian?"
"Siapa suruh kau tidak mau bekerja dengan baik. pintarmu hanya menyalahi orang lain melulu."
Tiba-tiba biji mata Ting Hun-pin mendelik bundar lebih besar dari kerlingannya, serunya keras,
"Orang lain? Siapa orang lain yang kau maksud? Memangnya apa hubunganmu dengan dia?
Sampai sekarang kau masih bicara membelanya?"
Yap Kay geleng-geleng dengan tertawa getir, "Paling tidak dia toh tidak berbuat salah
kepadamu."
"Meski dia tidak salah kepadaku, tapi melihat dia berdiri di sampingmu, aku merasa terlalu
menyolok pandangan." Orang lain pasti mengira dia sedang cemburu kepada Lok Siau-ka, siapa
tahu ternyata lantaran Yap Kay. Jadi kata-kata yang dilontarkan kepada Lok Siau-ka tadi,
hakikatnya dia tujukan kepada Yap Kay.
Dengan melotot dan bertolak pinggang, sikapnya lebih garang, katanya pula, "Sudah tiga bulan
lebih aku mengejarmu, dengan susah-payah baru kutemukan kau di sini, kau minta aku menyaru
jadi malaikat meniru setan, aku pun menurut saja, dalam hal apa kurang memuaskan hatimu,
hayo katakan!"
Apa pula yang masih bisa dikatakan oleh Yap Kay?

Dengan jengkel Ting Hun-pin membanting kaki, begitu kakinya bergerak suara kelintingan
segera berdenting, jadi kakinya pun ada kelintingan, tapi kata-katanya lebih cepat dan lebih
nyaring dari suara kelintingannya.
Umpama Yap Kay ada maksud hendak bicara, dia toh tiada kesempatan untuk bicara.
"Kutanya kau, terang kau hendak menghadapi Ban-be-tong. kenapa membantu putrinya juga?
Sebetulnya budak itu punya hubungan rahasia apa dengan kau?"
"Hubungan apa pun tiada," sahut Yap Kay.
"Baik, kau sendiri yang bilang, kalau kalian tiada hubungan apa-apa. biar sekarang juga kuluruk
dia dan membunuhnya." Setiap patah kata yang pernah diucapkan oleh Ting-toasiocia, selamanya
pasti dilaksanakan.
Tersipu-sipu Yap Kay melompat turun, katanya sembari mencegah dan mengalinginya, "Entah
berapa banyak gadis-gadis yang pernah kukenal memangnya kau hendak membunuh mereka
semua?"
"Aku hanya bunuh yang satu ini?"
"Kenapa?"
"Aku senang."
"Baiklah, sebetulnya apa kehendakmu atas diriku?"
"Aku ingin kau apa? Memangnya apa yang kuinginkan lantas kau mau menurut?"
"Asal apa yang kau minta masuk akal dan tidak kelewat batas, apa pun keinginanmu pasti
kupenuhi."
"Apa benar?"
"Ehm!"
Berputar biji mata Ting Hun-pin, katanya, "Pertama, aku ingin selanjutnya kemanapun kau
pergi, jangan kau tinggalkan aku."
"Ehm, baik!"
Biji mata Ting Hun-pin yang besar menyipit, dengan memicingkan mata dia mengawasi Yap
Kay, sementara barisan giginya yang putih seperti biji mentimun itu menggigit bibir, katanya
sambil mengerling, "Masih ada, kau harus menggandeng tanganku, berjalan-jalan satu putaran di
dalam kota, supaya penduduk kota tahu aku adalah ... adalah temanmu, kau mau tidak?"
Yap Kay menghela napas, katanya dengan kecut, "Jangan kata hanya menggandeng tanganmu,
umpama aku harus menggandeng kakimu pun tiada halangannya."
Ting Hun-pin tertawa riang. Bila dia tertawa, kelintingan di badannya segera berbunyi nyaring,
senyaring suara cekikik tawanya.
Tatkala itu segulung angin sedang menghembus, terasa sepoi-sepoi, hawa segar dan nyaman.
Dalam keadaan seperti ini, suara kelintingan Ting Hun-pin kedengarannya sungguh amat
mengasyikan.
0oo0
Terik matahari.
Bumi seolah-olah dipanggang menjadi panas dan merekah, sepanas roti yang baru dikeluarkan
dari tungku panggangan.
Be Hong-ling sedang mengeprak kudanya sekencang-kencangnya, membedal di padang
rumput.
Padang rumput nan luas, langit cerah tak berujung pangkal.

Butiran keringat berderet-deret mengalir turun laksana mutiara melalui ujung hidungnya,
bertetesan, seluruh badannya seolah-olah sedang dipanggang di atas tungku. Hakikatnya dia tidak
tahu sekarang dirinya hendak menuju kemana. Sampai sekarang baru dia benar-benar meresapi
betapa dirinya harus dikasihani mendadak timbul rasa iba dan simpatik terhadap keadaan dirinya
yang serba kasihan.
Walaupun dia punya rumah, tapi tiada seorang pun keluarga di rumahnya yang betul-betul mau
memahami dirinya. Sim Sam-nio tinggal pergi, sekarang ayahnya menghilang entah kemana.
Bagaimana dengan teman-teman? Tiada seorang pun yang menjadi temannya, para gembala
kuda itu terang bukan, Yap Kay ... lebih baik kalau Yap Kay mampus saja.
Mendadak dia menyadari bahwa dirinya seolah-olah sebatangkara di dunia ini, tiada seorang
pun yang menjadi saudaranya lagi. Perasaan yang mencekam sanubarinya ini boleh dikata hampir
membuatnya gila.
0oo0
BAB 24. TERIK MATAHARI MENYINARI PANJI SAKTI
"Koan-tang-ban-be-tong!"
Bendera besar yang bertuliskan kelima huruf menyolok ini berkibar-kibar dengan megahnya di
tengah angkasa.
Jika kau berdiri di padang rumput, melihatnya dari kejauhan, ada kalanya kau akan merasa
mirip sepasang kekasih yang harus berpisah, sedang melambaikan sapu tangan di kejauhan.
Kelima huruf besar yang menyolok dengan warna merah itu, mirip benar dengan cucuran darah
sang kekasih.
Air mata dan darah.
Bukankah kelima huruf menyolok itu hasil dari sulaman air mata dan darah.
Saat itu berdiri seseorang di tengah padang rumput, diam-diam mengawasi bendera besar yang
berkibar-kibar ini. Perawakannya rada kurus tapi kekar dan kuat, namun seolah-olah membawa
gambaran sunyi dan sebatangkara.
Langit membiru, rumput tumbuh subur menjulang tinggi, dia berdiri di sana, mirip sebatang
pohon yang tumbuh dengan kekar dan kuat di padang rumput. Pohon pun kuat dan kekar,
sebatangkara pula. Entahlah apakah pohon itu juga merasa menderita dan dendam seperti
perasaan yang bergejolak dalam benaknya.
Be Hong-ling dari kejauhan sudah melihatnya, melihat golok hitam di tangannya. Bayangan
orang yang samar-samar, golok yang membawa firasat jelek.
Tapi begitu Be Hong-ling melihatnya, dalam lubuk hatinya yang paling dalam tiba-tiba timbul
rasa hangat yang tak bisa diutarakan, seolah-olah baru saja secangkir arak pahit yang keras dan
panas dia tuang ke dalam tenggorokannya. Semestinya tidak pantas dia punya perasaan seperti
ini.
Seorang yang tidak sebatangkara, bila melihat seorang lain yang sebatangkara, perasaan
seperti itu kecuali dirinya sendiri, siapa pun tidak akan bisa menyelaminya.
Tanpa banyak pikir, dia keprak kudanya menuju ke arah orang.
0oo0
Seolah-olah Pho Ang-soat tidak merasakan kedatanganya, paling tidak berpaling melihat ke
arahnya.

Be Hong-ling melompat turun dari punggung kuda, berdiri di belakang orang, dia pun
mengawasi bendera besar itu, di kala hembusan angin berlalu, kupingnya dengan jelas dapat
mendengar napas Be Hong-ling yang tersengal-sengal.
Angin sepoi-sepoi saja.
Terik panas matahari terasa membara sehingga hembusan angin terasa tertekan, sehingga
kekuatan angin amat lemah, tapi bendera masih kuasa dihembusnya sampai berkibar-kibar.
Tiba-tiba Be Hong-ling berkata, "Aku tahu apa yang tengah kau pikirkan."
Pho Ang-soat tak mendengar, dia menolak untuk mendengarkan.
Be Hong-ling berkata pula, "Dalam hatimu tentu sedang berpikir, akan datang suatu hari aku
pasti akan membacok roboh bendera ini."
Bibir Pho Ang-soat terkancing rapat, dia pun menolak untuk berbicara. Tapi dia tidak bisa
melarang Be Hong-ling berpidato, katanya dingin, "Tapi selamanya kau takkan mampu
merobohkannya. Untuk selamanya!"
Punggung tangan Pho Ang-soat yang menggenggam golok semakin kencang sampai otot-otot
hijau merongkol keluar.
"Oleh karena itu," kata Be Hong-ling lebih lanjut, "kuberi nasehat kepadamu, lebih baik kau
lekas menyingkir, semakin jauh kau pergi semakin baik."
Pho Ang-soat tiba-tiba membalik badan, menatapnya tajam. Sorot matanya seolah
memancarkan bara, seolah-olah hendak membakarnya menjadi hangus. Lalu berkatalah dia
dengan tandas dan tegas, "Kau tahu yang hendak kubacok roboh bukan bendera itu, tapi adalah
batok kepala Be Khong-cun!" Kata-katanya setajam golok.
Tanpa disadari Be Hong-ling menyurut mundur dua langkah, tapi suaranya malah lebih keras,
"Kenapa kau harus membencinya begitu rupa?"
Tiba-tiba Pho Ang-soat tertawa, barisan giginya yang memutih tampil ke depan, tawa seringai
yang lebih mirip binatang buas yang sedang marah. Siapa pun melihat tawa seperti ini, pasti akan
merasakan betapa besar dan menakutkan dendam yang bersemayam di dalam relung hatinya.
Tanpa sadar Be Hong-ling menyurut lagi setengah langkah, katanya keras, "Tapi selamanya kau
pun takkan bisa merobohkan dia, dia jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan, hakikatnya kau
takkan bisa menandinginya!"
Suaranya seperti orang berpekik. Maklumlah semakin takut hati seseorang, tanpa disadari
suaranya pasti akan lebih besar.
Suara Pho Ang-soat sebaliknya dingin dan tenang, "Kau tahu aku pasti dapat membunuhnya,
dia sudah tua, terlalu tua, begitu tuanya hingga dia tidak berani mengucurkan air mata, tidak
berani mengalirkan darah."
Dengan kencang Be Hong-ling mengertak gigi, tetapi badannya sebaliknya terasa lemas dan
lunglai, sampai pun tenaga untuk marah pun sudah berakhir, hanya takut yang melembari
sanubarinya.
Tiba-tiba Be Hong-ling menundukkan kepala, katanya rawan, "Benar, beliau memang sudah
tua, tidak lain seorang tua bangka yang sudah tak punya kekuatan, oleh karena itu umpama kau
membunuhnya, bagi dirimu pun tidak akan membawa manfaat apa-apa."
Terunjuk senyuman sadis pada sorot mata Pho Ang-soat, katanya, "Apa kau memohon
kepadaku untuk tidak membunuhnya7"
"Aku ... aku sedang meminta kepadamu, selamanya belum pernah aku minta-minta kepada
siapa pun."
"Kau kira aku pasti menerima permintaanmu?"

"Asal kau sudi menerima, aku ...."
"Kau kenapa?"
Tiba-tiba merah muka Be Hong-ling, katanya tertunduk semakin dalam, "Boleh terserah
kepadamu apa yang kau hendaki akan diriku, kau akan pergi, aku ikut kau, kemana kau minta aku
pergi, selalu aku ikut kau."
Tanpa berganti napas Be Hong-ling mengutarakan maksudnya, setelah selesai bicara, baru dia
sadar, menyesal kenapa dia mengeluarkan kata-kata seperti itu. Diam-diam lahirnya bertanya,
apakah setulus hati dia mengutarakan janjinya itu.
Apakah karena dia sedang memancing dan menjajaki hati Pho Ang-soat, apakah Pho Ang-soat
masih begitu getol dan bergelora menginginkan dirinya untuk memuaskan nafsunya! Tapi cara
yang dia tempuh bukankah akal yang paling goblok, terlalu bahaya dan amat menakutkan.
Untung Pho Ang-soat tidak segera menampik, orang hanya mengawasinya dengan dingin. Tibatiba
terasa oleh Be Hong-ling, bukan saja sinar matanya sadis, malah mengandung juga rasa
rendah menghina dan jijik yang lebih menyakiti hati daripada kesadisannya itu. Seolah-olah orang
sedang berkata. "Kemarin malam kau menolakku begitu rupa, kenapa hari ini kau mencariku lagi?"
Serasa tenggelam hati Be Hong-ling, penghinaan tanpa suara dengan mimik dan sorot mata ini,
sungguh jauh lebih besar pukulannya daripada kau tolak secara mentah-mentah.
Mengawasinya, tiba-tiba Pho Ang-soat berkata, "Hanya sepatah kata ingin kutanya kepadamu.
Apa benar lantaran ayahmu saja kau minta kepadaku? Ataukah untuk dirimu sendiri?" Tanpa
menunggu jawaban, segera dia putar badan melangkah pergi dengan gaya jalannya yang aneh
dan lucu. Gaya jalan yang lucu dan jelek serta tak enak dipandang ini, seolah-olah malah
menjadikan sindiran pula yang pedas dan menusuk perasaan.
Dengan kencang Be Hong-ling menggengam jari-jarinya dengan keras dia mengertak gigi, tapi
akhirnya dia roboh juga. Pasir terasa hangat,, terasa asin, getir dan panas. Demikian juga air
matanya. Kalau tadi dia sedang merasa kasihan akan nasibnya sendiri, simpati akan
penderitaannya, kini sebaliknya dia sedang membenci awak sendiri, begitu bencinya sampai
hampir gila, begitu besar kebencian kepada diri sendiri, ingin rasanya bumi ini merekah dan kiamat
segera menguburnya hidup-hidup.
Kalau tadi dia hanya ingin menghancurkan orang-orang yang mengingkari dan membuang
dirinya, sekarang justru dia ingin menghancurkan dirinya sendiri....
0oo0
Untuk menghancurkan orang lain mungkin agak sukar, sebaliknya hendak menghancurkan diri
sendiri, jauh lebih gampang. Peduli siapa pun paling sedikit pasti bisa menemukan lima puluh cara
untuk menghancurkan diri sendiri. Sudah tentu satu di antara kelima puluh cara itu adalah cara
yang paling bodoh.
0oo0
Gudang di bawah tanah itu lembab dan gelap. Gudang ini sebetulnya hanya untuk
menyembunyikan arak, kini layon Kongsun Toan berada di sini. Begitu juga Ban-be-tong-cu pun
berada di sini.
Dia berlutut di lantai batu yang lembab dingin, berlutut di depan layon Kongsun Toan,
kelihatannya menderita dan sedih. Mungkin yang dia sedihkan bukan kematian Kongsun Toan, tapi
adalah dirinya sendiri.
Masa lalu bagai asap mengepul tinggi dan menghilang. Kini laksana asap tebal yang bergulunggulung
kejadian masa lalu kembali terbayang di depan matanya. Di dalam relung hatinya.
Kegagahan di masa muda, perjuangan gigih di masa usia menanjak, serta pikiran iri dan jelus
yang menghantui sanubarinya setelah menginjak usia lanjut....

Darah yang tergenang di dalam cangkir arak emas di waktu angkat saudara, darah di atas
golok waktu membunuh orang, darah mengalir di dadanya, mengalir membasahi salju.
Sekarang noktah-noktah darah di atas golok sudah tercuci bersih, darah di dadanya sudah
dingin. Dengan apa hutang darah itu harus dilunasi?
Manusia kenapa setelah lanjut usia, baru akan menyadari betapa besar dan menakutkan serta
memalukan dosa-dosa yang pernah dilakukannya di masa lalu! Sekarang apakah dia sedang
menyiksa diri?
0oo0
Hendak menyiksa orang lain mungkin sulit, tapi untuk menyiksa diri sendiri, sudah tentu jauh
lebih gampang.
Setiap insan di dunia ini pasti dengan mudah akan dapat menemukan lima puluh cara untuk
menyiksa diri.
Tapi siksa bukan penghancuran, ada kalanya penyiksaan melulu hanya untuk membuat dirinya
menjadi tenang dan sadar, lebih teguh dan kuat imannya.
0oo0
Sinar matahari kebetulan menyinari jalan raya. Tiada bayangan seorang pun yang lewat di jalan
raya, tapi di antara celah-celah pintu atau celah-celah jendela dan lubang dinding, entah berapa
pasang mata sedang mengintip keluar, mengintip satu orang.
Mengintip Lok Siau-ka.
Saat itu Lok Siau-ka sedang merendam diri dan mandi di dalam sebuah gentong air kayu
setinggi enam kaki, gentong kayu itu terletak tepat di tengah jalan raya. Airnya penuh, dia berdiri
di dalam gentong air, kebetulan hanya kepalanya saja yang menongol di permukaan air.
Seperangkat pakaian yang serba baru, terlempit dan tergosok rapi tengah ditaruh di atas rak di
sebelah gentong kayu. Demikian juga pedangnya berada di atas rak, di sebelahnya lagi sudah
tentu tersedia pula sebungkus kacang.
Tinggal mengulur tangan saja dengan mudah dia menjemput kacang, baju dan pedang, saat itu
dia sedang menjemput sebutir kacang, dikupas kulitnya, isinya terus dilempar ke atas, mulut pun
terbuka. Kacang itu tepat masuk ke dalam mulut. Kelihatannya dia amat gembira menikmati
kacangnya.
Cahaya matahari amat terik, air dalam gentong itupun menguapkan asap panas, tapi sebutir
keringat pun tidak kelihatan di raut wajahnya. Agaknya dia merasa kurang puas, gentong diketokketoknya
dengan keras, serunya lantang, "Godok air, godok air panas lebih banyak."
Dua orang segera berlari keluar dari balik pintu sempit itu sambil menenteng dua teko besar
berisi air panas, kedua orang ini adalah Ting-losu dan seorang yang lain bermuka kuning,
memelihara kumis tikus, dia bukan lain adalah juragan beras, yaitu Oh-ciangkui. Selintas pandang
dia kelihatannya mirip benar dengan seekor tikus yang sedang mencuri beras.
Kata Lok Siau-ka mengerut kening, "Kenapa hanya kalian berdua, mana orang she Tan?"
Oh-ciangkui mengunjuk tawa, katanya, "Dia sebentar akan datang, mungkin sekarang dia
sedang mencari cewek, maklumlah perempuan di tempat ini yang benar-benar cantik sukar dicari."
Sampai di sini ucapannya, seketika matanya terbelalak, karena dilihatnya seorang perempuan
cantik muncul di sana.
0oo0
Perempuan ini muncul diiringi suara kelintingan yang nyaring merdu, suara tawanya yang
cekikikan itupun semerdu dan senyaring suara kelintingan.
Matahari menyinari badannya, seluruh badannya memancarkan cahaya emas kemilau, tapi kulit
badannya begitu mulus laksana batu jade.

Pakaian yang dikenakan adalah gaun sutra tipis yang lemas, waktu angin menghembus, napas
setiap laki-laki yang mengawasinya pasti akan berhenti. Jari-jari tangannya yang runcing dan
mulus, tengah menggandeng lengan seorang laki-laki.
Kalau biji mata Oh-ciangkui melotot terpesona, demikian juga mata-mata yang mengintip di
dalam rumah itupun terpesona dan kagum. Lapat¬lapat mereka masih ingat, perempuan ini
adalah nona baju merah yang amat menyenangi Lok Siau-ka itu. Siapa pun takkan menduga kini
dia tengah menarik lengan Yap Kay, dalam waktu yang genting ini mendadak muncul bersama di
tempat ini.
Kebanyakan orang tahu bahwa nanti perempuan gampang dan cepat berubah, betapapun
mereka tidak menduga perempuan ini berubah begini cepat.
Ting Hun-pin justru tidak mempedulikan apa yang tengah dipikir orang lain. Demikian pula
sorot matanya sedikit pun tidak peduli pandangan orang lain. Memangnya tiada orang lain dalam
pandangan matanya, dia hanya mengawasi Yap Kay, katanya tiba-tiba dengan tertawa, "Hari ini
terang adalah cuaca yang cocok untuk membunuh orang, kenapa justru ada orang hendak
menyembelih babi?"
"Menyembelih babi?"
"Kalau tidak menyembelih babi, untuk apa memerlukan air panas sebanyak itu?"
Yap Kay tertawa, ujarnya, "Kabarnya orang melahirkan anak juga memerlukan air hangat."
Berkedip-kedip biji mata Ting Hun-pin, katanya, "Anehnya, kenapa begitu dilahirkan, bocah itu
sudah begini gede."
"Apakah kandungan raksasa?"
Dengan bersungguh-sungguh Ting Hun-pin manggut-manggut, katanya menahan geli, "Ya,
pasti kandungan raksasa."
Tak tertahan, terdengar seseorang tak kuat menahan geli dan tertawa di belakang pintu. Tapi
suara tawa tiba-tiba berubah jadi suara jeritan, sekeping kulit kacang tiba-tiba terbang masuk
melalui celah-celah pintu dan merontohkan dua buah giginya.
Roman muka Lok Siau-ka membesi hijau, seolah-olah duduk di dalam air es, matanya menatap
Ting Hun-pin, katanya menyeringai, "Ternyata kau nona Ting yang ingin mampus."
Mengerling genit biji mata Ting Hun-pin, katanya berseri tawa, "Betapa menusuk pendengaran
istilah 'ingin mampus' yang kau katakan ini, kenapa tidak kau panggil namaku yang terdengar
lebih enak dirasakan itu?"
"Seharusnya aku sudah ingat akan dirimu," ujar Loh Siau-ka, "Tidak banyak orang yang berani
menyaru sebagai diriku."
"Sebetulnya namamu sendiri pun tak enak didengar, aku tetap heran, kenapa ada orang
memanggilmu Bwe-hoa-lok (menjangan kembang)?"
"Mungkin karena mereka tahu bahwa tanduk menjangan amat tajam, siapa pun yang
membenturnya pasti binasa."
"Kalau begitu lebih mirip kalau kau dinamakan Toa-cui-gu (kerbau air) saja, bukankah tanduk
kerbau lebih lihai?"
Lok Siau-ka seketika menarik muka. Baru sekarang dia benar-benar menyadari adu mulut
dengan perempuan adalah cara yang kurang pintar, oleh karena itu segera dia merubah pokok
pembicaraan tanyanya, "Apakah Toakomu baik-baik?"
"Selamanya dia baik-baik, apalagi belakangan dia memenangkan sebilah pedang pusaka, dia
menang bertanding pedang dengan Hwi-king-kiam-khek dari Lam-hay-pay. Tentu kau tahu dia
paling suka menggunakan pedang bagus."
"Lalu bagaimana dengan Jikomu?" tanya Lok Siau-ka pula.

"Sudah tentu dia pun baik-baik, belakangan ini dia malah menghancur-leburkan Hoa-hong-tong
di Hopak, tiga ekor harimau yang ganas dan telengas itu terpenggal kepalanya, kau kan tahu dia
paling suka membunuh kaum perampok."
"Lalu Samkomu?"
"Dia yang lebih baik, dengan persaudaraan Lamkiong dia bertempur tiga hari lamanya, pertama
adu nyanyi, lalu main catur, baru adu pukulan, dan bertanding pedang, akhirnya tiga puluh guci
Li-ji-ciu simpanan keluarga besar Lamkiong selama bertahun-tahun dia miliki seluruhnya, di
samping itu dia hukum mereka untuk bernyanyi dan berjoget," dengan tersenyum lebar dia
meneruskan, "Kegemaran Ting-samsiauya adalah arak dan perempuan cantik, tentunya kau pun
sudah tahu."
"Apa yang paling disukai oleh para Cihumu?" tanya Lok Siauka pula. Cihu adalah suami kakak
perempuan.
"Yang paling disukai oleh Cihuku sudah tentu Ciciku."
"Kau punya berapa Cici?"
"Tidak banyak, hanya enam."
"Tiga engkoh, enam kakak?"
"Memangnya kau belum kenal dengan Sam-kiam-khek dan Jit-sian-li dari keluarga Ting?"
Lok Siau-ka tiba-tiba tertawa, ujarnya, "Baik sekali."
"Apa maksudnya baik sekali?"
"Maksudku ialah, untung keluarga Ting banyak perempuannya, laki-lakinya sedikit."
"Memangnya kenapa?"
"Kau tahu selamanya aku tidak suka membunuh perempuan."
"O, lalu?"
"Untung tidak banyak. Hanya membunuh tiga orang."
Tiba-tiba Ting Hun-pin menghela napas, katanya, "Tidak baik sekali."
"Tidak baik sekali?"
"Mereka tidak di sini, sudah tentu tidak baik."
"Kalau mereka di sini?"
"Asal satu di antara mereka di sini, sekarang kau sudah menjadi mayat menjangan."
Lekat-lekat Lok Siau-ka mengawasinya, tiba-tiba dia alihkan sorot matanya ke tumpukan
kacang di sebelahnya.
Seolah-olah karena dia akhirnya berhasil memilih sesuatu yang lebih baik, maka dia merasa
puas dan bangga akan pilihannya, sampai pun biji matanya yang bersinar tajam, kini berganti
lembut dan kalem.
Lalu diambilnya sebutir kacang, dikupas dan dilempar. Kacang yang bulat segar memutih itu di
bawah sinar matahari kelihatan membawa cahaya redup yang melegakan hati dan menyolok
pandangan, melihat kacang itu melayang jatuh masuk ke dalam mulutnya, baru dia pejamkan
matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu mulailah dia mengunyah.
Sinar matahari yang panas, air mandi yang hangat, kacang yang segar dan kering. Terhadap
segala sesuatu yang diinginkan dia merasa puas.
0oo0
Sebaliknya Ting Hun-pin merasa kurang puas.

Semua ini seolah-olah sebuah pertunjukan sandiwara yang sebenarnya bisa dilanjutkan ke
babak-babak selanjutnya. Malahan dia sudah siap melanjutkan peranannya sendiri.
Tak terkira Lok Siau-ka ternyata seorang pemain yang lugu dan kaku, seolah-olah pemain yang
sedang beraksi di atas panggung tiba-tiba melupakan kata-kata yang harus diucapkan, secara
tegas dan langsung menolak memerankan adegan selanjutnya.
Sungguh suatu kejadian yang menyebalkan.
Ting Hun-pin menghela napas, katanya sambil berpaling ke arah Yap Kay, "Sekarang tentunya
kau sudah tahu orang macam apa dia sebetulnya?"
"Dia memang seorang yang pintar."
"Orang pintar?"
"Orang pintar akan lebih tahu makan kacang dengan mulut tentu jauh lebih menggembirakan
daripada adu mulut dengan perempuan."
Ting Hun-pin menjadi gemas, ingin rasanya menggigitnya sekali.
Jika Yap Kay mengatakan Lok Siau-ka adalah seorang tuli, seorang lemah, maka sandiwara ini
tetap bisa diteruskan. Siapa nyana Yap Kay ternyata pun seorang pemain yang bodoh,
bahwasanya dia tidak mau bekerja sama dengan dirinya.
Setelah mengunyah habis kacang di mulutnya, Lok Siau-ka menghela napas pula, gumamnya,
"Baru sekarang aku tahu, ternyata perempuan pun suka melihat laki-laki mandi, kalau tidak,
kenapa dia tidak mau berlalu?"
Ting Hun-pin membanting kaki, tangan Yap Kay ditariknya, katanya dengan muka merah,
"Hayo kita pergi." Yap Kay tertarik pergi.
Begitu mereka putar badan, maka terdengarlah kumandang gelak tawa Lok Siau-ka, tawa
besar, tawa gembira.
Ting Hun-pin mengertak gigi, dengan kuku jarinya dengan keras dia cengkeram tangan Yap
Kay.
"Tanganmu sakit tidak?" tiba-tiba Yap Kay bertanya.
"Tidak sakit."
"Kenapa tanganku sakit sekali?"
"Karena kau ini keparat, apa yang perlu kau katakan selamanya tidak mau kau utarakan."
"Kata-kata yang tidak patut diucapkan, selamanya aku pun tidak pernah mengatakan."
"Kau tahu aku ingin kau mengatakan apa?"
"Ehm, ya, aku tahu!"
"Kau kira tidak pantas dikatakan?"
"Karena tiada gunanya lagi."
"Kenapa tidak berguna?"
"Karena Lok Siau-ka sudah tahu bahwa kita sengaja hendak memancing kemarahannya. Dia
pun sadar dalam situasi seperti ini dirinya sekali-kali tidak boleh marah."
"Darimana kau tahu bila dia sudah tahu?"
"Karena bila dia tidak tahu, tidak perlu dia tunggu sampai sekarang, sejak tadi dia sudah
menjadi mayat menjangan."
"Agaknya kau amat mengaguminya."
"Tapi yang paling kagum justru bukan dia."

"Siapa?"
"Aku sendiri."
Ting Hun-pin menahan geli, katanya, "Aku masih tak melihat dalam hal apa kau patut
dikagumi."
"Paling tidak ada satu hal"
"Hal yang mana?"
"Di waktu orang lain mencengkeram tanganku dengan kuku jarinya, ternyata aku masih purapura
tidak tahu "
Akhirnya tak tertahan Ting Hun-pin terpingkal-pingkal, katanya sambil melepas tangan,
"Adakalanya kau memang mirip dengan golek kayu." Dengan menarik tangannya, tawanya mekar
dan riang sekali.
Tiba-tiba Ting Hun-pin merasa puas dan bangga akan segala sesuatu di sekelilingnya, sehingga
tidak disadari olehnya bahwa sepasang mata yang cemburu dan benci sedang mengawasi mereka.
0oo0
Sorot mata Be Hong-ling menampilkan kebencian dan cemburu yang tak terperikan, seperti
mata serigala yang kelaparan mengincar mangsanya dia mengawasi mereka masuk ke dalam toko
Tan-toakoan.
Mereka memang berkeputusan untuk menunggu di sini, menunggu sampai Pho Ang-soat
muncul, menunggu duel yang amat mendebarkan dan menakutkan itu.
Kebetulan bagi Ting Hun-pin, sekalian dia bisa membeli bahan-bahan pakaian baru. Memang
jarang perempuan menyia-nyiakan kesempatan baik untuk membeli pakaian.
Be Hong-ling melihat mereka dengan bergandeng tangan masuk ke dalam toko, kedua tangan
yang bergandengan ini, sungguh-sungguh telah merenggut hatinya.
Kenapa tiada laki-laki di dunia ini yang mau menarik tangannya seperti itu? Dia membenci
dirinya sendiri, kenapa dirinya selalu tidak menarik perhatian orang lain.
Di belakang tembok terdapat sebuah tempat gelap, sinar matahari tidak menyorot sampai di
sini. Terasa olehnya, dirinya bak seorang anak hnram yang dibuang oleh ayah-bundanya di pinggir
jalan.
0oo0
Air panas diantar datang pula.
Lok Siau-ka mengawasi Oh-ciangkun si juragan beras menuang air panas itu ke dalam gentong
mandinya, katanya, "Kenapa orangnya belum datang juga?"
"Orang siapa?"
"Orang yang kalian ingin supaya kubunuh."
"Dia pasti akan datang."
"Dia saja seorang masih belum cukup."
"Masih perlu siapa lagi?"
"Perempuan."
"Aku memang hendak mencari Tan-toakoan."
"Mungkin selamanya dia tidak akan kemari lagi."
"Kenapa?"

Lok Siauka tidak menjawab pertanyaan ini, dengan mata terpicing merem-melek dia mengawasi
tangan orang.
Tangan orang kelihatan kering menguning dan kurus, tapi amat tenang dan gerak-geriknya
mantap, teko besar yang penuh terisi air panas itu seolah barang kosong belaka terjinjing di
tangannya.
Mendadak Lok Siau-ka tertawa, katanya, "Orang lain bilang kau ini adalah juragan beras di sini,
apa betul?"
"Sudah tentu ...." Oh-ciangkui mengunjuk tawa berseri.
"Tapi semakin kupandang kau ini sedikit pun tidak mirip." Tiba-tiba dia merendahkan suaranya,
"Sejak mula aku sudah berpendapat tidak pantas kalian mengundangku kemari."
"Kenapa?" tanya Oh-ciangkui
"Dulu bila kalian ingin membunuh orang, bukankah selalu turun tangan sendiri?"
Air panas dalam teko sudah habis, tapi tangan yang menjinjing teko itu masih terangkat
bergantung di tengah udara. Lama juga baru tangan ini diturunkan, tiba-tiba Oh-ciangkui juga
merendahkan suaranya dan berbisik, "Kami hanya mengundangmu untuk membunuh orang,
bukan untuk menyuruhmu menyelidiki asal-usul kami."
Pelan-pelan Lok Siau-ka manggut-manggut, katanya tersenyum, "Memang masuk akal."
"Tarip yang kau minta, kami sudah membayarnya lunas, kan tiada orang yang menanyai asalusulmu."
"Tapi mana perempuan yang kuinginkan?"
"Perempuan...”
Belum habis Oh-ciangkui menjawab, tiba-tiba didengarnya seseorang berkata lantang, "Itu
bergantung perempuan macam apa yang kau inginkan?" Itulah suara perempuan.
Lok Siau-ka segera berpaling, maka dilihatnya seorang perempuan pelan-pelan muncul dari
balik tembok yang gelap sana. Perempuan yang masih muda belia, gadis yang cantik rupawan,
tapi sorot matanya penuh mengandung rasa kebencian, kemarahan dan dendam yang memburu
0oo0
Be Hong-ling sudah beranjak sampai ke tengah jalan. Cahaya matahari menyinari mukanya,
roman mukanya menampilkan mimik yang aneh, biasanya bila seseorang pesakitan digusur ke
gelanggang hukuman untuk dipenggal kepalanya, mimik mukanya sering menampilkan perasaan
seperti yang ditunjuk oleh mimik Be Hong-ling sekarang.
Pandangan Lok Siau-ka dari kaki pelan-pelan meninggi mengawasi mukanya, akhirnya berhenti
pada sepasang bibirnya. Bibirnya tipis dan basah lembut, mirip benar dengan delima merekah
yang baru saja matang.
Lok Siau-ka tertawa, katanya tersenyum, "Kau yang bertanya kepadaku perempuan jenis apa
yang kuinginkan?"
Be Hong-ling manggut-manggut.
Lok Siau-ka tertawa pula, ujarnya, "Perempuan seperti kau inilah yang sedang kuharapkan,
tentunya kau pun sudah tahu."
"Kalau begitu perempuan yang kau inginkan sekarang sudah ada."
"Kau sendiri maksudmu?"
"Ya, aku inilah."
Lok Siau-ka tertawa lebar.
"Kau kira aku menipumu?" Be Hong-ling menegas.

"Sudah tentu kau tidak akan menipuku, cuma kurasa paling tidak kau harus unjuk tawa dulu
kepadaku."
Be Hong-ling segera tertawa. Siapa pun harus mengakui bahwa dia memang sudah tertawa.
Tapi Lok Siau-ka malah mengerut kening.
"Kau belum puas juga?" tanya Be Hong-ling.
"Soalnya aku tidak suka melihat perempuan yang tertawa mirip orang menangis."
Bibir Be Hong-ling sampai berdarah karena tergigit kencang, lama baru dia berkata lirih, "Walau
jelek tawaku, tapi tugas lain pasti dapat kulakukan dengan baik."
"Kau bisa kerja apa?"
"Kerja apa saja yang kau inginkan?"
Lok Siau-ka mengawasinya lekat-lekat, tiba-tiba dia raih handuk di dalam baskom terus
dilempar ke arahnya. Terpaksa Be Hong-ling menangkapnya.
"Tahukah kau untuk apa handuk itu?" tanya Lok Siau-ka.
Be Hong-ling geleng-geleng kepala.
"Untuk menggosok punggung," kata Lok Siau-ka.
Mengawasi handuk basah di tangannya, tangan Be Hong-ling tiba-tiba gemetar, tahu-tahu
handuk itu jatuh karena tangannya menjadi lemas. Tapi lekas sekali dia sudah meraihnya, lalu
dipegangnya dengan kencang. Seolah-olah dia sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk
memegangi handuk itu, punggung tangannya yang berkulit halus putih itu kelihatan otot-otot
hijaunya yang merongkol karena terlalu keras mengerahkan tenaga. Sebetulnya dia sudah tahu
barang yang sudah tergenggam di tangannya takkan bisa terlepas jatuh lagi. Memangnya dia tidak
akan rela membiarkan barang apa pun jatuh dari tangannya, cukup banyak dia kehilangan.
Sudah tentu Lok Siau-ka tetap mengawasinya, sorot matanya tersenyum tajam laksana ujung
jarum, seolah-olah hendak menghujam ke hulu hatinya. Dengan mengertak gigi, tiba-tiba dia
bertanya, "Ada sepatah kata ingin kutanyakan kepadamu."
"Terus terang aku tidak suka perempuan yang cerewet, tapi kali ini boleh kulanggar
kebiasaanku ini, boleh kau bertanya!"
"Perempuan yang kau inginkan sekarang sudah kau dapat, tapi orang yang ingin kau bunuh
sekarang masih segar-bugar."
"Jadi kau tidak ingin dia hidup?" tanya Lok Siau-ka.
Be Hong-ling manggut-manggut.
"Kau kemari, hanya karena aku hendak membunuhnya?"
Be Hong-ling manggut-manggut pula sebagai jawaban.
Lok Siau-ka tertawa pula, katanya tawar, "Kau tidak usah kuatir, kutanggung dia tidak akan
berumur panjang."
0oo0
Waktu berlalu tanpa terasa, hari menjelang lohor, terik matahari semakin membara.
Tiba-tiba Be Hong-ling merasakan dirinya seperti semut yang berada di dalam kuali, dirinya
sedang digodok dan dipanggang. Dengan menggenggam kencang handuk di tangannya, pelanpelan
dia maju menghampiri.
Lok Siau-ka tersenyum menyambut kedatangannya, giginya yang putih laksana mutiara berkilau
ditimpa sinar matahari, kelihatan mirip benar dengan binatang liar....
0oo0

BAB 25. PEDANG YANG MENGGETARKAN
Hujan belum lama turun, tidak semestinya cuaca begini panas.
Keringat berketes-ketes membasahi jidat, lalu mengalir membasahi leher, terus mengalir turun
membasahi pakaian yang memang sudah kuyup.
Kadal yang berwarna gelap tengah mencari makan di tengah-tengah tumpukan pasir, seolaholah
ingin mencari suatu tempat yang nyaman untuk berteduh.
Rumput yang baru saja basah oleh air hujan, kini kering-kerontang pula oleh terik matahari.
Sampai pun hembusan angin pun terasa membara
Hembusan angin yang datang dari padang rumput, terasa laksana deru napas setan iblis yang
tersiksa di neraka.
0oo0
Hanya di dalam rumah, hawa rada nyaman dan dingin.
Di atas meja panjang lebar tiga kaki, banyak bertumpuk-tumpuk berbagai warna corak kain
sutra, tidak kurang banyaknya pula mode pakaian yang sudah jadi.
Yap Kay duduk di sebuah kursi rotan di pinggiran sana, kedua kakinya terjulur panjang, dengan
bermalas-malasan dia mengawasi Ting Hun-pin memilih kain dan pakaian. Dua orang pelayan
toko, seorang yang berusia lebih tua berdiri di samping dengan meluruskan kedua tangannya.
Seorang lagi yang lebih muda mencari kesempatan mengeluyur keluar melihat keramaian.
Agaknya cukup lama mereka bekerja dalam bidang ini, mereka cukup mengerti di kala
perempuan sedang memilih pakaian, lebih baik laki-laki menyingkir dan jangan banyak komentar
dari pinggiran.
Akhirnya Ting Hun-pin memilih seperangkat pakaian warna hijau pupus, setelah diukur dan
kira-kira pas dengan potongan badannya, lalu diletakkan pula, katanya menghela napas, "Tak
nyana koleksi barang di sini ternyata banyak ragamnya."
"Orang lain merasa barang-barang di sini terlalu sedikit untuk dipilih, memangnya kau malah
merasa kebanyakan?" tanya Yap Kay.
Ting Hun-pin manggut-manggut, katanya, "Semakin banyak barang, semakin sulit aku
menentukan pilihanku, jika hanya beberapa potong saja, mungkin seluruhnya sudah kuborong."
"Kau bicara jujur dalam hal ini," ujar Yap Kay.
Pelayan tua itu berkata dengan tertawa, "Soalnya nyonya muda dari Ban-be-tong dan putrinya
sering berbelanja di sini, terpaksa toko kami harus menyediakan banyak koleksi dengan mode
yang mutakhir, sungguh harus dimaafkan."
Tak tahan Ting Hun-pin tertawa, katanya, "Kau tidak perlu minta maaf segala, kan bukan
salahmu."
"Tapi pembeli selamanya selalu benar," sahut pelayan tua, "kalau nona merasa persediaan
barang toko kami terlalu banyak, itu adalah kesalahan toko kami."
"Agaknya kau memang pandai berdagang, terpaksa aku tidak bisa tidak harus membelinya,"
ujar Ting Hun-pin.
Pelayan muda yang berdiri di depan pintu, tiba-tiba melangkah masuk seraya menghela napas
panjang, "Tak terduga, sungguh tak terduga...”
Ting Hun-pin mengerut kening, tanyanya, "Kau tidak mengira bila aku bakal membeli?"

Pelayan muda itu tertegun, dengan tersipu-sipu dia bersoja dan menjawab dengan tawa dibuatbuat,
"Mana hamba berani punya dugaan demikian!"
"Memangnya apa maksudmu dengan tidak menduga?"
"Hamba hanya tak menduga Be-toasiocia ternyata sudi menggosok punggung orang yang
sedang mandi."
"Be-toasiocia?"
"Ya, putri tunggal dan kesayangan Ban-be-tong Sam-lopan."
"Apakah nona yang berpakaian merah itu?"
"Sam-lopan hanya mempunyai seorang putri kesayangan saja."
"Dia sedang menggosok punggung siapa?"
"Yaitu tuan yang sedang mandi di tengah jalan raya itu."
Berputar biji mata Ting Hun-pin, segera dia berpaling ke arah Yap Kay.
Mata Yap Kay merem-melek memicing, agaknya mengantuk. "Hai, kau sudah mendengar
belum?" tanya Ting Hun-pin.
"Ehm."
"Apa maksud ehm itu?"
Yap Kay menggeliat, katanya, "Kalau laki-laki menggosok punggung perempuan, tak usah kau
banyak komentar, aku sudah lari keluar melihatnya, perempuan menggosok punggung laki-laki
kan sudah jamak dan tidak perlu dibuat heran, apanya yang enak dilihat."
Ting Hun-pin menatapnya sekian lama, akhirnya dia tertawa cekikikan.
Pelayan muda itu tiba-tiba menghela napas pula, katanya, "Hamba sih mengerti apa maksud
nona Be yang sebenarnya."
"Oh, kau tahu apa?" tanya Ting Hun-pin.
"Bahwa nona Be sudi merendahkan derajat dan menderita malu, lantaran demi Sam-lopan."
"Oh, demi ayahnya."
"Karena si timpang itu adalah musuh besar Sam-lopan, nona Be kuatir usia Sam-lopan yang
sudah lanjut, mungkin bukan tandingan orang."
"Oleh karena itu dia terima merendahkan derajat serta menanggung malu, maksudnya supaya
Lok Siau-ka mewakilkan dia membunuh si timpang itu."
Pelayan muda manggut-manggut, katanya sambil menghela napas, "Dia memang putri yang
berbakti."
Ting Hun-pin tiba-tiba tertawa dingin, katanya, "Mungkin memang dia suka menggosok
punggung laki-laki."
Pelayan itu melengak ingin bicara lagi, tapi pelayan yang lebih tua lekas memberi kedipan,
segera ia batal bicara dan mundur.
Tatkala itu terdengarlah derap kaki kuda di luar sana. Derap kaki kuda yang riuh dan kacau.
Agaknya tidak sedikit penunggang kuda yang mendatangi.
Kata Ting Hun-pin sambil mengerling, "Coba kau keluar, lihat siapa saja yang datang."
Meski pelayan muda itu rada penasaran, tapi dia keluar juga dengan kepala menunduk. Tak
lama kemudian dia sudah masuk dan memberi laporan, "Yang datang adalah tukang-tukang kuda
dari Ban-be-tong."
"Berapa banyak yang datang?"

"Sekitar empat-lima puluh orang."
Ting Hun-pin menepekur sebentar, dengan tajam dia melirik ke arah Yap Kay, katanya,
"Apakah mereka datang hendak melihat keramaian?"
Yap Kay menggeliat lagi, sahutnya, "Itu tergantung mereka itu orang-orang goblok atau orangorang
pintar."
"Jika mereka kemari hendak membantu, maksudmu mereka adalah orang-orang goblok?"
"Ya, seratus persen orang goblok!" ujar Yap Kay tertawa, lalu sambungnya, "keramaian
sebagus ini, hanya orang goblok pula yang menyia-nyiakan tontonan sebaik ini."
Ting Hun-pin tertawa, tanyanya, "Apakah kau ingin benar menunggu untuk menonton?
Sebetulnya golok Pho Ang-soat lebih cepat atau pedang Lok Siau-ka lebih cepat?"
"Umpama aku harus menunggu tiga hari, aku pun dengan senang akan menunggu."
"Oleh karena itu kau bukan orang bodoh."
"Sudah tentu bukan."
0oo0
Waktu itu sudah terdengar berbagai suara berpadu di jalan raya sana, ada suara orang batuk,
ada suara orang berbisik-bisik, ada yang tertawa, tapi kebanyakan adalah suara helaan napas
yang heran dan gegetun serta gemas.
Melihat putri juragan mereka, Be-toasiocia, sedang menjadi babu menggosok punggung lakilaki
yang tidak dikenalnya, sudah tentu banyak orang heran, kaget dan merasa penasaran.
Tapi jelas tiada orang yang berani mencampuri urusan ini. Orang goblok di dunia ini memang
tidak banyak.
Sekonyong-konyong segala suara sirap, semuanya berhenti, seolah-olah angin pun menjadi
beku dan berhenti berhembus.
Kedua pelayan toko itu juga merasakan suatu tekanan suasana yang mendadak seperti
menyesakkan napas, mencekam sanubarinya.
Biji mata Ting Hun-pin mendadak memancarkan sinar terang, gumamnya, "Sudah datang,
akhirnya datang ...."
0oo0
Tiada orang bergerak, tiada suara apa pun.
Setiap orang yang hadir merasakan suatu tekanan yang tak terlawan begitu berat tindihan
tekanan ini sampai bernapas pun sesak. "Datang, sudah datang, akhirnya datang ...."
Mentari nan terik, angin yang panas. Angin menghembus dari padang rumput.
Lumpur becek dan genangan air di jalan raya sudah kering. Perlahan¬lahan, dia melangkah
melewati jalan yang semula becek ini. Kaki kiri melangkah setapak, kaki kanan lalu diseret ke
muka dengan kaku Walau perlahan-lahan jalannya, tapi tidak pernah berhenti.
Setiap pasang mata tengah mengawasinya, sinar mentari pun sedang menerangi mukanya.
Kelihatan mukanya pucat-pias, memutih sampai seperti tembus cahaya dan mengkilap, mirip
benar dengan puncak gunung salju yang tidak pernah lumer.
Tapi sorot matanya seolah-olah sudah menyala. Matanya sedang melotot mengawasi Be Hongling.
0oo0
Tangan Be Hong-ling sudah berhenti, handuk basah di tangannya meneteskan air. Setetes, dua
tetes ....

Alam semesta ini seolah-olah hanya ketinggalan suara tetesan air ini. Namun darah justru
sedang bertetesan dalam relung hatinya. Setetes, dua tetes .... Duka, sedih dan perih, malu dan
kemarahan akhirnya membakar dendamnya.
Pandangan Pho Ang-siat seperti sedang bertanya, "Kenapa kau belum pergi juga? Kenapa
masih tinggal di sini?"
"Aku tidak mau pergi karena aku ingin melihat dia mampus di hadapanku."
Hatinya sedang meronta-ronta, sedang menjerit, tapi roman mukanya tidak menampilkan
perubahan apa-apa. Rona muka Be Hong-ling seolah-olah sudah membeku dingin pula.
Kini pandangan Pho Ang-soat menatap ke muka Lok Siau-ka, sebaliknya Lok Siau-ka melirik pun
tidak, dia malah melambaikan tangan kepada Ting-losu dan Oh-ciangkui. Terpaksa mereka maju
menghampiri.
"Kalian ingin aku membunuh orang ini?" tanya Lok Siau-ka.
Ting-losu ragu-ragu, setelah melirik ke arah Oh-ciangkui, akhirnya keduanya manggutmanggut.
"Apa benar kalian ingin aku membunuhnya?"
"Sudah tentu," sahut Ting-losu.
Lok Siau-ka tiba-tiba tertawa, ujarnya, "Baik, aku pasti membunuhnya untuk kalian." Diulurnya
sebelah tangannya, pelan-pelan dia jemput pedang di atas rak.
Jari-jari Pho Ang-soat yang memegang golok seketika kencang.
Lok Siau-ka tetap tidak mengawasinya, tetapi menatap pedang di tangannya, katanya kalem,
"Tugas yang pernah kujanjikan pasti akan ku laksanakan."
"Sudah tentu, kau memang selalu menepati janji."
"Kau tidak kuatir?"
"Tidak, aku percaya!"
Lok Siau-ka menghela napas, ujarnya "Kalau kalian sudah lega., bolehlah mampus saja."
Ting-losu mengerut kening, tanyanya, "Apa katamu?"
"Kataku, kalian boleh mampus saja."
Pedang di tangannya tiba-tiba terayun, bergerak amat lambat, pelan sekali, tapi tidak menabas
atau menusuk ke arah siapa pun.
Mengawasi pedang orang yang sudah bergerak, kulit daging Ting-losu tiba-tiba berkerut-kerut
seperti mengejang, disusul sekujur tubuhnya pun bergetar mengejang pula.
Semua orang heran mengawasi perubahan mukanya, tiada yang tahu apa sebenarnya yang
telah terjadi? Tapi tubuh Ting-losu tiba-tiba roboh terkapar. Begitu dia roboh, darah segera
muncrat bagai air mancur dari bawah perutnya. Baru sekarang semua orang melihat jelas, dari
dalam gentong air itu tahu-tahu keluar sebilah pedang, ujung pedang masih berlepotan darah
yang berketes-ketes.
Kiranya waktu Ting-losu memperhatikan pedang di tangan Lok Siau-ka yang bergerak perlahanlahan
itu, pedang di tangan kiri Lok Siau-ka tahu-tahu menusuk keluar dari dalam gentong air,
telak sekali menembus perutnya.
Dalam waktu yang hampir sama, Oh-ciangkui pun ikut roboh, bedanya darah muncrat dari
tenggorokannya. Kini pedang di tangan kanan Lok Siau-ka pun berlepotan darah, darah masih
menetes.

Begitu Oh-ciangkui melihat pedang yang menusuk keluar dari dalam gentong, pedang di tangan
kanan Lok Siau-ka tiba-tiba berubah arah, bertambah cepat, laksana kilat menyambar, tahu-tahu
tenggorokannya sudah berlubang, jiwanya pun melayang.
0oo0
Tiada orang bergerak, tak ada suara apa pun, sampai pun napas orang pun seperti sudah
berhenti.
Mengawasi darah yang menetes di ujung pedangnya, Lok Siau-ka menghela napas, katanya,
"Orang yang mempunyai tugas kerja seperti diriku, umpama sedang mandi pun harus selalu
waspada dan menyiapkan apa yang perlu di dalam gentong mandi ini, sekarang tentunya kalian
sudah mengerti semua."
"Tapi aku tidak mengerti," tiba-tiba Be Hong-ling berkata dengan suara serak
"Kau tidak mengerti kenapa aku membunuh mereka?" tanya Lok Siau-ka.
Memang tiada orang yang mengerti. Sudah tentu Be Hong-ling juga tidak mengerti, katanya,
"Orang yang harus kau bunuh bukan mereka saja bukan?"
Tiba-tiba Lok Siau-ka tertawa pula, kepalanya bergerak, sorot matanya akhirnya tertuju ke
arah Pho Ang-soat "Kau tahu tidak?" tanyanya.
Sudah tentu Pho Ang-soat pun tidak tahu, tidak ada orang yang mengerti.
"Sebetulnya tujuan mereka sebenarnya bukan mengundangku kemari untuk membunuh kau,"
demikian Lok Siau-ka menjawab pertanyaannya sendiri.
"Bukan untuk membunuhku?"
"Mereka hanya ingin main bokong dan menyerang secara gelap kepadamu di saat kau berduel
dengan aku."
Pho Ang-soat agaknya masih belum paham.
"Akal ini memang baik, karena peduli siapa pun yang bergebrak dengan aku, pasti dia tidak
akan punya kemampuan untuk bersiaga dari bokongan orang lain, apalagi serangan gelap yang
dilancarkan dari dalam gentong air ini."
"Dalam gentong air?" Pho Ang-soat menegas.
"Kau tidak mengerti?" Lok Siau-ka menegas.
Pho Ang-soat tetap tidak mengerti, orang lain pun tiada yang tahu.
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara "Blang" yang keras sekali serasa bumi
bergetar. Kiranya suara itu berkumandang dari dalam gentong kayu yang besar itu, disusul
gentong itu mendadak bergetar retak dan pecah. Air muncrat kemana-mana, seiring dengan
muncratnya air, tiba-tiba sesosok bayangan orang menerjang keluar dari bawah gentong air.
Cepat sekali gerakan orang ini, tapi gerakan pedang Lok Siau-ka lebih cepat lagi, dimana
pedangnya berkelebat, suara jeritan menyayat hati berkumandang di tengah udara.
Sesudah air muncrat laksana cahaya perak yang ditimpa sinar matahari, kini disusul pula
dengan hujan darah yang berceceran kemana-mana, seseorang tersungkur roboh dan terkapar
tidak berkutik lagi, orang ini bukan lain adalah Kim-pwe-tho-liong Ting Kiu.
0oo0
Tiada suara, napas seperti berhenti semua.
Jeritan yang mengerikan seketika kelelap ditelan hembusan angin panas yang menghembus
datang dari padang rumput.
Entah berapa lama berselang, Ting Hun-pin baru bersuara dengan menghela napas, "Gerakan
pedang yang cepat sekali."

Yap Kay manggut-manggut dia pun mengakui kecepatan sambaran pedang yang luar biasa ini.
Siapa pun takkan bisa tidak mengakui, meski sebatang besi biasa bila sudah berada di tangan
Lok Siau-ka, ternyata berubah menjadi sebilah pedang yang sakti mandra guna.
"Sekarang mau tidak mau aku pun harus kagum kepadanya," ujar Ting Hun-pin.
"O? Kenapa?"
"Walau belum tentu dia pintar, juga belum tentu manusia baik-baik, tapi dia memang pintar
main pedang."
0oo0
Tetesan darah terakhir pun sudah berakhir.
Tatapan mata Lok Siau-ka baru beralih dari ujung pedangnya ke arah Pho Ang-soat, katanya
tersenyum, "Sekarang kau sudah mengerti?"
Pho Ang-soat manggut-manggut, sudah tentu sekarang dia sudah tahu, setiap orang pun tahu.
Bagian bawah gentong air ini ternyata kosong, di dalamnya bersembunyi seseorang. Memang
setelah gentong itu terisi air, siapa pun tiada yang tahu berapa dalam gentong air ini. Sudah tentu
Lok Siau-ka pun tidak berdiri dengan tegak, oleh karena itu tiada orang menduga bahwa bagian
bawah gentong air ini ternyata ada lapisannya. Oleh karena itu bila Kim-pwe-tho-liong Ting Kiu
menimpukkan senjata rahasia dari bawah gentong air ini secara gelap, mimpi pun Pho Ang-soat
tidak akan menduganya.
Kata Lok Siau-ka, "Sekarang tentunya kau sudah mengerti, aku mandi bukan lantaran ingin
bersih saja, adalah orang sudi membayar lima ribu tahil perak kepadaku." Dia tertawa, lalu berkata
lagi, "Demi lima ribu tahil perak ini, mungkin Yap Kay sendiri pun mau saja mandi air panas."
Yap Kay tersenyum.
Muka Pho Ang-soat sebaliknya tetap dingin dan pucat, di bawah terik matahari yang begitu
panas, setetes keringat pun tidak kelihatan di wajahnya.
Kata Lok Siau-ka dengan suaranya yang kalem, "Akal ini aku sendiri pun merasa kagum juga,
sayang sekali mereka toh tetap salah memperhitungkan satu hal."
"Hal apa?" tak tahan Pho Ang-soat bertanya
"Mereka salah menilai diriku," sahut Lok Siau-ka.
"Oh, salah menilaimu."
"Aku pernah membunuh orang, selanjutnya juga masih akan membunuh, aku pun suka uang,
demi lima ribu tahil perak, sembarang waktu aku mau saja disuruh mandi." Sampai di sini dia
tertawa lebar, katanya dengan suara tawar, "Tapi aku tidak suka dan tidak sudi diperalat orang
lain, apalagi dianggap alat pembunuh."
Pho Ang-soat menghela napas panjang, sorot matanya yang membeku mulai lumer. Tiba-tiba
dia merasa pemuda yang berdiri di hadapannya dengan badan basah kuyup ini paling tidak masih
merupakan manusia.
Kata Lok Siau-ka lebih lanjut, "Jika aku ingin membunuh orang, selamanya aku suka turun
tangan sendiri."
"Memang suatu kebiasaan yang baik."
"Sebetulnya masih banyak lagi kebiasaanku."
"O, kebiasaan apalagi?"
"Aku masih ada kebiasaan baik, yaitu selamanya aku tidak pernah menjilat lagi setiap perkataan
yang pernah kuucapkan."
"O, lalu?"

"Sekarang aku sudah terima pembayaran orang, aku pun sudah berjanji kepada mereka untuk
membunuhmu."
"Aku sudah mendengarnya."
"Oleh karena itu aku tetap akan membunuhmu."
"Tapi aku sebaliknya tidak ingin membunuhmu."
"Kenapa?" tanya Lok Siau-ka.
"Karena biasanya aku tidak suka membunuh orang macam tampangmu," sahut Pho Ang-soat.
"Aku termasuk orang macam apa?"
"Seorang jenaka yang menggelikan."
"Aku ini jenaka? Suka humor maksudmu?" tanya Lok Siau-ka keheranan. Banyak orang
memakinya dengan kata-kata kotor yang tak enak didengar, tapi belum pernah ada orang yang
mengatakan dirinya jenaka.
Kata Pho Ang-soat tawar, "Biasanya aku merasa orang yang mandi mengenakan celana, jauh
lebih lucu daripada orang yang kentut menanggalkan celana."
Tak tahan Yap Kay tertawa, Ting hun-pin juga terpingkal-pingkal.
Laki-laki besar kalau mengenakan celana yang basah kuyup kelihatan memang amat lucu dan
jenaka.
Tiba-tiba Lok Siau-ka juga tertawa, katanya tersenyum, "Lucu, lucu, sungguh tak pernah
terpikir olehku orang ini ternyata lucu juga, biasanya aku paling suka orang sepertimu." Tiba-tiba
dia menarik muka pula, katanya dingin, "Sayang sekali aku tetap akan membunuhmu."
"Sekarang juga kau akan membunuhku?"
"Sekarang juga aku akan turun tangan."
"Dengan mengenakan celanamu yang basah itu?"
"Umpama tidak bercelana, aku tetap akan membunuhmu juga."
"Bagus sekali."
"Apanya yang bagus?"
"Aku sendiri pun merasa sayang bila kesempatan ini disia-siakan."
"Kesempatan apa?"
"Kesempatan untuk membunuhku."
"Hanya sekarang aku punya kesempatan untuk memunuhmu?"
"Karena kau tahu sekarang aku takkan membunuhmu."
"Apa maksudmu?" tanya Lok Siau-ka bingung.
"Aku hanya memberitahukan kepadamu," ujar Lok Siau-ka, "Setiap perkataan yang pernah
kuucapkan tidak pernah kujilat kembali."
Lok Siau-ka mengawasinya, roman mukanya menampilkan mimik yang aneh dan lucu.
Sebaliknya raut muka Pho Ang-soat tidak menampilkan mimik perasaan hatinya.
Mendadak Lok Siau-ka tertawa. Di atas rak kayu terdapat sebuah kantong kulit yang tertindih di
bawah pakaian Tiba-tiba dia ungkit pakaiannya dengan ujung pedang, lalu dari dalam kantong
kulit itu dia keluarkan dua carik uang kertas. Selembar seharga sepuluh ribu tahil, selembar yang
lain seharga lima ribu tahil.

Kata Lok Siau-ka, "Meski orangnya belum kubunuh, tapi aku sudah telanjur mandi, maka lima
ribu tahil ini aku terima, selaksa tahil ini kukembalikan kepadamu." Lembaran selaksa tahil itu dia
lempar ke atas badan Ting-losu, mulutnya menggumam, "Maaf, setiap orang tak urung pernah
ingkar janji, tentunya kalian takkan menyalahkan diriku."
Memang tiada orang menyalahkan dia, orang mati sudah tentu tidak akan bicara.
Kembali Lok Siau-ka mencungkit kantong kulitnya dengan ujung pedangnya terus tinggal pergi,
berpaling pun tidak kepada Pho Ang-soat, melirik ke arah Be Hong-ling juga tidak.
Semua orang hanya mengawasinya dengan mendelong, tapi waktu dia berjalan tiba di depan
Yap Kay, tiba-tiba dia menghentikan langkah.
Yap Kay masih tersenyum. Dari atas ke bawah, demikian bolak-balik dua kali dia mengawasi
Yap Kay, tiba-tiba Lok Siau-ka tertawa, katanya, "Kau tahu kenapa aku sudi menerima lima ribu
tahil perak ini?"
"Tidak tahu," sahut Yap Kay sambil menggeleng kepala.
"Nah, kuberikan kepadamu," ujar Lok Siau-ka mengangsurkan uangnya.
"Berikan kepadaku? Kenapa kau berikan kepadaku?"
"Karena aku ingin memohon sesuatu kepadamu."
"Memohon apa?"
"Supaya kau suka mandi, jika kau tetap tidak mau mandi, mungkin aku bisa kau bikin kelengar
karena bau badanmu yang apek." Tanpa memberi kesempatan kepada Yap Kay bicara lagi segera
dia melangkah lebar tinggal pergi.
Yap Kay mengawasi uang di tangannya, entah geli, dongkol atau senang.
Ting Hun-pin tak tahan ikut tertawa, katanya, "Bagaimana pun juga, hanya disuruh mandi
lantas dibayar lima ribu tahil, sungguh kejatuhan rezeki nomplok "
Yap Kay sengaja menarik muka, katanya dingin, "Agaknya kau amat kagum kepadanya."
"Tapi bukan dia yang paling kukagumi,"
"Kau sendiri orang yang paling kukagumi?"
"Bukan aku tapi kau."
"Kau pun kagum kepadaku?"
Ting Hun-pin manggut-manggut, sahutnya, "Karena di dunia ini ternyata ada laki-laki yang mau
membayar lima ribu tahil menyuruh orang mandi."
Yap Kay tak tertahan hendak tertawa, tapi dia tidak tertawa.
Karena pada saat itu pula, tiba-tiba dia mendengar orang menangis tergerung-gerung.
Yang memangis ternyata adalah Be Hong-ling. Sudah lama dia menahan diri, dia sudah
menggunakan seluruh kekuatannya yang paling besar untuk mengendalikan emosinya. Tapi dia
tetap tak tahan untuk tidak menangis tergerung-gerung. Bukan saja sedih dan pilu, hatinya pun
dongkol dan marah.
Karena dia merasa orang yang menghina dan merusak namanya adalah dia sendiri pula,
bahwasanya tiada orang lain yang menjebloskan dirinya.
Waktu dia mulai menangis, Pho Ang-soat kebetulan tengah beranjak maju, lewat sampingnya.
Tapi melirik pun dia tidak kepada Be Hong-ling, sekilas kerlingan mata pun tidak, seperti pula
waktu dia melewati mayat kim-pwe-tho-liong.
Tukang-tukang kuda dari Ban-be-tong semua berdiri di emperan rumah, ada yang tertunduk
kepalanya, ada yang sengaja mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Sebetulnya mereka pun
laki-laki pejuang yang ludah kenyang mengalami pahit getir kehidupan, tapi sekarang dengan

mendelong mereka hanya mengawasi saja putri tunggal junjungan mereka dihina dan disapu habis
pamornya, ternyata semuanya pura-pura tidak melihat.
Tiba-tiba Be Hong-ling menerjang ke sana, dia tuding Pho Ang-soat, serunya dengan suara
serak, "Kalian tahu siapa dia? Dia adalah musuh besar pangcu kalian, yaitu pembunuh yang
membunuh kawan-kawan kalian, dia sengaja hendak menghancurkan Ban-be-tong, kalian hanya
berpeluk tangan menjadi penonton saja."
Tetap tiada orang yang bersuara, tidak ada orang yang mengawasi dirinya. Sorot mata semua
orang tengah mengawasi seorang laki-laki pertengahan umur yang bermuka ambang-bauk.
Biasanya mereka memanggil orang ini sebagai Kiau-lotoa, karena dialah tukang kuda yang tertua
dan berkuasa di antara mereka di dalam Ban-be-tong.
Selama hidupnya, boleh dikata dia melewatkan hidupnya di dalam Ban-be-tong, dia sudah
mempertaruhkan masa remajanya dari kehidupan yang paling berharga di dalam Ban-be-tong
secara sia-sia. Kini kedua kakinya sudah bengkok, sudah cacad karena bertahun-tahun hidup di
punggung kuda, demikian pula punggungnya sudah bungkuk, sepasang matanya yang semula
tajam bersinar dan berwibawa kini sudah guram, merah berair karena terlalu banyak
menghabiskan air kata-kata.
Di kala dia tidur di atas papan kayu yang dingin dan keras sambil mengelus-elus bekas luka dan
daging kapalan di kaki dan pahanya, pernah juga terpikir olehnya untuk mencari hidup dengan
jalan lain ke tempat yang jauh. Tapi tiada suatu tempat untuknya pergi, karena akarnya
hakikatnya sudah tumbuh dan kokoh di dalam Ban-be-tong.
Pertama kali Be Hong-ling duduk di punggung kuda, juga dialah yang menggendongnya, kini
dia tengah menatap orang tua yang sudah loyo ini, katanya keras, "Kiau-lotoa, hanya kau seorang
yang paling lama ikut ayahku, kenapa kau pun tidak bersuara?"
Sorot mata Kiau-lotoa memancarkan rasa duka dan lara, tapi sedapat mungkin dia
mengendalikan emosinya, lama juga baru dia bisa menghela napas, katanya pelan, "Aku pun tak
bisa berbuat apa-apa lagi "
"Kenapa?"
Kiau-lotoa mengepal tinju, katanya mendesis dengan mengertak gigi, "Karena sekarang kau
sudah bukan orang Ban-be-tong."
"Siapa yang bilang?" desak Be Hong-ling tercengang.
"Sam-lopan yang mengatakan," sahut Kiau-lotoa.
Be Hong-ling menjublek.
"Dia beri kita semua setiap orang seekor kuda, tiga ratus tahil perak, menyuruh kita bubar."
Jari-jarinya mengepal semakin kencang, giginya pun mengertak berkeriutan, suaranya serak
gemetar, "Demi Ban-be-tong, kita menjual jiwa seumur hidup, tapi kalau Sam-lopan bilang kita
harus bubar, maka kita segera berangkat dan pergi."
Dengan terkesima Be Hong-ling mengawasinya, pelan-pelan kakinya menyurut mundur.
Tiada yang bisa dia katakan lagi.
Selama ini Yap Kay hanya pasang kuping mendengarkan dengan cermat, sampai di sini
mendadak dia menjerit, "Celaka!"
"Apanya yang celaka?" tanya Ting Hun-pin.
Yap Kay geleng-geleng kepala, belum lagi dia berbicara, mendadak di kejauhan dilihatnya asap
tebal bergulung-gulung menjulang tinggi di angkasa. Dimana biasanya bendera dari sutra putih
Ban-be-tong berkibar.
0oo0
Jago merah berkobar-kobar mengeluarkan asap hitam yang tebal.

Waktu Yap Kay dan lain-lain memburu ke sana, Ban-be-tong sudah menjadi lautan api.
Memangnya semua serba kering, begitu api berkobar, segalanya tak bisa diatasi lagi. Apalagi di
antara kobaran api itu terendus juga bau minyak tanah, lebih celaka karena ada dua tiga puluhan
tempat yang berkobar bersama, begitu api menjilat dari satu tempat ke lain tempat dengan
bantuan angin padang rumput, seluruh Ban-be-tong sudah ditelan kobaran si jago merah.
Rombongan kuda meringkik dan berlari kian kemari, saling terjang, sungsang-sumbel, injak
menginjak, semua ingin menerjang keluar dari kepungan api. Memang tidak sedikit yang berhasil
menerjang keluar dan berlari ke empat penjuru, tapi kebanyakan terkepung mati hangus. Bau
asap membawa hawa sedap dari daging yang terpanggang dan hangus.
"Ban-be-tong sudah hancur, hancur-lebur bersama seluruhnya."
"Orang yang menghancurkan tempat ini adalah orang yang membangunnya pula."
Seolah-olah Yap Kay melihat Be Khong-cun berdiri di tengah-tengah kobaran api, tengah
tertawa dingin kepadanya, "Tempat ini adalah milikku, tiada orang yang boleh merebutnya dari
tanganku." Sekarang dia benar-benar melaksanakan janjinya, kini Ban-be-tong akan selamanya
menjadi miliknya yang abadi.
Kalau kebakaran ini semakin besar, telapak tangan Yap Kay justru berkeringat dingin. Siapa pun
takkan ada yang dapat menyelami isi hatinya, siapa pun tiada yang tahu apa yang terkandung
dalam pikirannya?
Tiba-tiba Ting Hun-pin menghela napas, ujarnya, "Kalau tidak bisa diperoleh, terpaksa biar
dihancurkan saja, apa yang dilakukan orang itu agaknya memang tidak salah." Mukanya merah
oleh cahaya api, mendadak dia berteriak tertahan, "Aneh, kenapa di sana masih ada seorang
bocah?"
0oo0
Langit menjadi merah membara oleh kobaran api yang menjulang tinggi ke angkasa, matahari
tetap bercokol di angkasa raya ikut menyaksikan peristiwa bersejarah ini.
Entah sejak kapan angin mulai menghembus pula. Dimana api berkobar, di situ pasti ada angin.
Rumput-rumput tinggi di padang rumput di kejauhan sana tengah tergoyang-gontai terhembus
angin, kobaran api tidak sampai di sini, pasir kuning bergulung-gulung terbawa pusaran angin
puyuh, akhirnya lenyap ditelan kobaran api.
Ringkik kuda yang sekarat dan meregang jiwa masih terus terdengar, kedengarannya begitu
seram dan siapa pun yang menyaksikan pasti bisa mual dan muntah-muntah.
Di bawah pancaran sinar matahari, di antara rumput-rumput tinggi yang menari turun naik itu,
betul juga ada seorang bocah sedang berdiri mematung dan terlongong di sana.
Dia mengawasi kobaran api yang hampir menyentuh langit, seluruh rumah dan harta milik
keluarganya disapu dan dilalap habis seluruhnya. Agaknya air matanya sudah ikut terbakar kering,
seolah-olah dirinya sudah kaku dan pati rasa.
Siau-hou-cu.
Kiranya bocah ini adalah putra Be Khong-cun yang terkecil.
Tak tahan Yap Kay lekas memburu ke sana, katanya, "Kau ... kenapa kau masih di sini?"
Siau-hou cu tidak berpaling dan tidak bergerak, suaranya lirih menjawab, "Aku sedang
menunggu kau."
"Menunggu aku?" Yap Kay melengak heran, "bagaimana kau bisa menunggu aku?"
"Ayah menyuruh aku menunggu kau di sini, dia tahu kau pasti akan kemari."
"Lalu dimana ayahmu?" tanya Yap Kay.

"Sudah pergi ... sudah pergi ...." sahut Siau-hou-cu, sampai sekarang baru raut mukanya
menampilkan rasa sedih dan pilu, seperti hampir menangis. Tapi ternyata dia mampu
menahannya.
Tak tahan Yap Kay menarik tangannya, katanya, "Kapan dia pergi?"
"Sudah pergi cukup lama?"
"Dia pergi seorang diri?"
Siau hou-cu geleng-geleng.
"Siapa pula yang ikut dia?"
"Sam-ik."
"Sim Sam-nio?" teriak Yap Kay.
Siau-hou-cu manggut-manggut, ujung bibirnya gemetar, katanya serak hampir sesenggukan.
"Dia pergi membawa Sam-ik, namun tidak mau membawa aku, dia ... dia ...." Belum habis katakatanya,
akhirnya bocah ini pecah tangisnya dengan sedih. Betapapun usianya masih terlalu
muda.
Yap Kay mengawasinya, tak tahu betapa perasaan hatinya sendiri, tak tahan Ting Hun-pin pun
sedang menyeka air matanya secara diam-diam.
Tiba-tiba bocah itu menubruk ke dalam pelukan Yap Kay, katanya meratap dengan
sesenggukan, "Ayah suruh aku menunggu kau di sini, katanya kau pernah berjanji kepadanya,
pasti akan merawat dan mengasuhku dengan baik, masih ada lagi Ciciku ... benar tidak? Benar
tidak?"
Bagaimana mungkin Yap Kay menjawab tidak?
Ting Hun-pin sudah menarik Siau-hou-cu, katanya lembut, "Aku tanggung dia pasti akan
merawat dan mengasuhmu, kalau tidak, aku pun tidak akan mau kenal dia lagi."
Bocah ini mengangkat kepala mengawasinya sebentar, lalu menunduk, katanya, "Mana Ciciku?
Apakah kalian pun akan menjaganya baik-baik?"
Ting Hun-pin tidak bisa menjawab pertanyaan ini, dia hanya tersenyum getir.
Baru sekarang Yap Kay sadar, entah Be Hong-ling sekarang kemana? Kemana pula Pho Angsoat?
0oo0
Lewat lohor, mentari sudah doyong ke arah barat. Kobaran api di padang rumput tetap
menyala, tapi jauh lebih lemah. Angin barat laut menghembus dengan kencang, cuaca sudah
mulai berganti.
Koan-tang-ban-be-tong yang sudah malang melintang dan bersimaha-raja bertahun-tahun kini
sudah dibumi-hanguskan rata dengan bumi, tinggal puing-puingnya saja. Be Khong-cun yang
membangun usaha besar dengan kedua tangannya, kini entah berada dimana?
Siapa sih yang mengakibatkan semua ini terjadi?
Dendam kesumat!
Ada kalanya kekuatan cinta pun takkan unggul melawan dendam yang membara!
0oo0
Dalam benak Pho Ang-soat dilembari dendam kesumat. Tapi sekaligus dia pun membenci awak
sendiri, mungkin yang paling dia benci adalah dirinya sendiri.
Jalan raya sepanjang ini tiada bayangan manusia, paling tidak dia tidak melihat manusia hidup.
Semua orang sudah memburu ke Ban-be-tong melihat kebakaran.

Bukan saja kebakaran besar ini sudah menghancurkan juga kota kecil ini, meski secara tidak
langsung, banyak orang bisa melihat dan mereka pun tahu, kota kecil ini cepat sekali bakal
menjadi kering-kerontang seperti pula mayat Kim-pwe-tho-liong yang masih terkapar di jalan raya
sana.
Seorang diri Pho Ang-soat beranjak di jalan raya ini, kaki kirinya melangkah dulu setapak, kaki
kanan lalu pelan-pelan diseretnya ke depan. Langkahnya pelan-pelan, tapi tidak berhenti. Sebelum
menemukan Ban-be-tong, dia tetap akan terus berjalan ke depan.
"Mungkin aku harus mencari seekor kuda," di saat dia berpikir demikian, maka dilihatnya
bayangan seseorang muncul dari gang sebelah muka sana. Seorang perempuan yang bertubuh
ramping dan montok, tangannya menenteng sebuah buntalan yang besar.
Cui-long!
Tiba-tiba jantung Pho Ang-soat serasa ditusuk-tusuk sakitnya, karena dia sudah bertekad untuk
melupakan dia. Sejak dia tahu orang selama bertahun-tahun ini bekerja demi Siau Piat-li, dia
sudah berkeputusan untuk melupakannya. Tapi kenyataan dialah perempuan pertama yang
pernah dinikmatinya selama hidupnya.
Agaknya Cui-long memang sudah menunggunya sejak tadi, dengan menundukkan kepala dia
datang menghampiri, katanya lirih, "Kau hendak pergi?"
Pho Ang-soat manggut-manggut. "Mencari Ban-be-tong-cu?" tanya Cui-long.
Pho Ang-soat manggut-manggut lagi, sudah tentu dia harus menemukan Ban-be-tong-cu.
"Memangnya kau hendak meninggalkan aku seorang diri di sini?"
Jantung Pho Ang-soat kembali sakit seperti ditusuk sembilu. Dia sudah tidak ingin bertemu dan
melihatnya lagi, tapi tak tertahan akhirnya dia mengangkat kepala mengawasinya juga. Sekilas
pandang sudah cukup. Cahaya matahari kebetulan menyinari mukanya, mukanya kelihatan pucat
cantik, namun kurus.
Sorot matanya mengandung api asmara, seolah-olah sedang berkata kepada dirinya, "Kau tidak
membawaku pergi, aku pun tidak berani minta kepadamu, tapi aku tetap ingin kau tahu, aku
selamanya sudah menjadi milikmu."
Nafsu birahi yang menyala dan asyik-masyuk di tengah kegelapan, pelukan hangat laksana
bara, bibir yang hangat basah dan manis wangi, dada yang montok padat serta kenyal dalam
sekilas ini terbayang dalam kelopak matanya. Telapak tangannya mulai berkeringat dingin.
Kepalanya tertimpa sinar matahari, matahari yang terik serasa membakar rambutnya.
Semakin dalam kepala Cui-long tertunduk, rambut kepalanya yang lebat dan hitam legam
terurai memanjang bertebaran ditiup angin. Tak tertahan pelan-pelan Pho Ang-soat mengulurkan
tangan, menggenggam rambutnya. Rambut kepalanya hitam legam mirip warna goloknya.
Golok yang diwarnai hitam legam. Sarung goloknya hitam goloknya pun hitam.
Orang sering bilang warna hitam membawa firasat dan melambangkan malapetaka, ada pula
yang bilang hitam melambangkan kematian. Bagaimana menurut pendapatmu?
0oo0
BAB 26. DENDAM SEDALAM LAUTAN
Matahari sudah terbenam, jalan raya ini tetap tak kelihatan bayangan orang.
Hanya di atas loteng kecil itu terlihat sinar pelita, seseorang mendorong terbuka daun jendela
di atas loteng itu, dia mengawasi jalan raya panjang yang sunyi.
Dia tahu sebentar tabir malam akan datang dan menyelimuti alam semesta.

0oo0
Noda-noda darah sudah kering.
Hembusan angin menyingkap rambut kepala Kim-pwe-tho-liong.
Siau Piat-li memejamkan mata, pelan-pelan dia menghela napas, pelan-pelan pula dia menutup
daun jendelanya.
Pelita di atas meja baru saja disulut. Dia duduk di bawah penerangan pelita tunggal yang
guram ini, seperti pula pelita ini dia pun merasa sebatangkara di dunia ini.
Kenapa sementara orang harus sebatangkara? Kenapa begitu kesepian?
Sinar pelita menyoroti mukanya, kerut keriput pada kulit mukanya bertambah banyak, entah
betapa derita? Betapa rahasia yang terkandung dalam keriput itu?
Dituangnya secangkir arak, pelan-pelan dia menenggak, seolah-olah sedang menunggu
sesuatu. Tapi apa pula yang bisa dia nantikan? Segala apa yang baik di dalam kehidupan ini sudah
berselang mengikuti perginya sang waktu, masa remajanya dulu, sekarang yang masih dia
nantikan satu-satunya hanyalah kematian. Kematian yang kesepian, mati dengan merana, tapi ada
kalanya bukankah kematian itu juga manis madu.
Malam semakin kelam. Tanpa berpaling melihat cuaca diluar jendela, hal ini sudah dia rasakan.
Cangkirnya sudah kosong, waktu dia hendak menuang arak ke dalam cangkirnya, tahu-tahu
didengarnya suara yang berkumandang di bawah loteng. Suara dadu dimainkan, dikocok di dalam
cawan. Tiba-tiba ujung mulutnya menampilkan senyuman pahit yang misterius, seolah-olah dia
memang sudah menduga pasti akan mendengar suara ini. Maka diraihnya tongkat besinya, pelanpelan
dia beranjak ke bawah.
0oo0
Entah sejak kapan sebuah pelita sudah menyala di bawah loteng. Bayangan seseorang duduk di
bawah pelita, dia tengah bermain sendiri dengan biji-biji dadunya, sorot matanya pun
menampilkan senyuman getir dan misterius.
Yap Kay jarang tertawa seperti itu. Mengawasi dadu di atas meja, dia tidak berpaling untuk
menyambut kedatangan Siau Piat-li. Sebaliknya Siau Piat-li mengawasinya dengan lekat, pelanpelan
duduk di hadapannya, katanya tiba-tiba, "Apa yang kau lihat?"
Lama Yap Kay termenung, baru dia menghela napas, katanya, "Apa pun aku tidak melihatnya."
"Kenapa?"
"Karena sejak dimulai aku sudah salah."
Siau Piat-li pun menghela napas, katanya manggut-manggut, "Setiap orang pasti pernah
bersalah!"
"Tidak pernah terpikir olehku bahwa Ban-be-tong-cu bakal minggat, sungguh tak pernah
terpikir olehku."
"Semula aku pun mengira dia tidak akan pergi."
"Tapi dia lebih pintar dari apa yang pernah kita pikirkan, dia tahu siapa pun takkan menyianyiakan
melihat duel antara Lok Siau-ka dengan Pho Ang-soat."
"Kalau dia ingin pergi, memang saat itulah kesempatan paling baik."
"Mungkin memang dia mencari kesempatan ini, maka dia mengundang Lok Siau-ka kemari."
"O."
"Dia sengaja sudah mengatur tipu daya ini, sengaja dia membuat orang lain tahu, tujuannya
tidak lain hanya supaya orang banyak tahu bahwa dia memang sengaja hendak membokong Pho
Ang-soat, ingin membunuh Pho Ang-soat." Yap Kay menghela napas, katanya lebih lanjut, "Jika

orang lain sedikit pun tidak menaruh curiga akan maksud tujuannya ini, sudah tentu orang tidak
akan menduga bahwa dia memang sengaja hendak mencari kesempatan ini untuk melarikan diri."
Siau Piat-li ikut tertawa, katanya tawar, "Cirimu yang terbesar mungkin karena kau berpikir
terlalu banyak." Setelah menghela napas, dia menyambung, "Menurut pendapatku seseorang
sebetulnya lebih baik bila tidak berpikir terlalu banyak."
"Benar, memang lebih baik kalau tidak berpikiran terlalu banyak," ujar Yap Kay.
"Jika jalan pikiranmu cukup sederhana, mungkin kau akan sadar dan bisa menangkap
maksudnya bahwa dia hanya mencari kesempatan untuk melarikan diri."
"Ya, benar."
"Kau tahu apa ciriku yang terbesar?" tanya Siau Piat-li menghela napas.
Yap Kay geleng-geleng kepala.
"Ciriku pun karena berpikir terlalu banyak."
Yap Kay menatapnya, katanya, "Oleh karena itu kau pun tidak mengira dia akan pergi? Benar
tidak?"
Siau Piat-li manggut-manggut.
Kembali terunjuk senyuman tajam dari sorot mata Yap Kay, katanya sepatah demi sepatah
sambil menatapnya tajam, "Oleh karena itu maka kau mewakilkan dia pergi mengundang Lok
Siau-ka kemari."
"Sejak kapan kau tahu akan hal ini?" tanya Siau Piat-li. Bukan saja sikapnya amat tenang,
malah sedikit pun dia tidak mengingkari.
"Kau tidak menyangkal akan tuduhanku?"
"Buat apa menyangkal di hadapan orang seperti dirimu?" Siau Piat-li tertawa.
Yap Kay tertawa juga, namun tawanya tidak sewajar dan lantang seperti biasanya, seakan-akan
dia merasa amat sayang terhadap orang yang satu ini.
Tawa Siau Piat-li semakin sedih dan memilukan, katanya kalem, "Mungkin sebetulnya kita
termasuk orang satu jenis, cuma ...."
"Cuma jalan yang kita tempuh berlainan!" tukas Yap Kay.
"Mungkin aku memang salah arah."
"Tapi kau sebetulnya tidak mirip dengan orang yang gampang salah menempuh jalan
tujuanmu."
"Hanya satu macam sebab menempuh jalan benar, tapi salah menempuh ke jalan sesat terlalu
banyak ragamnya tujuanmu."
"O."
"Setiap orang yang salah menempuh jalan tujuannya, semua mempunyai sebab dan alasan
sendiri-sendiri."
"Lalu apa alasan dan sebab-musababmu?"
"Jalan yang kutempuh ini mungkin bukan pilihanku sendiri." Sorot matanya memancarkan duka
dan lara yang menekan perasaannya, seolah-olah sedang mengawasi tempat nan jauh, lama juga
baru dia melanjutkan dengan pelan-pelan, "Mungkin ada orang begitu dilahirkan sudah diharuskan
untuk menempuh ke arah jalan yang satu ini, oleh karena itu hakikatnya tidak ada peluang
baginya untuk memilih ke arah jalan yang lain."
Yap Kay sedang mendengarkan. Dia sudah merasakan bahwa Siau Piat-li sudah bersiap
memuntahkan banyak persoalan yang tidak seharusnya dia bicarakan dengan orang lain.

Berselang agak lama baru Siau Piat-li menyambung, "Tentunya kau pun sudah menduga bahwa
sebetulnya aku bukan she Siau."
Yap Kay mengakui.
"She dan nama seseorang juga atas pilihannya sendiri, bahwasanya dia sendiri tidak diberi
peluang untuk memilih namanya sendiri."
Yap Kay sependapat dengan apa yang dikatakan ini.
"Kalau begitu dilahirkan kau she Ong, peduli kau mau tahu tidak, selama hidupmu kau harus
tetap she Ong."
"Aku mengerti akan makna kata-katamu ini, tapi apa maksudmu mengemukakan hal ini, aku
tidak paham."
"Maksudmu mau bilang, kita sebetulnya termasuk orang yang sama, tapi jalan yang ditempuh
berlainan, tidak lain karena nasibmu lebih beruntung dari aku." Seperti ragu-ragu, akhirnya dia
bertekad, katanya sepatah demi sepatah, "Karena kau bukan she Sebun."
"Sebun? Sebun Jun?"
"Apa kau sudah menduga sejak lama?" Siau Piat-li tertawa getir.
"Waktu aku melihat nenek tua palsu, yang akhirnya mati di dalam toko Li Ma-hou baru aku
menyadari."
"O."
"Waktu itu baru teringat olehku, aku hanya memanggil sekali Sebun Jun, dia lantas berpaling
muka, tapi tidak mengawasi aku, sebaliknya mengawasi kau."
"Ya, waktu itu memang begitu kejadiannya."
"Dia berpaling karena dia merasa heran dan melengak, kenapa aku mendadak bisa memanggil
namamu."
"Oleh karena itu baru kau mengira bahwa dia adalah Sebun Jun."
"Setiap orang pernah berbuat salah."
"Apalagi dia pun tidak menyangkal."
"Di hadapanmu masakah berani menyangkal?"
"Waktu itu kau masih mengira Li Ma-hou adalah Toh-popo."
Yap Kay tertawa gertir, katanya, "Sampai sekarang aku masih tidak habis pikir, dimanakah
sebetulnya Toh-popo menyembunyikan diri."
"Selamanya kau tidak akan menemukan dia."
"Kenapa?"
"Karena siapa pun takkan menduga Toh-popo hakikatnya adalah satu orang dengan Sebun
Jun."
Baru sekarang Yap Kay benar-benar terkejut, serunya berjingkrak bangun, "Satu orang yang
sama?"
"Jangan lupa kepandaian tata rias memangnya merupakan keahlian bagi keluarga Sebun."
Yap Kay menghirup napas panjang, katanya dengan tertawa getir, "Sungguh aku tidak pernah
menduganya!" Dua kali dia melirik ke arah Siau Piat-li, "Sampai sekarang aku masih bingung cara
bagaimana kau bisa menyamar jadi seorang nenek."
"Jika bisa melihatnya, aku bukan lagi Sebun Jun."

"Tak heran orang-orang Kangouw bilang hanya Sebun Jun adalah murid penutup Jian-bin-jin
satu-satunya yang mewarisi kepandaiannya."
"Bukan murid penutup."
"Lalu apa?"
"Aku adalah putranya."
"Jadi ayahmu adalah Jian-bin-jin?"
Terpancar senyuman sedih dan hambar pada sorot mata Siau Piat-li, katanya pelan-pelan,
"Sampai aku sendiri pun tidak tahu apakah ini merupakan keberuntunganku? Atau sebal?"
Yap Kay diam saja, tidak sembarang orang bisa menjawab pertanyaan ini.
"Siapa pun tidak bisa tidak harus mengakui, ayahku almarhum adalah salah seorang jenius
dalam Bu-lim, betapa luas, besar dan hebat ilmu silatnya, sampai sekarang belum ada orang yang
bisa membandinginya." Yap Kay sendiri pun tidak bisa tidak harus mengakui "Selama hidupnya,
tiba-tiba laki-laki, lain saat sudah perempuan, kadang-kadang lurus tiba-tiba sesat, ada orang yang
menganugrahi Jian-bin-jin-mo, ada pula yang menjulukinya Jian-bin-jin-sin, tiada orang tahu
bagaimana sebenarnya dia itu."
"Dan kau?" tanya Yap Kay.
"Aku pun tidak tahu," ujar Siau Piat-li menghela napas. "Aku hanya tahu meski dia turunkan
seluruh kepandaian silat yang dia pelajari selama hidupnya kepadaku, tapi beliau juga
meninggalkan beban kepadaku!"
"Beban apa?"
"Dendam kesumat!" kedua patah kata ini dia ucapkan dengan lamban, seolah-olah baru bisa
dia ucapkan setelah mengerahkan setaker tenaganya.
Yap Kay cukup paham akan perasaan hatinya, mungkin tiada orang lain yang lebih mengerti
dibanding dirinya, betapa berat orang memikul dendam kesumat!
"Sampai sekarang," Siau Piat-li melanjutkan, "orang Kangouw tiada yang tahu sebetulnya dia
masih hidup atau mati, ada orang bilang dia sudah menyebrang ke lautan timur, tetirah di sebuah
pulau terpencil, malah ada orang bilang sekarang dia sudah menjadi dewa."
"Bagaimana sebetulnya?" tanya Yap Kay.
"Sebetulnya sudah tentu beliau sudah wafat."
"Cara bagaimana kematiannya?"
"Mati di bawah golok!"
"Golok siapa?"
Tiba-tiba Siau Piat-li mengangkat kepalanya menatap dia, katanya tandas. "Tentunya akan lebih
tahu golok siapa! Golok siapa di dunia ini yang mampu membunuhnya!"
Yap Kay diam saja. Terpaksa dia harus diam, karena dia sudah tahu golok siapa sebetulnya
yang membunuh Jian-bin-jin-mo.
Berkata Siau Piat-li dingin, "Kabarnya Pek-tayhiap pun seorang jenius dari Bu-lim, konon bukan
saja ilmu goloknya menjagoi Bu-lim, malah boleh dikata tiada taranya di jagat ini." Nada katakatanya
terasa mengandung dendam kesumat yang membara dan tajam, lebih tajam daripada
senjata, dengan tertawa dingin dia menyambung, "Tapi bagaimana karakternya? Dia...”
Yap Kay segera menukas ucapannya, "Kau tidak berhak mengeritik karakternya, karena kau
membencinya."
"Kau salah, aku tidak membencinya, hakikatnya aku toh tidak kenal dia "
"Tapi kau ingin membunuhnya!"

"Memang aku ingin membunuhnya, malah besar tekadku untuk membunuhnya meski aku
harus mempertaruhkan apasaja dan mengorbankan apa saja, tahukah kau kenapa begitu besar
tekadku?"
Yap Kay geleng-geleng kepala.
"Karena dendam berbeda dengan cinta. Dendam tidak dibawa sejak dilahirkan, bukan
pembawaan, umpama ada orang memikulkan beban dendam permusuhan kepadamu, kau tentu
akan merasakan hal ini "
"Tapi...."
Kali ini Siau Piat-li yang menukas ucapannya, "Pho Ang-soat umpamanya, dia tahu dan dapat
merasakan, karena pengertian ini mirip juga dengan tekadnya yang besar hendak membunuh Banbe-
tong-cu " Setelah menghela napas, dia menyambung, "Pho Ang-soat juga tidak pernah kenal
Ban-be-tong-cu, tapi dia harus membunuhnya."
Akhirnya Yap Kay manggut-manggut, katanya, "Oleh karena itu malam itu kau pun berada di
Bwe-hoa-am."
Pandangan Siau Piat-li kembali seperti tertuju ke tempat jauh, mulutnya menggumam, "Hujan
salju malam itu amat lebat...."
Tiba-tiba sorot pandangan Yap Kay berubah tajam berkilat, katanya dengan menatapnya, "Kau
masih ingat akan peristiwa malam itu?"
"Sebetulnya aku ingin melupakan, sayang sekali peristiwa itu justru melekat di dalam relung
sanubariku."
"Karena kedua kakimu buntung, tertabas pada malam itu."
Siau Piat-li mengawasi kakinya yang buntung, katanya tawar, "Memangnya berapa tokoh kosen
di dunia ini yang mampu membacok kutung kakiku."
"Walaupun dia mengutungi kakimu, tapi dia meninggalkan jiwamu."
"Bukan dia yang meninggalkan jiwaku sampai sekarang, tapi adalah hujan salju yang lebat itu."
"Hujan salju?"
"Karena salju membikin kakiku yang buntung membeku, maka aku masih bisa hidup sampai
sekarang, kalau tidak, mungkin badanku sudah hancur luluh dan membusuk."
"Oleh karena itu kau tidak bisa melupakan hujan salju malam itu."
"Aku pun tidak bisa melupakan golok yang satu itu," tiba-tiba terpancar rasa ngeri dalam sorot
matanya, pertempuran berdarah yang seru malam itu seolah-olah kembali terbayang di depan
matanya.
Salju nan putih, darah yang merah .... Darah berceceran di atas salju, salju yang putih menjadi
merah. Demikian pula sinar golok yang kemilau itu menjadi merah, kemana sinar golok
menyambar dan berkelebat, asap merah segera beterbangan kemana-mana.
Butiran keringat sebesar kacang berketes-ketes di atas jidat Siau Piat-li, itulah keringat dingin.
Lama sekali baru dia menarik napas, katanya, "Orang yang tidak menyaksikan peristiwa malam
itu, sekali-kali tidak akan percaya dan membayangkan betapa dahsyat dan menakutkan golok itu,
tokoh-tokoh kosen dari Bu-lim, ternyata sebagian besar mampus oleh sambaran golok ini!"
"Kau tahu siapa saja orang-orang itu?"
Siau Piat-li tidak tahu. Kecuali Ban-be-tong-cu, tiada orang kedua yang tahu.
"Aku hanya tahu," ujar Siau Piat-li, "orang-orang itu tiada satu pun yang tidak membencinya!"
Semakin tebal rasa ngeri dalam sorot matanya, kedua jari-jarinya terkepal kencang, katanya lebih
lanjut dengan serak, "Golok yang satu ini tidak layak berada di tangan seorang manusia awam

yang mempunyai darah dan daging. Itulah golok iblis yang hanya dapat digembleng dari lapisan
neraka ke delapan belas!"
"Kau takut terhadap golok itu?"
"Aku ini manusia, tidak bisa tidak harus takut!"
"Oleh karena itu sekarang kau pun takut juga terhadap Pho Ang-soat, karena kau mengira
golok itu sekarang berada di tangannya."
"Sayang sekali, hal ini tidak akan membawa rezeki bagi dia."
"Ah, masa ya?"
"Karena golok iblis itu selalu membawa kematian dan sial bagi siapa saja," suaranya tiba-tiba
berubah amat misterius, kedengarannya mirip benar dengan kutukan suara yang berkumandang
dari neraka.
Tak tertahan Yap Kay bergidik seram dibuatnya, katanya tertawa dipaksakan, "Tapi dia masih
belum ajal juga."
"Sekarang memang belum, tapi tak boleh diingkari bahwa selama hidupnya, jiwanya akan
terkubur oleh golok itu juga, kalau dia hidup, dia tidak akan pernah mengecap kesenangan,
karena dalam sanubarinya hanya dilandasi dendam tiada lainnya."
Yap Kay tiba-tiba berdiri, dia memutar badan mendekati jendela, lalu membukanya. Seolah-olah
dia merasa dirinya amat gerah dan sumpek, begitu sumpeknya sampai bernapas pun sesak.
Siau Piat-li mengawasi bayangan punggungnya, katanya tertawa, "Tahukah kau, sejak mula
aku selalu mencurigai dirimu."
Yap Kay tidak menjawab, dia pun tidak berpaling. Kegelapan nan kelam di luar jendela laksana
arang.
"Kuminta kau membunuh Ban-be-tong-cu, tujuanku hanya untuk memancing dirimu."
"O, begitu?"
"Tapi bukan aku yang memikirkan akal ini, malam itu ada tiga orang yang berada di atas
lotengku."
"Dan seorang lagi adalah Ban-be-tong-cu."
"Ya, memang dia."
"Ting Kiu salah seorang pembunuh di luar Bwe-hoa-am malam itu?"
"Dia belum setimpal, dia tidak lebih hanya si bungkuk yang tamak harta belaka."
"Oleh karena itu kalian menyogoknya."
"Tapi kami tidak berhasil menyogok kau, waktu itu aku tidak pernah mengira, kau bakal
menceritakan hal ini kepada Ban-be-tong-cu, imbalan yang kupertaruhkan sebetulnya tidak kecil."
"Imbalan yang kau keluarkan memang cukup untuk menyogok banyak orang, sayang sekali
orang-orang itu sekarang sudah menjadi mayat semua."
"Kematian mereka tidak perlu dikasihani tidak perlu dibuat sayang."
"Dan yang disayangkan Pho Ang-soat tetap hidup, dia tidak mati seperti yang diinginkan
kalian."
"Hal itu sebetulnya tidak perlu dibuat sayang, karena aku sudah tahu cepat atau lambat akan
datang suatu hari dia pun pasti akan mampus di bawah golok itu."
"Be Khong-cun maksudmu?"
"Kau kira Pho Ang-soat bisa menemukan dia?"

"Kau kira dia tidak akan bisa menemukannya?
"Memangnya dia seorang yang mirip serigala, sekarang berubah jadi rase, rase biasanya
memang sukar dicari, sudah tentu lebih sukar dibunuh "
"Kalau mendengar ucapanmu ini, juragan toko kulit pasti akan menentangnya."
"Kenapa?"
"Jika tiada rase yang mati, darimana datangnya kopor, tas dan dompet serta baju luar yang
terbuat dari kulit rase itu?"
Terkancing mulut Siau Piat-li, dia tidak bisa menyangkal.
"Jangan lupa di dunia ini masih ada anjing pemburu, dan anjing pemburu biasanya memiliki
hidung yang tajam "
Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa dingin pula, "Umpama benar Pho Ang-soat memiliki hidung
setajam anjing pemburu, tapi mungkin sekarang dia hanya bisa mengendus bau pupur wangi di
bawah perempuan saja."
"Kenapa?"
"Karena Cui-long!"
"Memangnya dia pergi membawa Cui-long?" Siau Piat-li manggut-manggut.
"Apakah Cui-long berada di sampingnya, lalu dia tidak akan berhasil menemukan Be Khongcun?"
"Jangan lupa perempuan biasanya paling menyenangi barang-barang antik dan perhiasan,
bukan jaket kulit rase."
Kali ini Yap Kay yang terkancing mulutnya.
Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa pula, katanya, "Sebetulnya apakah Pho Ang-soat bakal bisa
menemukan Be Khong-cun, memangnya ada sangkut-paut apa dengan aku? Apa pula sangkutpautnya
dengan kau?"
Lama juga Yap Kay termenung, lalu menatapnya nanar, katanya pelan-pelan, "Kenapa tidak
kau tanya orang macam apa aku sebenarnya?"
"Aku pernah bertanya, banyak orang pun pernah bertanya."
"Kenapa sekarang kau tidak bertanya?"
"Karena aku sudah tahu kau she Yap bernama Kay."
"Tapi orang macam apa pula Yap Kay sebenarnya?"
"Dalam pandanganku dia tidak lebih pemuda yang suka iseng mencampuri urusan orang lain."
"Kali ini kau yang salah," ujar Yap Kay tertawa.
"Kenapa salah?"
"Yang ku campuri bukan urusan iseng."
"Bukan?"
"Pasti bukan!"
Lama sekali Siau Piat-li balas mengawasinya, tiba-tiba bertanya, "Siapa kau sebetulnya?"
Yap Kay tertawa, ujarnya, "Aku tahu kau pasti akan mengulangi pertanyaan ini."
"Urusan yang kau ketahui memang terlalu banyak."
"Sebaliknya urusan yang kau ketahui terlalu sedikit."
Siau Piat-li tertawa dingin.

"Kau tidak akan mengakui hal ini?"
Siau Piat-li tetap tertawa sinis.
Tiba-tiba Yap Kay maju mendekat, membungkuk badan, entah membisiki beberapa patah kata
apa di pinggir kupingnya.
Begitu lirih kata-katanya, kecuali Siau Piat-li, siapa pun terang tak mendengar.
Hanya mendengar sepatah kata saja, senyuman dingin yang menghias muka Siau Piat-li
seketika membeku, setelah Yap Kay selesai dengan perkataannya, setiap jengkal kulit daging
sekujur badannya seolah-olah tegang dan mengejang.
Angin menghembus dari jendela, sinar pelita bergoyang-goyang dan berkelap-kelip. Sinar pelita
yang bergoyang-goyang menyinari mukanya, dalam sekejap ini roman mukanya itu seolah-olah
sudah berganti rupa menjadi bentuk roman muka orang lain.
Waktu Yap Kay mengawasi, rona matanya juga seperti sedang mengawasi seorang lain. Tiada
orang yang bisa melukiskan mimik mukanya dengan kata-kata. Bukan saja heran dan melengak
kaget, bukan saja dilembari rasa takut, tapi juga perasaan hancur dan luluh. Hanya seseorang
yang merasa segalanya sudah hancur dan luluh, maka rona mukanya baru menampilkan mimik
seaneh itu.
"Sekarang apakah kau sudah mengakui?" tanya Yap Kay kemudian.
Siau Piat-li menarik napas, sekujur badannya seolah-olah mendadak mengkeret. Namun
sejenak berselang baru dia menghela napas, "Memang apa yang kutahu terlalu kerdil, aku
memang salah!"
"Kan sudah kukatakan, setiap orang pasti pernah dan tak terhindar untuk berbuat kesalahan."
"Sekarang aku baru sadar dan benar-benar memahami maksud hatiku, meskipun hal ini sudah
terlambat, tapi kukira lebih baik juga daripada tidak tahu sama sekali." Lalu dia menunduk
mengawasi dadu di atas meja "Semula kukira dadu-dadu ini bisa memberitahu banyak urusan
kepadaku, siapa tahu apa pun dia tidak memberitahu, hasilnya nihil!"
Dadu itu mengkilap tersorot sinar pelita, tangan diulurnya, lalu digenggam dan digosok-gosok
di telapak tangannya.
Tangannya kelihatan kurus panjang dan bersih kering.
Mengawasi dadu di tangan orang, Yap Kay berkata, "Bagaimana pun juga dia sudah menemani
kau beberapa tahun lamanya."
"Dadu ini sudah menemaniku mengatasi banyak kesepian, jika tanpa dadu-dadu ini,
kehidupanku pasti terasa lebih tersiksa, oleh karena itu walau dia menipu aku, aku tidak
menyalahkannya."
"Aku mengerti."
"Kau juga mengerti?"
"Jika ada orang menipumu, paling tidak lebih mending daripada hidup kesepian."
Siau Piat-li tertawa pilu, ujarnya, "Kau memang tahu, maka aku selalu merasa bila mengobrol
bersama kau, bagaimana pun merupakan suatu kejadian yang menggembirakan."
"Terima kasih."
"Oleh karena itu aku ingin menahanmu di sini untuk menemani aku, sayang sekali aku pun tahu
kau pasti tidak mau." Dengan tertawa getir dia menghela napas, mendadak dia turun tangan, jarijarinya
mencengkeram pergelangan tangan Yap Kay.
Gerak-geriknya sebetulnya begitu indah gemulai dan wajar, tapi gerakan tangannya kali ini
berubah begitu cepat laksana kilat, begitu cepatnya boleh dikata tiada orang yang mampu
meluputkan diri. Jari-jari tangannya hampir menyentuh tangan Yap Kay.

"Krak", tiba-tiba terdengar sebuah benda yang teremas hancur. Tapi bukan pergelangan tangan
Yap Kay, tapi adalah kotak tempat dadu yang terletak di atas meja. Pada detik-detik itulah secepat
kilat Yap Kay menggunakan kotak kayu tempat dadu ini untuk menggantikan tangannya.
0oo0
Kotak itu sebetulnya terbuat dari kayu cendana yang terukir indah dan berwarna gelap
mengkilap serta keras sekali. Kayu seperti itu terang jauh lebih keras dan kuat dibanding tulang
tangan siapa pun, tapi berada di dalam cengkeraman jari-jari Siau Piat-li, ternyata berubah seperti
kayu yang keropos dan teremas hancur-lebur.
Bubuk kayu berjatuhan melalui celah-celah jari tangannya. Sementara Yap Kay ternyata berada
tiga kaki dari tempat duduknya semula.
Lama juga Siau Piat-li baru bersuara sambil mengangkat kepala, "Kau mempunyai sepasang
tangan yang lincah."
Yap Kay tersenyum, ujarnya, "Oleh karena itu aku ingin mempertahankannya, mempertahankan
di atas lenganku ini."
"Tentunya kau pun memiliki hidung setajam anjing pemburu "
"Hidung inipun tidak boleh diremas hancur, terutama kedua tanganmu itupun tidak boleh
dibuat cacad." Setelah puluhan tahun mengucek dan meremas-remas dadu yang terbuat dari biji
besi, peduli benda apa pun yang berada di tangannya, pasti akan teremas hancur dengan mudah.
Yap Kay tertawa, katanya pula, "Dadu ini sudah menemani kau puluhan tahun, kotaknya yang
indah itu malah kau remas hancur, bukankah orang yang melihatnya bisa merasa kecewa dan
dingin bulu kuduknya."
Siau Piat-li menghirup napas, mulutnya menggumam, "Agaknya kau memang orang yang tidak
berperasaan sedikit pun." Badannya tiba-tiba mencelat, dengan tongkat besi di tangan kirinya
sebagai poros, dia gunakan tongkat besi di tangan kanan menyapu.
Tiada orang yang bisa melukiskan perbawa dari sapuan tongkatnya ini. Kamar sekecil ini boleh
dikata sudah terkurung dan penuh oleh bayangan tongkat besi yang luar biasa dahsyat dan
hebatnya itu. Begitu tongkat menyapu datang, dalam rumah ini seperti mendadak terbit angin
lesus.
Namun Yap Kay tahu-tahu sudah berada di langit-langit rumah. Dengan ujung jarinya dia
menggantol belandar. Mendadak Siau Piat-li berjumpalitan di tengah udara, kedua tongkat besinya
teracung ke atas. Dari dalam kedua tongkat ini mendadak melesat keluar puluhan bintik-bintik
sinar dingin laksana bintang beramburan.
Toan-yang-ciam!
Toan-yang-ciam miliknya ternyata disembunyikan di dalam tongkat besinya, bahwasanya kedua
tangannya tidak usah bergerak, tak heran tiada orang tahu cara bagaimana dia membunuh para
korbannya.
Sebatang Toan-yang-ciam saja sudah tiada orang yang bisa meluputkan diri. Apalagi Toanyang-
ciam yang tersambit sekarang cukup untuk mencabut jiwa tiga puluh orang. Tapi Yap Kay
justru adalah orang yang ketiga puluh satu. Tiba-tiba bayangannya lenyap tak berbekas. Setelah
dirinya kelihatan lagi, Toan-yang-ciam ternyata sudah tidak berbekas lagi.
0oo0
Siau Piat-li kembali duduk di atas kursinya, seolah-olah sedang mencari jarum-jarumnya yang
sudah tidak berbekas itu. Dia tidak bisa mempercayai kenyataan ini.
Selama puluhan tahun Toan-yang-ciam hanya pernah gagal sekali, pertama kali di luar Bwehoa-
am.

Dia percaya tidak akan pernah terjadi lagi untuk yang kedua kalinya. Tapi sekarang mau tidak
mau dia harus percaya.
Seringan kapas Yap Kay melayang turun, lalu duduk kembali di hadapannya, dengan tenang
dan diam saja dia mengawasi muka orang.
Suasana dalam rumah tenang kembali, tiada angin, tiada jarum menyambar, seolah-olah tiada
terjadi apa-apa. Entah berapa lama berselang, Siau Piat-li kembali menghela napas, katanya, "Aku
ingat ada orang pernah bertanya kepadamu, sekarang aku pun ingin bertanya kepadamu."
"Silakan bertanya."
Siau Piat-li menatapnya, katanya sepatah demi sepatah, "Kau sebetulnya apakah manusia?
Apakah terhitung sebagai manusia?"
Yap Kay tertawa. Bila ada orang mengajukan pertanyaan ini padanya, dia selalu merasa
gembira, karena ini menandakan apa yang barusan dia lakukan, sebetulnya tiada orang lain yang
mampu melakukannya juga
Sudah tentu Siau Piat-li tidak menunggu jawabannya, katanya pula, "Tiga kali barusan aku
menyerangmu, sebetulnya tiada orang lain yang mampu meluputkan diri."
"Aku tahu."
"Aku ingin kau mampus."
"Kau tidak usah menjelaskan."
"Tapi sekalipun kau tidak balas menyerang kepadaku."
"Kenapa aku harus membalas, kan kau yang ingin aku mati, bukan aku yang ingin kau
mampus."
"Lalu apa yang kau ingin kan?"
"Tiada yang kuinginkan," sahut Yap Kay tertawa, lalu menyambung, "Kau tetap boleh membuka
sarang pelacuranmu di sini, bermain dadu, minum arakmu sendiri pula."
Kedua kepalan Siau Piat-li tergenggam kencang, kelopak matanya memicing, katanya pelanpelan,
"Dulu aku melakukan ini, karena aku punya tujuan, karena aku ingin melindungi Be Khongcun,
ingin aku menunggu orang itu datang membunuhnya." Mungkin karena derita pukulan
batinnya, kulit mukanya berkerut-kerut mengejang, suaranya menjadi serak, "Sekarang tiada
sesuatu beban pikiranku lagi, mana bisa aku tetap hidup lebih lanjut seperti ini."
Yap Kay menghembuskan angin dari mulutnya, katanya tawar, "Itulah urusanmu sendiri, kau
harus bertanya kepada dirimu sendiri"
Dengan tersenyum dia berbangkit, putar badan terus tinggal pergi. Langkahnya tidak cepat,
namun tidak berpaling lagi, juga tidak berhenti. Memang sekarang tiada orang yang mampu
menahan dirinya.
0oo0
Tapi Siau Piat-li terpaksa harus tetap tinggal di sini. Dia tiada tempat tujuan lain kecuali
menetap di sini.
Mengawasi punggung Yap Kay yang beranjak keluar pintu, mendadak sekujur badannya
gemetar keras, keringat dingin pun bercucuran membasahi badan. Seperti anak kecil yang
ketakutan setelah tersentak bangun dari mimpi buruk. Tapi kenyataan memang Siau Piat-li seolaholah
baru saja siuman dari mimpi buruk, tapi setelah dia sadar, tekanan batin yang bersemayam
dalam benaknya lebih membuatnya menderita dan tersiksa daripada dalam impian buruk itu.
Malam telah larut, lebih tenang. Tiada manusia, tiada suara apa pun, dadu di atas meja di
bawah penerangan pelita juga masih tergeletak di situ. Mendadak dia renggut dadu-dadu itu terus

dilempar keluar dengan sisa tenaganya. Waktu dadu tersambit keluar, air matanya pun tak
tertahan bercucuran ....
Seseorang bila tiada alasan lagi untuk mempertahankan hidup, umpama dia berumur panjang,
hidupnya bakal sia-sia juga, tiada bedanya dengan orang mati.
Di situlah letak derita terbesar bagi manusia. Pasti tiada yang jauh lebih besar.
Fajar telah menyingsing, cahaya keemasan cemerlang di ufuk timur.
Kegelapan malam akhirnya berlalu, cepat atau lambat pancaran sinar matahari akan
menggantikannya.
Langit berwarna biru kehijauan, sudah tidak kelihatan lagi cahaya api dan asap. Betapapun
besar kobaran api, akhirnya pasti padam.
Orang-orang yang berjuang memadamkan kebakaran sudah pulang, Yap Kay berdiri di lereng
gunung, mengawasi piung-puing yang sudah rata dengan bumi.
Walau dalam hati dia merasa sayang, namun sedikit pun dia tidak merasa sedih Karena dia
menyadari bumi seluas ini dengan segala benda-benda di permukaannya pasti tidak akan bisa
dihancur-leburkan keseluruhan, demikian pula jiwa manusia. Memangnya jiwa dan sukma manusia
sambung menyambung bergiliran hidup dalam mayapada ini. Maka bumi dan segala makhluknya
akan tetap hidup abadi.
Dia tahu jiwa kehidupan bakal tumbuh lagi dari bawah puing-puing yang sudah runtuh ini.
Kehidupan jiwa yang indah. Seolah-olah terbayang pula suatu bentuk pemandangan indah di
depan matanya, seluas mata memandang warna hijau melulu.
Hembusan angin yang sepoi-sepoi, lapat-lapat membawa kumandang suara kelintingan,
semakin lama kelintingan itu semakin nyaring merdu, disusul suara cekikik tawa yang nyaring
merdu berpadu.
Dengan menggandeng tangan anak kecil itu Ting Hun-pin tengah mendatangi, katanya tertawa
semerdu kelintingan, "Kali ini ternyata kau malah sudah tiba lebih dulu."
Yap Kay tersenyum sambil mengawasi bocah itu. Melihat raut muka si bocah yang diliputi
gairah hidup, dia tahu keyakinan dan kepercayaan dirinya selamanya tepat dan betul. Segera dia
menyongsong maju, ditariknya tangan si anak yang lain, dia ingin membawa bocah ini ke suatu
tempat, ingin dia memendam dendam dan sakit hati yang bersemayam dalam dada si bocah di
sana.
Dia mengharap kelak bila bocah ini sudah tumbuh dewasa, hanya cinta kasih yang melandasi
jiwanya, tiada dendam tiada permusuhan.
Bahwa generasi yang sekarang bergelimang hidup dalam suasana dendam dan permusuhan,
lantaran terlalu banyak sakit hati dan dendam bersemayam dalam sanubari mereka, tiada terbetik
rasa cinta sedikit pun. Oleh karena itu bila generasi mendatang bisa hidup subur dan sehat derita
dan siksa, hidup mereka sekarang terhitung ada harganya untuk dikenang, biarlah semua ini
berlalu dibawa sang waktu.
Bekas bacokan di atas batu nisan masih tetap ada air mata darah, ternyata sudah kering dan
tak berbekas lagi.
Dengan menarik tangan si bocah Yap Kay berlutut di depan pusara, di depan batu nisan.
"Inilah saudara ayah kandungmu, selalu harus kau ingat jangan sekali-kali kau bermusuhan
dengan keturunan dari keluarga yang sudah meninggal ini."
"Aku akan selalu ingat."
"Kau bersumpah tidak akan melupakan selamanya?"
"Aku bersumpah."

Yap Kay tertawa, tertawa riang gembira "Aku tahu kau memang anak yang baik."
"Aku ingin mencari ayah dan Cici, kau mau tidak mengajak aku?"
"Sudah tentu aku akan mengajakmu."
"Kau bisa menemukan mereka?"
"Kau harus ingat, asal kau punya keyakinan, tiada persoalan yang tak bisa diselesaikan di dunia
ini." Bocah itu tertawa riang.
0oo0
Kini padang rumput kelihatan menjadi liar dan belukar, selayang pandang kesunyian melulu.
Jauh di ujung langit bersentuhan dengan bumi, cuaca kelihatan guram.
Bendera besar Ban-be-tong apakah masih akan berkibar lagi untuk selamanya?
Angin sedang mengamuk, laksana badai seperti gelombang pasang.
Dengan langkah lebar Yap Kay menyusuri jalan yang sepi itu.
Belakangan ini dia sudah hapal dengan seluk-beluk daerah sekitar sini, boleh dikata dia sudah
amat berat untuk meninggalkan tempat ini. Tapi sekarang hatinya sedang dihayati kesedihan yang
sukar terputus menjelang berpisah. Karena dia tahu kelak dia pasti akan kembali lagi.
Tatkala itu sang surya baru terbit, menyorotkan sinar ke pinggir kota.
Setiap orang pasti ingin hidup.
Setiap orang memang punya alasan dan hak untuk mempertahankan hidupnya.
0oo0
BAB 27. GOLOK TERLOLOS
Musim rontok.
Daun rontok sedang berkembang dalam hutan ini. Hutan di pedalaman gunung yang jauh dari
keramaian dunia.
Tiga puluh empat ekor kuda, dua puluh tujuh penunggang. Orang-orang itu bersorak-sorai di
punggung kuda yang dilarikan memasuki hutan.
Kuda-kuda jempolan, kuda-kuda gagah, penunggangnya pun bertubuh kekar dan kasar. Tapi
muka mereka diliputi perasaan dingin kejam dan dendam, ada di antaranya ternyata terluka, tapi
mereka tidak menghiraukan luka-luka badannya, karena hasil dari operasi mereka kali ini jauh
lebih memuaskan dari biasanya.
Yang mereka buru adalah manusia, keringat dan jerih payah manusia. Keringat dan darah
orang lain.
Hasil panen mereka sudah berada di punggung kuda, itulah empat puluh peti warna perak
memutih yang berat.
Orang memaki mereka berandal, perampok, tapi mereka tidak peduli.
Yang terang mereka pandang dan anggap diri sendiri adalah Hohan, orang-orang gagah, Loklim
Hohan. Orang-orang gagah dari kawanan berandal.
Orang-orang gagah dari kalangan berandal biasanya harus menggunakan cawan besar untuk
minum arak, makan daging sudah tentu harus mengiris segumpal yang besar.
Arak secawan besar, daging yang besar pula.

Peti-peti perak itu semua tertaruh di atas meja, mereka menunggu pembagian dari ketua
mereka. Ketua atau Lotoa mereka adalah seorang laki-laki bermata satu, biasanya dipanggil Tokgan-
liong (Naga mata tunggal).
Matanya yang buta suka dibalut dengan selarik kain hitam, karena dia merasa dirinya akan
lebih berkuasa, punya wibawa yang lebih menakutkan.
Sebenarnya dia memang laki-laki yang punya wibawa, karena walau dia kejam dan telengas,
dia berlaku adil. Hanya orang yang tahu keadilan baru setimpal menjadi pentolan atau dengan
istilah Lotoa bagi orang gagah kaum Lok-lim. Apalagi dia mempunyai dua pembantu di kanan
kirinya yang sembarang waktu siap mengadu jiwa demi keselamatannya, yang seorang cerdik
pandai, yang lain gagah berani.
Yang berani bernama To-lo-hou (si jagal harimau). Dan yang cerdik bernama Pek-bin-longtiong
(kelana bermuka putih).
Bagi kaum Lok-lim jika tidak mempunyai julukan yang seram dan besar, tidak setimpal dia
menjadi begal atau perompak. Oleh karena itu boleh dikata sebagian besar di antara mereka
sudah melupakan nama-nama asli mereka semula.
^»"«^
Otak To-lo-hou (si jagal harimau) sebetulnya tidak lebih pandai dari seekor harimau sungguhan,
terutama setelah dia menenggak air kata-kata boleh dikata dia malah lebih goblok dari seekor
harimau, tapi jauh lebih garang dan buas dari harimau. Terutama sepasang tinjunya teramat
ganas dan keji.
Kabarnya sekali hantam dia bisa memukul mampus seekor harimau besar, walau belum pernah
ada orang menyaksikan, tapi tiada orang yang berani tidak percaya atau curiga kepadanya. Karena
sekali pukul membuat jiwa orang melayang sudah tidak sedikit jumlahnya.
Kali ini waktu mereka keluar memburu mangsanya, dua Piauthau dari Tin-wan Piau-kiok yang
dijuluki Thi-kim-kong, keduanya mampus hanya sekali kena pukulannya. Oleh karena itu bagian
jatah dari hasil operasi mereka kali ini dia mendapat paling banyak, orang banyak juga memuji
dan mengagulkan dirinya.
"Thi-kim-kong segala, kebenturan kepalan Ji-cecu kita, jangan kata besi, tak ubahnya mereka
seperti kertas yang sekali tekuk lantas terlempit tak berkutik lagi."
Tok-lo-hou bergelak tawa kesenangan.
Tapi mendadak dia melengak dengan mulut terpentang lebar, karena tiba-tiba terasa olehnya
gelak tawa anak buahnya serempak sirap dan melongo, semuanya memandang keluar pintu
dengan pandangan terbelalak. Waktu dia ikut memandang ke sana, gelak tawanya seketika
berhenti juga. I lampir saja dia tidak mau percaya akan pandangan matanya.
Seseorang tengah melangkah masuk dengan langkah gemulai dari pintu besar di luar sana.
Seorang yang tidak mungkin dan tidak pantas muncul di tempat seperti ini, itulah seorang
perempuan, perempuan cantik jelita yang membuat semua laki-laki yang melihatnya tahan napas
dan menelan air liur.
^°"*^
Tempat ini dinamakan Liong-hou-ce Letaknya di belakang hutan cemara, sekelilingnya dipagari
puncak-puncak gunung dengan pemandangannya yang indah dan aneh-aneh, mirip seekor
binatang liar yang sedang membuka lebar mulutnya menunggu mangsa untuk dicaplok.
Kawanan laki-laki penghuni Liong-hou-ce inipun merupakan serombongan binatang-binatang
liar. Siapa pun takkan sudi dicaplok binatang liar, oleh karena itu bukan saja daerah ini jarang
kelihatan ada orang asing, sampai pun burung terbang pun takut lewat di sini.
Tapi hari ini di tempat itu kedatangan seorang perempuan yang masih asing. Perempuan ini
mengenakan gaun panjang warna putih dengan baju hitam berlengan panjang pula, keduanya

terbuat dari kain halus, rambutnya yang panjang terurai mayang berwarna hitam legam. Seluruh
kepalanya penuh bertaburan zamrud dan mutiara, sinarnya yang kemilau beradu terang, membuat
rambutnya kelihatan semakin hitam, kulit mukanya putih halus.
Roman mukanya dihiasi senyuman manis yang menandakan kematangannya, langkahnya
gemulai dan meliuk-liuk, pelan-pelan beranjak masuk, mirip benar dengan perempuan agung yang
hendak memasuki gelanggang perjamuan yang sengaja diadakan untuk menghormati dan
menyambut kedatangannya.
Mata semua hadirin terbelalak, seperti mata ikan mas yang melotot keluar Mereka bukan lakilaki
yang belum pernah melihat perempuan, tapi perempuan seperti ini sungguh belum pernah
mereka lihat selama hidup.
Lotoa mereka sadar paling dahulu, tapi Lotoa biasanya tidak sembarangan mau buka mulut.
Maka dengan menarik muka segera dia memberi kedipan kepada To-lo-hou, segera dia
menggebrak meja dan membentak bengis, "Kau siapa?"
Perempuan jelita bergaun panjang mengunjuk seri tawa manis, katanya lembut, "Masakah
kalian tidak melihat bahwa aku ini seorang perempuan?"
Dari kepala sampai ujung kaki seratus persen memang dia perempuan, orang buta pun akan
merasakan bahwa dia adalah perempuan.
To-lo hou segera menarik muka, serunya, "Untuk apa kau datang kemari?"
Semakin manis dan lebar senyuman si jelita, sahutnya, "Kami hanya ingin menetap tiga bulan
di sini. Boleh tidak?"
Memangnya perempuan ini sudah gila. Ternyata dia menyerahkan diri mau tidur di sarang
penyamun selama tiga bukan?
"Aku harap kalian sudi menyerahkan kamar di sini yang paling bagus untuk kami, seprei dan
bantal guling yang harus kami pakai lebih baik kalau setiap dua hari diganti.
"Kami biasanya suka bersih, soal makan sih boleh sekadarnya, setiap sarapan pagi siang dan
malam asal ada lauk-pauk daging sapi sudah cukup, tapi harus daging sapi yang masih segar dan
muda serta gurih, terutama daging pinggangnya, daging dari tempat lainnya kami tidak mau.
"Siang hari kami tidak biasa minum arak, tapi setiap malam kami harap kalian suka
menyediakan beberapa macam arak, terutama bila kalian mampu menyediakan anggur Persia,
atau boleh juga Ciu-yap-cing yang sudah tersimpan tiga puluh tahun.
"Di saat kami tidur, semoga kalian membagi orang dalam tiga kelompok untuk meronda dan
berjaga secara bergantian setiap malam, tapi dilarang bersuara gaduh, karena kami gampang
dikejutkan di waktu tidur, sekali siuman takkan gampang tidur lagi.
"Lain tempat sih terserah bagaimana kalian mengaturnya, aku tahu kalian memangnya orangorang
kasar, oleh karena itu kami tidak terlalu membatasi kebebasan kalian."
Semua orang saling berpandangan mendengar uraian dan ocehannya, seperti menyaksikan si
gila yang sedang bertembang dan berdendang.
Tapi tutur katanya wajar dan lincah serta lancar, seolah-olah apa yang dia minta sudah
merupakan keharusan dan jamak, terang takkan ada orang yang berani menolak permintaannya.
Setelah orang habis bicara, tak tertahan To-lo-hou tertawa, katanya, "Kau kira tempat apa ini?
Sebuah penginapan? Atau warung makan?"
Si jelita itu tertawa riang, ujarnya, "Tapi kami tidak akan mau membayar!"
To-lo-hou menahan geli, godanya, "Atau kami saja yang membayar kepadamu?"
"Kalau kau tidak mengingatkan, hampir saja aku lupa, harta atau uang perak yang berada di
atas meja, kami pun ingin mendapat bagian."

"Berapa banyak bagian yang kau minta?"
"Cukup separo saja."
"Apa separo tidak terlalu sedikit?" tanya To-lo-hou.
"Barusan sudah kukatakan, kami tidak akan terlalu mendesak dan meminta berlebihan."
Kembali To-lo-hou tergelak-gelak dengan menengadah, seperti belum pernah dia mendengar
lelucon yang menggelikan hatinya. Setiap orang ikut tertawa, hanya Tok-gan-liong dan Pek-binlong-
tiong bersikap serius
Kulit muka Pek-bin-long-tiong kelihatannya lebih putih dari kertas, katanya tiba-tiba, "Tadi kau
katakan kalian hendak datang, kalian ada berapa orang?"
"Hanya dua orang saja."
"Siapakah yang satu lagi?"
"Sudah tentu suamiku, memangnya aku sudi tidur seranjang dengan laki-laki lain?"
"Mana orangnya?"
"Di luar."
Tiba-tiba Pek-bin-long-tiong tertawa, katanya, "Kenapa tidak kau undang masuk?"
"Wataknya amat jelek, aku kuatir dia turun tangan melukai kalian."
Pek-bin-long-tiong tersenyum, katanya, 'Atau kau yang kuatir kami melukai dia?"
"Bagaimana pun juga," ujar si jelita tertawa manis, "kami kemari sebagai tamu, bukan untuk
berkelahi."
"Kalau begitu tepat benar kedatangan kalian, orang-orang kita di sini memangnya tidak suka
berkelahi." tiba-tiba Pek-bin-long-tiong tertawa dingin sembari menarik muka. "Orang-orang kita di
sini biasanya cuma suka membunuh orang!"
0oo0
Dari pekarangan masih kelihatan hutan cemara di luar sana
Orang itu sedang berdiri di dalam pekarangan, menghadap ke hutan dan memandang jauh ke
alam pegunungan sekitarnya.
Hari sudah mendekati magrib, gunung-gemunung di kejauhan sudah berubah warna menjadi
hijau kegelapan, di sore hari di musim rontok ini, alam semesta ini seolah-olah diliputi suasana
yang serba kritis dan hambar.
Biji mata orang ini seperti pula warna pegunungan di kejauhan sana, dingin, kosong dan
hambar.
Dia menggendong kedua tangannya, berdiri diam tak bergerak, dengan tenang memandang
panorama yang terbentang di depan matanya. Tapi dia sendiri merasa dirinya berada di tempat
yang lebih jauh dari gunung-gemunung itu, seolah-olah dirinya sudah terlepas dari kehidupan
duniawi yang nyata.
Sinar surya di waktu senja memancarkan cahaya yang terakhir, sehingga mukanya kelihatan
menguning kelabu Kerut keriput pada roman mukanya bertambah banyak dan dalam, setiap jalur
kerut keriput itu seolah-olah mengandung pengalaman hidup yang getir, derita dan siksa,
pengalaman yang pahit dan berat.
Mungkin dia sudah terlalu tua, tapi pinggangnya masih berdiri tegak dan kekar, dalam
badannya masih terpendam suatu kekuatan yang hebat dan menakutkan. Perawakannya memang
tidak tinggi, badannya tegap, tapi kekuatan terpendam itu membuat dirinya kelihatan gagah,
berwibawa, sehingga orang yang berhadapan dengannya timbul rasa hormat kepadanya.

Sayang sekali kaum perompak yang berpangkalan di sini biasanya tidak kenal istilah sopansantun,
tidak tahu menghormati siapa pun.
To-lo-hou mempelopori anak buahnya menerjang keluar, orang pertama yang melihat orang
itu.
"Apakah kakek tua ini?" mendadak To-lo-hou terkial-kial. "Sekali tinju kalau aku tidak membikin
dia mampus, biarlah dia kupandang sebagai kakek moyangku selama tiga tahun!"
Berkata si jelita tawar, "Kenapa tidak kau coba?"
"Kau tidak takut menjadi janda?" olok To-lohou terbahak-bahak. Dengan bergelak tawa ini dia
menerjang maju.
Perawakannya kekar dan berotot keras, suara tawanya seperti bunyi lonceng. Tapi orang tua
itu seolah-olah tidak mendengar dan tidak melihat kedatangannya. Sikapnya kelihatan malah
semakin hambar, semakin letih, seakan-akan ingin secepat mencari suatu tempat untuk istirahat.
To-lo-hou memburu ke depan orang, dari atas dia pandang orang ke bawah berulang kali,
katanya, "Apa benar kau ingin menetap tiga bulan di sini?"
Orang tua itu menghela napas, ujarnya, "Aku amat letih, tempat ini kelihatan amat tenang dan
segar
"Kalau benar ingin mencari tempat buat tidur, agaknya kau kesasar jalan ke tempat yang keliru.
Di sini tidak ada ranjang, hanya ada peti mati."
Melirik pun tidak kepadanya, orang tua itu berkata tawar, "Jika kalian tidak terima kedatangan
kami. segera kami berlalu."
To-lo-hou menyeringai sadis, jengeknya, "Kalau sudah datang, kenapa mau pergi?"
Terunjuk senyuman hina di ujung mulut orang tua itu, katanya, "Kalau begitu terpaksa aku
menunggu saja di sini."
"Menunggu apa?"
"Menunggu tinjumu."
"Kau tidak perlu menunggu lagi"
Mendadak dia turun tangan, secara berhadapan mendadak dia layangkan tinjunya menghantam
dengan seluruh kekuatannya. Sungguh pukulan mematikan, cepat, telak dan bertenaga raksasa.
Belum lagi tinjunya mengenai sasarannya, damparan anginnya yang menderu membuat rambut
uban si orang tua tertiup menari-nari.
Si orang tua sedikit pun tidak bergeming, sampai pun kelopak matanya pun tidak berkedip.
Matanya mengawasi tinju To-lo-hou, ujung mulutnya kembali menyungging senyuman hina. Maka
tinjunya tiba-tiba juga melayang ke depan. Perawakannya lebih pendek, jotosannya juga
dilontarkan lebih lambat. Tapi di waktu tinju To-lo-hou tinggal tiga dim di depan matanya, tahutahu
kepalannya sudah menjotos ke hidung To-lo-hou.
Semua hadirin mendengar suara jeritan kesakitan yang diselingi suara tulang patah. Baru saja
suaranya berkumandang, badan To-lo-hou seberat ratusan kati itu, tahu-tahu terpental membal.
Terbang sejauh empat tombak, terbanting menumbuk dinding, lalu melorot jatuh.
Waktu dia roboh, hidungnya sudah penyok, naik berada di bawah mata, selebar sukanya sudah
berubah bentuk.
Orang tua itu tetap bersikap seperti semula, melirik pun tidak, pelan-pelan dia keluarkan secarik
saputangan untuk membersihkan noda-noda darah di tangannya, sorot matanya tetap
memandang ke pegunungan di kejauhan sana.
0oo0
Rona muka Tok-gan-liong seketika berubah hebat

Setelah hilang rasa terkejut anak buahnya, serempak mereka menerjang maju sambil berteriakteriak.
Tapi Pek-bin-long-tiong mencegah mereka, lalu dia berbisik beberapa patah kata di pinggir
telinga Tok-gan-liong.
Sedetik Tok-gan-liong ragu-ragu, akhirnya dia manggut-manggut. Mendadak dia acungkan
jempol, katanya dengan tertawa menengadah, "Bagus, kepandaian bagus, tamu sehebat ini
diundang pun belum tentu kita mampu mengundangnya, sudah tentu kami tidak menolak."
Pek-bin-long-tiong tampil ke depan, katanya, "Siaute tahu Toako pasti menyambut dengan
senang hati."
Dengan langkah lebar Tok-gan-liong maju mendekat ke muka si orang tua, katanya sambil
bersoja, "Entah siapa nama sahabat ini?"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku," sahut si orang tua tawar, "kami bukan sahabat."
Tanpa berubah mimik dan sikapnya, Tok-gan-liong mengunjuk tawa pula, katanya, "Entah
berapa lama tuan ingin menetap di sini?"
"Kau tidak usah kuatir," si jelita segera menimbrung. "Tadi sudah kukatakan, hanya tiga bulan
saja." Setelah tertawa dia melanjutkan, "Tiga bulan kemudian kami akan pergi, umpama kalian
hendak menahan kami menetap sehari lagi pun tidak mau." Sebetulnya dia tahu, tiada orang yang
bakal menahan mereka lebih lama menetap di situ.
"Tiga bulan kemudian? Waktu itu kemana pula mereka harus pergi?" Bagaimana pun juga itu
urusan tiga bulan kemudian, buat apa sekarang susah-susah memikirkan tetek-bengek?
0oo0
Jari-jarinya menggenggam kencang gagang goloknya. Golok serba hitam. Demikian pula biji
matanya seperti mata boneka yang bercat hitam, gelap dan dalam, mirip benar dengan tabir
malam yang menjelang datang.
Malam di musim rontok. Pada malam gelap atau malam terang bulan, dia sudah menyusuri
jalan besar kecil, menjelajahi semua tempat. Entah sampai kapan baru akan berakhir
perjalanannya? Orang yang ingin dia cari sedemikian jauh belum terdengar kabar beritanya.
Dia sudah pernah bertanya entah berapa kali. "Adakah kau melihat seorang tua?"
"Setiap orang pernah melihat orang tua, memangnya kakek tua di dunia ini tak terhitung
banyaknya."
"Tapi kakek tua yang satu ini berlainan, empat buah jari sebelah tangan kakek ini sudah putus
tertabas."
"Tidak pernah melihat tiada orang yang tahu kabar berita orang tua ini"
Terpaksa dia berjalan lagi, berjalan lebih lanjut. Si 'dia' hanya menunduk kepala, pelan-pelan
dia menguntit terus di belakangnya. Kemana pun dia pergi. Bukan lantaran dia tidak mau jalan
berjajar di sampingnya, tapi adalah perasaannya sendiri yang menyangka orang tidak senang bila
dirinya berjalan berjajar dengannya. Walaupun selama ini tidak pernah dia utarakan isi hatinya ini,
tapi kelihatannya dia memandang rendah kepada dirinya. Mungkin yang dia pandang rendah
bukan orang lain, tapi dirinya sendiri.
Selama ini dia pun belum pernah membujuknya, menyuruhnya menghentikan pencarian ini,
bukankah pengejaran ini bakal sia-sia, tapi dia hanya tertunduk diam mengintil di belakangnya.
Mungkin dalam benaknya dia sudah tahu Pho Ang-soat selamanya tidak akan bisa menemukan
orang yang dicarinya itu.
0oo0
Jalan besar di luar gang sempit sana, sinar api terang benderang. Entah kenapa? Jika bukan
ingin mencari tahu kepada orang, dia selalu suka menempatkan dirinya di gang-gang sempit yang
gelap saja.

Sekarang akhirnya mereka sudah berada di jalan besar. Matanya segera bersinar, ujung
mulutnya yang mungil itu seketika mengulum senyuman, seolah-olah mendadak dia mendapat
kembali gairah hidupnya. Dia tidak sama dengan dia.
Dia suka keramaian, suka foya-foya, suka disanjung puji orang lain, ada kalanya dia pun
senang menolak keinginan orang, tapi hal itu dia lakukan hanya untuk meninggikan gengsi dan
harga dirinya, biasanya dia sudah cukup berpengalaman, cara bagaimana dia harus membuat hati
laki-laki senang, laki-laki tidak akan suka bergaul dengan perempuan yang dipandangnya rendah.
Saat itu merupakan suasana teramai dalam setiap rumah makan dan warung arak, jika kau
hendak mencari berita, tiada tempat lain yang lebih tepat daripada rumah-rumah makan atau
warung arak itu. Justru di jalan raya inilah merupakan komplek pertokoan dan letak dari rumahrumah
makan dan warung-warung arak itu.
Baru saja mereka beranjak keluar dari jalan sempit itu, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak
keras, "Cui-long!"
Kebetulan kedua orang itu baru saja turun dari atas loteng rumah makan sebelah jalan sempit
itu, dua laki-laki besar yang berpakaian ser^a perlente, seorang menyoreng golok, seorang yang
lain menggantung sebatang pedang di pinggangnya. Laki-laki yang menyoreng golok itu sudah
memburu maju menarik tangannya.
"Cui-long, kenapa kau bisa berada di sini? Kapan kau tiba?"
Tiada penyahutan.
"Aku sudah menasehatimu, jangan kau mengeram diri di tempat miskin itu, dengan bakatmu,
setiba di kota besar ini, dalam jangka dua tahun aku tanggung kau bisa mengirim kepingan uang
emas murni pulang dengan kereta."
Tetap tidak terdengar suara penyahutan.
"Kenapa tidak kau bicara? Kita kan kenalan lama, memangnya kau sudah lupa kepadaku!"
agaknya laki-laki bergolok ini terlalu banyak minum arak, tanpa disadari dia berteriak-teriak di
jalan raya seperti kuatir orang tidak tahu bahwa dia kenal baik dengan perempuan cantik ini.
Cui-long sebaliknya menundukkan kepala, dengan kerlingan matanya dia mengawasi sikap Pho
Ang-soat.
Pho Ang-soat tidak berpaling, namun dia menghentikan langkah, otot hijau merongkol di
punggung tangannya yang mencekal gagang golok.
Laki-laki yang menyoreng golok akhirnya berpaling mengawasi dirinya, lalu berpaling pula
kepada Cui-long, akhirnya dia pun mengerti. "Tak heran kau tidak mau bicara, ternyata sudah
punya laki-laki, tapi kenapa tidak kau cari yang bagus, yang ganteng, kenapa menaksir seorang
timpang?"
Belum lagi dia habis dengan kata-katanya, tiba-tiba dilihatnya sorot mata Cui-long yang elok itu
memancarkan rasa takut. Begitu dia menoleh mengikuti arah pandangan Cui-long, maka dia juga
melihat sepasang mata yang lain.
^»"«^
Sepasang mata ini tidak terlalu besar, juga tidak begitu tajam, tapi menampilkan maksudmaksud
tajam yang dingin.
Laki-laki bergolok ini bukan kaum keroco, bukan laki-laki berotak udang, dan lagi dia bisa
minum arak, tapi waktu kedua biji mata ini mengawasi dirinya, tanpa disadarinya mendadak dia
merasa mengkirik, berdiri bulu roma serta dingin kaki tangannya.
Dengan dingin Pho Ang-soat menatapnya, lalu mengawasi golok di pinggangnya, tiba-tiba dia
bertanya. "Kau she Peng?"

"Kalau benar kau mau apa?" bentak laki-laki bergolok dengan bengis. Agaknya dia merasa
kurang puas karena kaki tangan sendiri tiba-tiba jadi dingin, maka sikapnya menjadi garang dan
beringas terhadap orang lain.
"Kau anggota keluarga Peng dari Ngo-hou-toan-bun-to di Siamsay?"
"Kau kenal aku?"
"Meski aku tidak kenal kau, tapi aku kenal golokmu."
Mirip dengan pakaian yang dikenakan laki-laki ini, demikian pula golok itu terlalu mewah dan
berlebihan. Bentuk golok itu amat aneh, kepala goloknya amat lebar, batang goloknya semakin
lurus mengecil dan sempit, di atas gagang goloknya dihiasi benang ronce lima warna.
Laki-laki itu segera membusungkan dada, serunya keras dengan pongah, "Benar, memang aku
inilah Peng Liat!"
Pelan-pelan Pho Ang-soat manggut-manggut, katanya, "Aku pernah dengar."
Peng Liat merasa bangga, jengeknya dingin, "Memang pantas kau pernah mendengarnya."
"Aku pun pernah mendengar keluarga Peng adalah sahabat karib Be Khong-cun."
"Ya, kita memang keluarga bersahabat."
"Kau pernah bertamu ke Ban-be-tong?"
Sudah tentu Peng Liat pernah ke sana, kalau tidak, mana bisa dia kenal Cui-long.
"Tahukah kau dimana jejak Be Khong-cun sekarang?" tanya Pho Ang-soat.
"Dia tidak berada di Ban-be-tong?" kelihatan dia amat heran dan terkejut, agaknya peristiwa
tragis yang menimpa Ban-be-tong terakhir ini belum lagi diketahuinya.
Pho Ang-soat menghela napas pelan-pelan, dia amat kecewa.
"Apa kau pun kenal Sam-lopan?" tanya Peng Liat.
Pho Ang-soat menyeringai dingin, sorot matanya tertuju ke goloknya pula, "Golokmu itu
memang bagus!"
Kembali Peng Liat unjuk sikap takabur, memang goloknya jauh lebih bagus dari golok di tangan
Pho Ang-soat.
"Sayang sekali golok bukan hiasan untuk ditonton orang."
"Memangnya golok untuk apa menurut hematmu?"
"Kau tidak tahu bahwa golok untuk membunuh orang?"
"Kau kira golokku ini tidak mampu membunuh orang?"
"Paling tidak aku belum pernah melihat golokmu ini membunuh orang."
"Kau ingin melihatnya?"
"Memang ingin sekali." Rona mukanya ikut berubah, berubah lebih pucat memutih, sepintas
pandang kelihatan mengkilap bening.
Mengawasi perubahan rona muka orang, tanpa terasa Peng Liat menyurut mundur setengah
langkah, tiba-tiba dia tertawa lebar, serunya. "Lalu golokmu itu? Apakah bisa juga membunuh
orang?" Semakin takut hatinya, gelak tawanya semakin keras.
Pho Ang-soat tidak banyak bicara lagi. Kalau dia perlu bicara, tidak perlu menggerakkan mulut,
cukup dia gunakan goloknya. Bicara dengan golok, biasanya jauh lebih berguna daripada
menggunakan mulut.
Dia sudah pernah membunuh orang, membunuh orang mirip pula dengan pelacur, hanya
pertama kali saja terasa tersiksa dan menderita.

Orang yang menyoreng pedang adalah seorang pemuda yang ganteng, perawakannya tinggi,
kedua alisnya bertaut, raut mukanya selalu membayangkan senyum sinis dan menghina, agaknya
sukar dia menghargai orang lain. Selama ini dia berdiri di samping mengawasi dengan dingin kini
tiba-tiba menyeletuk, "Dulu pernah ada orang berkata demikian."
"Pernah bilang apa?" tanya Peng Liat.
"Mengatakan goloknya itu tidak bisa membunuh orang."
"Siapa yang bilang demikian?"
"Seorang yang sekarang jiwanya sudah ajal."
"Siapa dia?"
"Kongsun Toan."
"Kongsun Toan sudah mati?" Peng Liat terkesiap kaget.
"Ya, mati oleh golok ini."
Jidat Peng Liat tiba-tiba dihiasi butir-butir keringat.
"Malah Sam-lopan sendiri pun terancam dan terdesak keluar dari Ban be-tong."
"Kau ... darimana kau tahu?"
"Aku baru saja pulang dari perjalanan keluar perbatasan."
Mata Pho Ang-soat sudah menatapnya, tanyanya, "Untuk apa kau kesana?"
"Mencari kau."
Kali ini Pho Ang-soat sendiri pun merasa di luar dugaan.
"Aku ingin bertemu dan melihatmu," kata si pemuda lebih lanjut.
"Sengaja hendak melihatku?"
"Bukan melihat dirimu, tapi ingin melihat golokmu." Tanpa menunjukkan perasaan hatinya,
suaranya pun tetap tenang dan wajar, katanya menyambung, "Ingin aku melihat betapa cepat
sebetulnya golokmu ini!"
Jari-jari Pho Ang-soat mengencang, kulit mukanya yang pucat menjadi mengkilap.
"Aku she Wan bernama Wan Ceng-hong," si pemuda memperkenalkan diri. "Keluarga Wan pun
mempunyai hubungan yang mendalam dengan Ban-be-tong "
Kembali Pho Ang-soat manggut-manggut, ujarnya "Ya, sekarang aku mengerti."
"Memangnya kau harus mengerti."
"Apa sekarang kau masih ingin melihat golokku?"
"Sudah tentu."
Pho Ang-soat tertunduk, mengawasi jari-jari tangannya yang menggenggam golok.
"Tidak lekas kau cabut golokmu?" tantang Wan Ceng-hong.
"Aku masih ada pertanyaan."
"Boleh kau tanya."
"Kau sendiri pernah bertemu dengan Be Khong-cun?"
"Tidak."
"Cara bagaimana kau bisa tahu akan diriku."
"Kudengar dari orang lain."

"Siapa yang bilang?"
"Tak usah kau tahu siapa dia."
Setelah lama berdiam diri, akhirnya Pho Ang-soat mengangkat kepala, tanyanya, "Kau ingin aku
mencabut golok?"
"Ya, silakan cabut!"
"Baik, keluarkan dulu pedangmu!"
"Murid Thian-san-kiam-pay, selamanya belum pernah mencabut pedang lebih dulu."
Tiba-tiba terunjuk mimik aneh pada muka Pho Ang-soat, mulutnya menggumam, "Thian-san ...
Thian-san ...." Sorot matanya menatap ke tempat jauh, seolah-olah mengandung kenangan dan
rindu, merasa duka dan lara pula.
"Cabut golokmu!" bentak Wan Ceng-hong lagi.
Tangan Pho Ang-soat semakin kencang memegang goloknya, tangan kirinya memegang sarung
golok, tangan kanan mendadak mencekal gagang golok.
Tanpa kuasa Peng Liat menyurut mundur setengah tapak lagi, mata Cui-long yang elok itu
mendadak memancarkan sinar menyala karena merasa tegang dan haru.
Muka Wan Ceng-hong tetap beku tak berperasaan, tapi tanpa sadar jari-jari tangannya pun
mencekal gagang pedang.
"Thian-san ... Thian-san ...." sekonyong-konyong sinar berkelebat. Hanya berkelebat sekilas
saja. Setelah mata orang melihat sinar golok yang berkelebat melebihi kecepatan kilat itu, tahutahu
golok di tangan Pho Ang-soat sudah kembali masuk ke dalam sarungnya lagi.
Kebetulan hembusan angin berlalu, benang-benang sutra seketika beterbangan terbawa angin.
Kiranya ronce benang sutra merah di gagang pedang Wan Ceng-hong sudah terpapas putus.
Pho Ang-soat tetap menundukkan kepala, mengawasi goloknya sendiri, katanya, "Sekarang kau
sudah melihatnya."
Muka Wan Ceng-hong tetap tidak berubah, membesi kaku, tapi jidatnya sudah basah oleh
butiran keringat dingin. "Sekarang aku sudah melihatnya."
"Golokku ini sebetulnya bukan untuk ditonton orang, tapi hari ini aku melanggar kebiasaanku
untukmu."
Sepatah kata pun Wan Ceng-hong tidak bersuara lagi, pelan-pelan dia putar badan, tinggal
pergi masuk ke jalan sempit di pinggir rumah makan di depan sana. Dia tetap belum melihat golok
Pho Ang-soat, yang dilihatnya hanya sambaran goloknya. Tapi ini sudah lebih dari cukup.
0oo0
Orangnya sudah pergi, tapi benang sutra yang bertebaran di udara masih ketinggalan
terhembus angin.
Telapak tangan Peng Liat yang menggenggam golok sudah basah oleh keringat dingin.
Tiba-tiba Pho Ang-soat berpaling mengawasinya, katanya, "Kau sudah melihat golokku?"
Peng Liat manggut-manggut.
"Sekarang giliranku ingin melihat golokmu," ujar Pho Ang-soat
Peng Liat mengertak gigi, giginya berkeriut, kedengarannya seperti orang mengasah pisau.
Sekonyong-konyong terdengar seseorang berseru, "Goloknya itu tidak baik dipandang mata."
0oo0
Kebetulan ada sebuah tandu lewat di jalan besar ini, kini berhenti di persimpangan jalan,
seruan orang berkumandang dari dalam tandu. Itulah suara perempuan, suara merdu dan enak

didengar dari seorang gadis lemaja, cuma siapa dia belum kelihatan. Kerai di depan tandu terurai
turun mengalingi pandangan.
"Golok ini tidak bagus? Lalu apanya yang bagus?" jengek Pho Ang-soat
Orang dalam tandu menjawab, "Aku justru lebih bagus dari golok itu”. Bukan saja tawanya
semerdu kelintingan, malah kata-katanya pun se ramai kelintingan berbunyi nyaring. Di tengah
suara ramai dari kelintingan berdering, kerai tersingkap dan menongol keluarlah seorang gadis
dari dalam tandu, seorang gadis jelita laksana teratai yang baru mekar
Pakaian yang dikenakan adalah jubah panjang putih mulus, pada leher, pergelangan tangan,
sampai pun kedua kakinya mengenakan gelang yang bergantungan, kelintingan emas.
Ting Hun-pin.
Melihat dia, Pho Ang-soat seketika mengerut alis, katanya, "Kau?"
Mengerling biji mata Ting Hun-pin, katanya berseri tawa, "Tak nyana kau masih mengenal aku."
Sebetulnya Pho Ang-soat tidak kenal dia. cuma pernah melihat dia berada bersama Yap Kay.
Ting Hun-pin tertawa, ujarnya, "Kukatakan golok ini tidak bagus, karena bukan Ngo-hou-toanbun-
to yang asli."
"Bukan yang asli?" Pho Ang-soat menegas.
"Jika kau benar-benar ingin bertemu dengan Ngo-hun-toan-bun-to, boleh kau pergi ke Ngohou-
ceng di Koantiong." Tiba-tiba Ting Hun-pin membalik menghadap Peng Liat, katanya tertawa,
"Sekarang dia pasti tidak ingin melihat golokmu, lekas kau pergi minum arak saja, Siau Yap pasti
sedang menunggu dengan gelisah."
"Siau Yap? Apa maksudmu?" tanya Pho Ang-soat.
"Hari ini Siau Yap (Yap si kecil) mentraktir makan minum, kita semua adalah tamu-tamunya
yang tak usah diundang." Dia cekikikan lalu menyambung, "Dia tidak suka tamu yang sudah
mampus, maka dia pun tidak suka tamu-tamunya mati."
"Yap Kay maksudmu?"
"Kecuali dia, siapa lagi?"
"Dia pun berada di sini?"
"Di atas Thian-hok-lo sana itu, bila kau pun datang ke sana pasti dia senang setengah mati!"
"Dia tidak akan melihat diriku," kata Pho Ang-soat dingin.
"Kau tidak mau ke sana?"
"Aku bukan tamunya."
"Kalau kau tidak mau ke sana, tiada orang yang memaksamu, cuma matanya mengerling tajam
kepada Pho Ang-soat, katanya pula dengan tersenyum, "Tamu-tamu yang dia undang di sana,
semuanya mempunyai berita yang cepat dan tajam, jika kau hendak mencari tahu kabar apa-apa,
di sanalah tempat yang tepat untuk kau cari."
Pho Ang-soat tidak banyak bicara lagi, segera dia putar badan beranjak ke Thian-hok-lo,
seolah-olah dia lupa bahwa ada orang tengah menunggu dirinya.
Ting Hun-pin melirik kepada Cui long, katanya menghela napas, "Agaknya dia sudah melupakan
dirimu."
Cui long tertawa, katanya, "Tapi kau tidak melupakan dia."
Berkedip mata Ting Hun-pin, tanyanya, "Kenapa dia tidak membawamu serta?"
"Karena dia tahu aku bakal menguntitnya sendiri." Betul juga segera dia menyusul.

Mengawasi bayangan orang yang semampai gerak-gerik yang lembut gemulai, mulutnya
berkata seorang diri, "Agaknya itulah cara terbaik untuk menghadapi laki-laki."
Suaranya tidak tinggi dan tidak keras, namun kuping Cui-long agaknya amat tajam, tiba-tiba dia
berpaling dengan tertawa, katanya, "Kenapa kau tidak meniru caraku ini?"
Ting Hun-pin tertawa, katanya, "Karena cara orang ini sebetulnya adalah aku sendiri yang
menciptakan."
^»"«^
Tamu-tamu yang hadir di dalam Thian-hok-lo memang banyak, pakaian setiap orang semuanya
perlente, gagah dan ganteng. Memang ucapan Ting Hun-pin tidak berlebihan, orang-orang yang
mempunyai kabar dan berita yang cepat dan tajam pendengarannya, sudah tentu merupakan
tokoh-tokoh yang punya kedudukan tinggi dan orang yang punya akal sehat.
Sudah tentu bukan soal gampang untuk mengundang dan mengumpulkan orang-orang seperti
ini. Apalagi sekaligus mengumpul sedemikian banyak orang.
Dua bulan lebih tak berjumpa, Yap Kay agaknya sudah berubah menjadi orang yang serba
pintar, punya otak dan pandai menggunakan akal. Jubah berbulu yang dipakainya sekarang
mungkin hanya terbeli dengan nilai lima puluh tahil perak, demikian pula sepatu kulit bersemir
mengkilap, rambutnya tersisir rapi dan berminyak hitam, malah mengenakan topi yang biasanya
suka dipakai putra hartawan yang suka foya-foya dengan hiasan mutiara dan zamrud segala.
Sebelumnya orang ini tidak pernah berdandan mewah, hampir saja Pho Ang-soat tidak
mengenalnya lagi. Tapi Yap Kay sebaliknya masih mengenalnya. Begitu dia naik ke atas loteng,
Yap Kay lantas melihat dirinya.
0oo0
Sinar lampu terang berderang seperti di siang hari bolong. Roman muka Pho Ang-soat kelihatan
semakin legam ditimpa sinar api.
Sudah banyak orang yang melihat golok hitam itu, melihat dulu goloknya baru melihat orang
yang membawanya.
Sebaliknya pandangan Pho Ang-soat seolah-olah seorang pun tidak dilihatnya. Yap Kay sudah
berada di depannya, mengawasinya dengan senyuman lebar. Hanya senyuman ini belum berubah,
malah begitu lebar dan simpatik senyuman ini. Mungkin karena menghadapi senyuman ini.
Maka Pho Ang-soat cukup melirik sekilas saja kepadanya.
Yap Kay tertawa, sapanya, "Sungguh tidak nyana kau bisa kemari "
"Aku juga tidak mengira."
"Silakan duduk."
"Aku berdiri saja."
"Tidak mau duduk?"
"Berdiri juga bisa bicara."
"Aku tahu apa yang hendak kau bicarakan."
"Kau tahu?"
Yap Kay manggut-manggut, ujarnya, "Sayang sekali aku pun tidak berhasil mencari tahu jejak
orang itu."
Pho Ang-soat termenung, lama juga baru mendadak dia berkata, "Selamat bertemu!"
"Tidak minum dulu?"
"Tidak."

"Secangkir arak tidak akan mencelakai jiwa orang "
"Tapi aku takkan mengundangmu minum "
"Aku pernah kebentur batunya."
"Aku pun tidak akan sudi minum arakmu."
"Kita bukan teman?"
"Aku tidak punya teman." Tiba-tiba dia membalik badan, melangkah pergi.
Mengawasi bayangan punggungnya, senyuman Yap Kay menjadi getir dan kaku. Tapi Pho Angsoat
tidak turun ke bawah loteng, karena saat itu Ting Hun-pin dan Cui-long tengah beranjak naik
dari tangga loteng.
Tangga loteng terlalu sempit. Tiba cukup untuk dua orang jalan berjajar.
Cui-long berdiri di mulut tangga, agaknya tertegun, dia sudah melihat Yap Kay, Yap Kay pun
sedang mengawasi dirinya. Pho Ang-soat pun sedang mengawasi Cui-long, sedang Ting Hun-pin
mengawasi Yap Kay.
Mimik keempat pasang mata ini berlainan, tiada orang yang bisa melukiskan perasaan yang
melembari sanubari mereka.
Untung lekas sekali Cui-long sudah menundukkan kepala. Tapi Yap Kay masih menatapnya.
Pelan-pelan Ting Hun-pin maju beberapa langkah. Pho Ang-soat segera turun dari tempatnya.
Tanpa bersuara Cui-long segera membalik badan, ikut di belakangnya, tidak melirik lagi kepada
Yap Kay.
Tapi Yap Kay masih mendelong mengawasi mulut tangga yang kosong. Tak tahan Ting Hun-pin
menepuk pundaknya, katanya dingin, "Orang sudah pergi."
"O? Sudah pergi?"
"Pergi ikut temanmu."
"O."
"Kalau kau hendak merebut cintanya, kau harus hati-hati. karena golok orang itu amat cepat."
Yap Kay tertawa.
Ting Hun-pin juga tertawa, namun tawa dingin, "Cuma perempuan itu memang tidak jelek,
kabarnya dulu dia menggunakan kecantikannya itu untuk mencari uang, mungkin kau pun pernah
menghamburkan uangmu kepadanya."
"Kau kira aku sedang mengawasi dia?"
"Memangnya setan yang sedang kau awasi?"
"Aku cuma berpikir...."
"Berpikir dalam hati lebih jahat daripada memandang dengan hati ...."
"Apa yang terpikir dalam benakku, selamanya tidak akan kau percaya."
Berputar biji mata Ting Hun-pin, katanya, "Aku percaya, asal kau beritahu kepadaku, aku akan
percaya."
"Aku cuma mengharap dia betul-betul mencintai Pho Ang-soat, betul-betul rela mengikutinya
seumur hidup, kalau tidak ...."
"Kalau tidak bagaimana?"
"Kalau tidak, mungkin aku terpaksa harus membunuhnya."
"Kau tega?"

"Memangnya aku bukan laki-laki yang kasihan terhadap perempuan cantik yang pantas
kubunuh."
"Aku tahu orang macam apa kau ini."
"O, aku orang macam apa?"
"Kau ini setan hidung belang yang lain di mulut lain di hati, oleh karena itu apa pun yang kau
katakan, sepatah kata pun aku tidak percaya." Yap Kay tertawa pula, tawa getir.
Pada saat itulah, tiba-tiba dari bawah loteng ada orang berseru memanggil, "Yap Kay, Yap Kay
...."
Seorang pemuda berbaju abu-abu dengan topi rumput kebetulan berlalu menunggang kuda,
akhirnya berhenti di depan Thian-hok-lo. sebelah tangannya memegang kendali, tangan yang lain
sedang menguliti kacang.
Orang-orang yang duduk di pinggir jendela cukup berpaling lantas melihatnya, terlihat juga
pedang yang terselip miring di ikat pinggangnya. Sebatang pedang tipis tajam mengkilap tanpa
sarung.
"Lok Siau-ka!" ada orang yang berteriak terkejut.
0oo0
Lok Siau-ka! Ketiga huruf nama ini seolah-olah mengandung daya tarik yang misterius,
mendengar nama ini, tersipu-sipu orang berebut melongok keluar jendela.
Yap Kay mendahului di depan, katanya tertawa, "Tidak naik kemari minum arak?"
Lok Siau-ka mendongak, katanya, "Kau tidak makan kacangku, kenapa aku harus minum
arakmu?"
"Ah, dua hal yang berlainan!" dia putar badan meraih secangkir arak penuh, terus dilempar ke
bawah, dengan berputar-putar cangkir arak itu dengan tenangnya terbang lurus ke arah Lok Siauka,
seolah-olah ada makhluk gaib yang tidak kentara menyanggahnya
Lok Siau-ka tertawa, jarinya menjentik sekali, cangkir itu terjentik mencelat naik dan terbalik di
tengah udara. Arak di dalam cangkir seketika tumpah dan tepat tertuang masuk ke dalam mulut
Lok Siau-ka.
"Arak bagus!" puji Lok Siau-ka.
"Secangkir lagi?"
"Aku hanya ingin tanya kau, apakah kau pun sudah terima undangan?"
"Kemarin baru kuterima."
"Kau akan datang tidak?"
"Kau tahu biasanya aku paling suka melihat keramaian."
"Baik, pada tanggal lima belas bulan sembilan yang akan datang kita berjumpa di Pek-hunceng."
Dikulitinya sebutir kacang, terus dilempar, baru saja dia menunggu dengan mulut terbuka
hendak mencaplok kacang itu.
Tak nyana badan Yap Kay tiba-tiba melesat keluar, mulut terpentang, dia sambut kacang yang
melayang turun itu, di tengah udara dia berjumpalitan membalik, dengan ringan melayang turun
kembali di tempatnya. Katanya dengan tergelak, "Akhirnya aku berhasil makan kacangmu."
Lok Siau-ka melengak, tiba-tiba dia pun tertawa besar, diiringi gelak tawanya dia ayun
pecutnya membedal kudanya pergi. Terdengar dari kejauhan suaranya berkata, "Anak keparat,
kau memang anak keparat yang bagus!"
0oo0

Mi kuah itu sudah dingin. Kuahnya keruh, bagian atasnya ditaburi daun-daun sayur hijau.
Sayurnya murah pula, minya kasar, makanan yang termurah pula, mangkuknyapun sudah gumpil.
Kepala Cui-long tertunduk, tangannya sedang mengerjakan sepasang sumpit yang entah sudah
pernah dipakai berapa banyak orang, diungkitnya beberapa batang mi, lalu diletakkan lagi. Walau
perutnya amat lapar, tapi mi kuah seperti ini betapa pun tidak menimbulkan selera makannya.
Biasanya mi kuah yang dimakannya dibumbui racikan enak, kuah ayam dan pangsit atau bakso,
mangkuknya pun mangkuk antik yang mahal harganya. Menghadapi mangkuk gumpil dengan mi
kuah di dalamnya, dia merasa mual, menghela napas, lalu meletakkan sumpit.
Sebaliknya mi kuah di mangkuk Pho Ang-soat sudah digaresnya sampai habis, kini dengan
diam-diam dia tengah mengawasinya, katanya tiba-tiba, "Kau tidak bisa makan?"
Kecut dan dibuat-buat tawa Cui-long, sahutnya, "Aku tidak lapar."
"Aku tahu kau tidak biasa makan hidangan sekotor ini, kau harus makan di Thian-hok-lo."
"Kau tahu aku tidak akan ke sana, aku...”
"Kau kuatir dirimu tidak disambut?"
Cui-long geleng-geleng.
"Lalu kenapa kau tidak ke sana?"
Pelan-pelan Cui-long mengangkat kepala menatap mukanya, katanya lembut, "Karena kau di
sini, maka aku pun di sini, tempat mana pun aku tidak akan ke sana."
Pho Ang-soat tidak bicara lagi.
Cui-long mengulur tangan mengelus punggung tangannya, tangan yang memegang golok.
Dalam keadaan apa pun dia cukup tahu cara bagaimana dia menenangkan hati laki-laki.
Tiba-tiba Pho Ang-soat mengipatkan tangannya, katanya dingin, "Kau kenal laki-laki itu?"
"Cuma ... cuma tamu biasa saja?"
"Apa yang dinamakan tamu biasa saja?"
"Kau tahu, dulu aku ... di tempat seperti itu, tak urung harus kenal dengan laki-laki yang suka
iseng."
Terpancar rasa derita yang mengetuk sanubari Pho Ang-soat dari sorot matanya.
"Kau harus memaafkan aku, kau harus tahu sebetulnya aku tidak sudi melayaninya."
"Yang terang aku tahu kau selalu mengincarnya."
"Sejak kapan aku pernah mengincarnya, cukup sekilas melihatnya, hatiku sudah muak."
"Hatimu muak?"
"Rasanya ingin aku membunuhnya."
"Kau kira orang she Peng itu yang kumaksud?"
"Bukan dia yang kau maksud?"
"Yang kumaksud adalah Yap Kay."
Cui-long tertegun.
"Bukankah kau pun kenal dia? Apakah dia itupun tamu biasa?"
Kini mata Cui-long yang menyorotkan derita dan siksaan batin, katanya dengan pilu, "Kenapa
kau harus bicara demikian? Kau sedang menyiksa aku? Atau sedang menyiksa hatimu sendiri?"
Muka Pho Ang-soat yang pucat menjadi merah padam, sedapat mungkin dia kendalikan
emosinya, katanya tandas, "Aku hanya ingin tahu, apakah kau pun mengenalnya?."

"Umpama dulu aku pernah mengenal dia, sekarang aku sudah tidak mengenalnya lagi."
"Kenapa?"
"Karena sekarang hanya kau seorang yang kukenal, hanya kau seorang." Kembali tangannya
terulur, dengan kencang dia genggam tangan Pho Ang-soat.
Mengawasi tangannya, sikap Pho Ang-soat semakin tertekan, katanya, "Sayang sekali aku tidak
bisa memberi kehidupan mewah dan senang seperti yang kau nikmati dulu, dengan ikut aku, kau
hanya akan menderita, makan mi seperti ini."
"Memangnya apa jeleknya mi seperti ini?"
"Tapi kau tiada selera untuk memakannya."
"Baik, biar kumakan." Sumpit diraihnya serta diungkitnya mi di dalam mangkuk terus dijejalkan
ke dalam mulut, melihat tawa menyengir yang dipaksakan di mukanya, mirip benar dengan orang
yang disuruh makan obat racun.
Pho Ang-soat mengawasinya, mendadak dia rebut sumpit orang, katanya keras, "Kalau kau
tiada selera makan, kenapa harus dipaksakan? ... aku kan tidak memaksa kau." Suaranya serak
karena terharu, jari-jari tangannya pun gemetar.
Biji mata Cui-long merah, air mata berlinang, akhirnya tak tahan dia berkata, "Kenapa kau
sekasar ini terhadapku? Aku...”
"Kau kenapa?"
"Aku hanya merasa sebetulnya kita tidak usah hidup dalam keadaan seperti ini," sahut Cui-long
menghela napas. "Uang sangumu mungkin sudah habis, tapi aku masih punya cukup banyak."
Dada Pho Ang-soat turun naik, katanya serak, "Itu milikmu, tiada sangkut-pautnya dengan
aku."
"Sampai pun jiwa ragaku ini sudah menjadi milikmu, kenapa kau dan aku harus dibatasi dengan
garis yang begini jelas?"
Merah membara selebar muka Pho Ang-soat yang semula pucat, sekujur badannya gemetar,
katanya sepatah demi sepatah, "Tapi kenapa tidak kau pikir, betapa kotor uangmu? Asal aku
teringat asal mula uangmu itu, aku lantas mual hendak muntah."
Berubah pula muka Cui-long, sekujur badan bergetar keras, dengan kencang dia menggigit
bibirnya, katanya, "Mungkin bukan uangku saja yang kotor, badanku inipun sudah lama kotor."
"Memangnya."
"Tak usah kau suruh aku berpikir, aku sendiri sudah pernah memikirkannya, aku memang tahu
sejak mula kau memang memandang rendah diriku." Bibirnya tergigit sampai keluar darah,
sambungnya dengan suara tersendat, "Aku hanya mengharap kau sendiri pun suka berpikir."
"Apa yang harus kupikir?"
"Kenapa tidak kau pikir, kenapa aku bisa melakukan pekerjaanku ini? Demi siapa? Aku ... buat
apa aku harus menyiksa diri?"
Walau sedapat mungkin dia kendalikan emosinya, tapi tak tertahan air mata bercucuran
membasahi pipinya, tiba-tiba dia berdiri, katanya dengan air mata berlinang, "Kalau kau memang
menghinaku, buat apa aku selalu mempersulit dirimu, aku ...."
"Benar, kalau toh kau bisa mencari uang dengan gampang, kenapa harus ikut aku yang rudin
ini, sejak lama kau sudah harus pergi."
"Kau ... benar-benar kau ingin aku pergi?"
"Buat apa main-main."

"Baik, baik, baik ... kau baik sekali," teriak Cui-long. Tiba-tiba dia dekap mukanya dengan kedua
tangan, terus berlari keluar dengan jerit tangis. "Blang", dengan keras dia banting daun pintu
sampai tertutup keras.
Pho Ang-soat tidak merintangi, melirik pun tidak. Dia tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak
sedikit pun. Badannya tidak gemetar lagi, tapi otot-otot hijau di punggung tangannya sudah
merongkol keluar, keringat dingin sudah membasahi jidatnya. Tapi tiba-tiba dia malah roboh
tersungkur, badannya kelejetan dan meronta-ronta di atas lantai, kejang, buih putih meleleh
keluar dari mulutnya. Lama kelamaan dia meronta-ronta sekeras mungkin seperti binatang yang
sekarat setelah digorok lehernya, deru napasnya seperti sapi yang hendak disembelih
Pintu terbuka lagi, Cui-long pelan-pelan melangkah masuk. Air mata di mukanya sudah kering,
biji matanya seolah-olah memancarkan cahaya terang. Tapi jari-jari tangannya gemetar. Bukan
gemetar karena menderita, adalah karena haru dan tegang!
Dengan nanar matanya menatap Pho Ang-soat, selangkah demi selangkah maju menghampiri.
Sekonyong-konyong dia mendengar sesuatu suara, suara yang aneh Seperti orang mengunyah
sesuatu.
Entah sejak kapan sesosok bayangan orang sudah melompat masuk dari luar jendela, berdiri
menggeledot di ambang jendela, mulutnya sedang mengunyah kacang.
Lok Siau-ka.
Berubah air muka Cui-long, teriaknya tertahan, "Untuk apa kau kemari?"
"Aku tidak boleh kemari?"
"Kau kemari hendak membunuhnya."
Lok Siau-ka tertawa tawar, sahutnya, "Akukah yang ingin membunuhnya? Atau kau yang mau
membunuh dia?"
Berubah air muka Cui-long, katanya dingin, "Kau sudah gila, kenapa aku hendak
membunuhnya?"
Lok Siau-ka menghela napas, ujarnya, "Perempuan kalau hendak membunuh laki-laki selalu
bisa mengajukan banyak alasan."
Tiba-tiba Ciu-long memburu maju ke depan Pho Ang-soat katanya keras, "Apa pun yang kau
katakan, tidak kubiarkan kau menyentuhnya."
Lok Siau-ka menyeringai dingin, jengeknya, "Umpama kau minta aku menyentuhnya, aku tidak
akan tertarik, selamanya aku tidak menyentuh laki-laki?"
"Kau hanya membunuh laki-laki?"
"Aku pun tidak pernah membunuh laki-laki yang sudah roboh!"
"Jadi untuk apa kau kemari?"
"Aku hanya ingin tanya kalian, sudah menerima kartu undangan belum?"
"Undangan? Undangan apa?"
"Agaknya pergaulan kalian memang kurang luas."
"Kami tidak perlu pergaulan yang luas."
"Tanpa pergaulan yang luas, cara bagaimana bisa menemukan orang." Tiba-tiba dia cabut
pedangnya, dalam sekejap mata dia sudah meninggalkan beberapa huruf di atas dinding "Tanggal
lima belas bulan sembilan. Pek-hun-san-ceng."
"Apa maksudnya?" tanya Cui-long.

Lok Siau-ka tertawa, sahutnya, "Maksudnya, aku harap pada tanggal lima belas bulan sembilan
nanti, dengan tetap hidup kalian berada di Pek-hun-san-ceng, orang mati tidak akan disambut dan
dilayani di sana."
Angin menghembus datang, sesuatu benda melayang jatuh terhembus angin dari atas jendela,
itulah kulit kacang. Tahu-tahu bayangan Lok Siau-ka sudah menghilang seperti terhembus angin.
Lambat-laun dengus napas Pho Ang-soat yang ngos-ngosan mulai reda. Cui-long menjublek di
tempat, lama sekali dia seperti lupa diri, akhirnya dia berjongkok memayangnya. Dipeluknya orang
di dadanya yang hangat dan mesra. Biasanya dia sudah cukup berpengalaman cara bagaimana dia
harus memeluk laki-laki.
* * *
BAB 28. DITEMANI WANITA
Tanggal 14 bulan 9. Cuaca cerah. Magrib. Di pinggir jalan raya terdapat sebuah warung teh.
Tidak semua warung wedang di pinggir jalan menjual teh, ada juga yang menjual arak. Soalnya
teh dapat kau minta dengan gratis, sebaliknya arak harus kau beli.
Di dalam warung teh ini menyediakan empat macam arak, semuanya arak yang bermutu
rendah dengan harga yang murah, malah kebanyakan arak-arak keras yang membakar
tenggorokan.
Kecuali arak, sudah tentu warung ini menyediakan juga makanan lain dan kue-kue, ada tahu,
telur asin, bakpau dan kacang.
Sekeliling warung ini dipagari pepohonan yang rindang, di bawah pohon-pohon ini ditata meja
dan bangku-bangku panjang, banyak orang yang berjajar duduk di bangku-bangku panjang ini,
menaikkan kaki, minum arak mengunyah kacang.
Dengan mendelong Pho Ang-soat sedang mengawasi orang-orang yang menguliti kacang,
sedang mengunyahnya dengan lahap.
Ada orang yang makan kacang, untuk mengiringi minum arak dengan tahu dan emping, ada
pula orang yang makan kacang dan bakpau. Mereka makan dengan lahapnya seolah-olah makan
kacang dan tahu sudah menjadi kebiasaan mereka sehari-hari.
Tapi Pho Ang-soat terima tahu menolak kacang. Seolah-olah kacang hanya boleh dipandang
tidak boleh dimakan.
Tak tertahan Cui-long bertanya dengan suara lirih. "Kau masih memikirkan orang itu?"
Pho Ang-soat tutup mulut.
"Lantaran dia suka makan kacang, maka kau tidak mau makan?"
Pho Ang-soat tetap membungkam.
"Aku tahu ...." ujar Cui-long menghela napas.
"Kau tahu apa?" tanya Pho Ang-soat.
"Di saat penyakitmu kumat, kau tidak sudi dilihat orang lain, tapi dia justru kebetulan datang
menyaksikan keadaanmu, oleh karena itu kau membencinya."
Pho Ang-soat membungkam lagi, mulutnya terkancing kencang, sekencang jari-jarinya
menggenggam goloknya. Kecuali dirinya, di sini jarang ada orang membawa senjata. Mungkin
karena goloknya itu, maka banyak orang menyingkir mencari tempat yang jauh dari mereka.

Cui-long menghela napas pula, katanya, "Tanggal 15 bulan 9 di Pek-hun-ceng. Kenapa dia
minta kita pergi ke Pek-hun-ceng pada tanggal 15 bulan 9 itu? Sungguh aku tidak habis
mengerti...."
"Banyak urusan yang tidak kau mengerti...."
"Tapi tidak bisa tidak aku harus memikirkannya."
"Memikirkan apa?"
"Dia ingin kita datang, tentu mempunyai maksud tertentu, maka aku lebih tidak mengerti
kenapa kau justru mau ke sana."
"Tiada orang yang ingin kau ke sana," ujar Pho Ang-soat.
Cui-long menundukkan kepala, menggigit bibir tidak bicara lagi. Dia tidak bisa bicara dan tidak
bebas bicara.
0oo0
Di pinggir jalan raya di luar warung teh ini, berhenti beberapa buah kereta dan gerobak yang
ditarik oleh beberapa ekor keledai. Orang-orang yang mampir melepaskan lelah, menghilangkan
dahaga dan lapar, kebanyakan adalah pekerja-pekerja yang banyak mengeluarkan tenaga kasar,
kecuali gegares nyamikan dan arak di dalam warung ini, selama hidup mereka boleh dikata jarang
pernah menikmati kesenangan hidup, berfoya-foya.
Setelah beberapa cangkir arak keras itu masuk ke dalam perut, dunia ini seolah-olah sudah
berubah menjadi lebih elok dan permai.
Seorang pemuda yang bertubuh kekar sehat, berkulit hitam, baru saja keluar dari dalam
warung, dengan senyum lebar dia memberi salam kepada beberapa teman sejawatnya, setelah
duduk dia berseru memanggil pemilik warung dan berpesan, "Ong-liong-cu (Ong si tuli), sediakan
lima kati arak, sepuluh butir telur asin, hari ini aku yang mentraktir kawan-kawan."
Ong-liong-cu sebetulnya tidak tuli, cuma kalau ada orang menagih hutang kepadanya, dia
lantas pura-pura tuli. Dengan melirik acuh tak acuh, dia mengawasi pemuda hitam itu, katanya
dingin, "Kau bocah ini sudah gila."
Anak muda itu melotot, serunya, "Siapa bilang aku gila?"
"Kalau tidak gila untuk apa kau main traktir segala?"
Anak muda itu segera tertawa lebar, katanya, "Hari ini aku mendapat rezeki bertemu dengan
seorang tamu yang ringan tangan." Sengaja dia tertawa penuh arti, sambungnya, "Kalau
kusinggung nama orang ini, memang dia sudah amat tenar dan dikenal banyak orang."
Semua yang hadir dalam warung menjadi tertarik dan bertanya bersama, "Siapa orang itu?"
Anak muda itu tertawa pula, katanya geleng-geleng, "Kalau kusebut namanya, belum tentu
kalian pernah mendengarnya."
"Apa-apaan ucapanmu ini?"
"Kalau namanya tenar dikenal banyak orang, kenapa kita tidak pernah mendengar?"
"Karena kalian belum setimpal."
"Kita tidak setimpal, memangnya kau setimpal?"
"Jika aku tidak punya saudara misan bekerja di dalam Piaukiok, aku pun tidak pernah
mendengar nama besarnya."
"Sudahlah jangan kau jual mahal, sebetulnya she apa dan siapa nama orang itu?"
Anak muda itu mengangkat kakinya dulu, baru menjawab, "Dia she Lok, bernama Siau-ka."

Sebetulnya Pho Ang-soat sudah berdiri hendak membayar terus tinggal pergi, tiba-tiba dia
duduk kembali ke tempatnya. Untung orang banyak tiada yang memperhatikan dirinya, tiba-tiba
dia berebut bertanya, "Kerja apa Lok Siau-ka itu?"
"Seorang pembunuh." Sengaja dia rendahkan suaranya menjadi lirih, tapi suaranya cukup jelas
didengar orang banyak.
"Pembunuh?"
"Arti dari pembunuh adalah asal kau mau membayar kepadanya, dia mau membunuh siapa saja
yang ingin kau bunuh, kabarnya setiap kali dia membunuh orang, paling sedikit menerima selaksa
tahil perak."
Terbelalak mata semua hadirin, hampir saja napas pun terasa sesak.
"Cong-piauthau dari Piaukiok dimana saudara misanku bekerja, sudah ajal oleh pedangnya."
"Maksudmu adalah Ting-toaya yang setengah tahun lalu dikebumikan itu?"
"Waktu dia dikebumikan bukankah kalian juga ikut bekerja, setiap orang malah mendapat
persen lima tahil perak bukan."
"Ya, pendapatan kita hari itu memang paling besar."
"Oleh karena itu tentunya kalian bisa merasakan juga, di kala hidupnya tentu dia seorang yang
bukan sembarangan, tapi begitu dia kebentur Lok-toaya ini, belum lagi goloknya sempat dicabut,
tahu-tahu tenggorokannya sudah berlubang terhujam pedang orang."
"Darimana kau tahu begini jelas?"
"Saudara misanku sendiri yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, begitu pulang dia
lantas menceritakan peristiwa itu serta menggambarkan orang macam apa Lok-toaya itu
kepadaku, maka hari ini aku lantas mengenalnya. Bukan aku mengenali orangnya, tapi aku
mengenali pedangnya."
"Apa keistimewaan pedangnya itu?"
"Pedangnya tidak pakai sarung, kelihatannya mirip besi rongsok yang tidak terpakai lagi, tapi
saudara misanku itu memberitahu, selama hidupnya belum pernah dia melihat pedang yang begitu
menakutkan seperti itu."
Semua orang menghela napas dan saling pandang dengan rasa kejut, tapi banyak di antara
mereka yang masih sangsi. "Sekali membunuh orang mendapat bayaran selaksa tahil, memangnya
dia sudi menunggang keretamu yang bobrok?"
"Soalnya tapal kudanya kebetulan rusak, aku kebetulan lewat di jalan itu, dari Ceng-ho-tin di
depan sana sampai di Pek-hun-ceng dalam jarak yang begini dekat, dia membayarkan dua puluh
tahil perak."
"Agaknya rezekimu memang hari ini," semua heran dan mengiri, "kalau tidak mau ditraktir, siasia
kita berada di sini, kalau kita tidak menghabiskan lima-enam tahil perak, masakah bocah ini
bisa tidur setelah pulang ke rumah."
Sekonyong-konyong seseorang ikut menyeletuk, "Mau mentraktir juga arus mengundang aku."
0oo0
Sejak tadi orang ini rebah di bawah pohon rindang di belakang sana, rebah di atas tanah
menggunakan topi rumput besar yang sudah rusak menutupi mukanya. Bukan saja topinya sudah
rusak, sampai pun pakaiannya sudah butut banyak tambalan dan kotor, agaknya arak pun tidak
mampu dibelinya, maka dia terima rebah di sana.
Ada orang yang mengerut kening, katanya, "Mengundangmu, kenapa harus mengundangmu?"

Anak muda yang punya uang itu malah tertawa, katanya, "Di empat penjuru lautan adalah
saudara, ketambahan seorang tidak menjadi soal, saudara ini agaknya memang ingin minum arak,
hayolah silakan duduk!"
Orang itu berkata dingin, "Walau aku minum arakmu, tapi aku bukan temanmu, kau harus ingat
akan hal ini."
Topi rumput dia dorong ke belakang kepalanya, lalu berdiri dengan kekemalas-malasanan,
ternyata perawakannya besar, badannya kekar dan kuat setinggi delapan kaki, pundaknya dua kali
lebar orang biasa, kedua tangannya yang gede selebar kipas lurus semampai di pundaknya,
hampir menyentuh lututnya, tulang pipinya menonjol keluar, alisnya yang tebal dan panjang mirip
sapu lidi, bibir besar mulut lebar.
Walau pakaiannya kotor dan rombeng, tapi begitu dia berdiri, sikapnya amat gagah, dandanan
garang, siapa pun takut melihatnya. Sebetulnya ada orang yang hendak menghajarnya, kenapa
ikut-ikutan ditraktir sebagai temannya. Kini tiada orang yang berani banyak mulut lagi.
Kebetulan Ong-liong-cu keluar membawa lima kati arak dan sepuluh butir telur asin, orang
gede itu langsung memapak maju. "Ini bagianku," katanya seolah-olah perintah, cekak-aos dan
tegas.
Tampak orang mencomot dua butir telur terus dijejalkan ke dalam mulut, hanya beberapa kali
kunyah lantas tertelan ke dalam mulut. Makan dua butir telur minum seteguk arak, dalam sekejap
saja sepuluh butir telur dan lima kati arak digaresnya habis.
Semua orang mendelong mengawasi tingkah-laku orang, biji matanya seperti hampir melompat
keluar.
Setelah menghabiskan tegukan araknya yang terakhir, baru orang ini merasa puas dan menarik
napas, dengan kemalas-malasan dia mengelus perutnya, katanya, "Siapkan sekali lagi seperti yang
barusan ini."
"Satu kali lagi?" teriak Ong-liong-cu kaget.
Orang gede itu menarik muka, bentaknya berngis, "Kau tidak mendengar ucapanku?"
Bentakannya ini laksana geledek mengguntur di tengah angkasa, sampai kuping si tuli pun
hampir pecah tergetar oleh suaranya. Kebetulan anak muda itu duduk di sebelahnya, saking
terkejut dia sampai berjingkrak jatuh dari atas bangku.
Sekali raih laki-laki gede itu mengulurkan telapak tangan segede kipas itu menjinjing punggung
bajunya, seperti menjinjing seekor ayam, katanya menyeringai, "Kau takut apa? takut mentraktir?"
Mending kalau dia tidak tertawa, begitu menyeringai tawa, mulutnya seperti orang mewek hampir
sobek sampai ke pinggir telinganya, kelihatannya mirip setan penjaga kelenteng yang bengis dan
jahat.
Saking ketakutan anak muda itu sampai pucat mukanya, sahutnya tergagap, "Aku
"Kalau kau tidak mau mentraktir, biar aku saja yang mentraktir!" Sekali rogoh dia lantas
mengeluarkan sekeping uang perak, itulah Toa-goan-po yang bernilai lima puluh tahil. Keruan
mata anak muda melotot.
Berkata pula laki-laki gede itu, "Uang perak ini bakal jadi milikmu, tapi besok pagi-pagi, kau
harus menungguku di sini, bawa aku ke Pek-hun-ceng, jika kau sampai membuat urusanku gagal,
batok kepalamu akan menjadi persis uang perak ini." Begitu dia kerahkan tenaga meremas
dengan jari-jarinya, uang perak di tangannya itu diremasnya gepeng.
Baru saja anak muda itu berdiri tegak, saking terkesima kaget dia terpeleset jatuh lagi.
Laki-laki gede itu tergelak-gelak dengan menengadah, dia lempar uang itu ke depan anak muda
itu, tanpa berpaling terus tinggal pergi. Dia pergi pelan-pelan, tapi setiap langkah kakinya sejauh
empat-lima tombak, sekejap saja bayangannya sudah menghilang ditelan tabir malam. Terdengar

suara serak dari nyanyiannya yang lantang memilukan, tapi orang yang mendengar akan
mengkirik juga.
"Tanggal 15 bulan 9 bulan purnama,
Darah bakal mengalir di saat bulan purnama,
Darah orang-orang gagah yang takkan habis-habisnya mengalir.
Batok kepala musuh tak habis dibunuh....
Suara nyanyian tetap berkumandang semakin jauh dan lama kelamaan hilang ditelan angin lalu.
Lama Pho Ang-soat berdiri menjublek, tiba-tiba dia menghela napas dengan menengadah,
katanya, "Bagus sekali, batok kepala musuh yang tak habis dibunuh."
0oo0
Subuh.
Langit di ufuk timur sudah mulai memancarkan cahaya remang-remang, alam semesta masih
tenggelam dalam kesunyian dan makhluk-makhluk berjiwa masih nyenyak tertidur.
Warung teh itu sudah kosong tidak kelihatan seorang pun, Ong-liong-cu tidak menetap di
dalam warungnya, di depan warung berhenti kereta si pemuda di bawah pohon, si bocah
meringkuk di dalam keretanya Kuatir dirinya datang terlambat, mungkin laki-laki gede yang galak
dan beringas itu benar-benar bisa menggencet gepeng kepalanya.
Angin pagi terasa dingin menyusup tulang, sayup-sayup dari kejauhan terdengar kokok ayam
jantan yang bersahutan.
Tampak seseorang tengah memecah kesunyian, menerjang hawa dingin pada hari yang masih
remang-remang ini, kaki kiri melangkah setapak, kaki kanan lalu diseretnya ke depan. Seorang
perempuan yang berperawakan semampai dan montok dengan menjinjing buntalan mengikut di
belakangnya dengan menundukkan kepala.
Daun pohon bergoyang-gontai terhembus angin seperti menyambut kedatangan mereka, kabut
pagi baru mulai berkembang dan lambat-laun sirna tertimpa cahaya terang. Kabut terasa dingin
pula.
0oo0
Pho Ang-soat berhenti di depan warung teh, dia berpaling mengawasi Cui-long.
Raut muka Cui-long pucat, meski dia mengencangkan pakaiannya, tapi dia masih gemetar
saking dinginnya. Di tengah kabut yang remang-remang, dia kelihatan amat letih dan kurus.
Pho Ang-soat mengawasinya diam-diam, sorot matanya yang dingin lambat-laun berubah
hangat lembut, tak tahan akhirnya dia menghela napas, tanyanya, "Kau sudah letih?"
"Seharusnya kau yang letih, seharusnya kau tidur barang sejenak."
"Aku tidak bisa tidur, tapi kau ...."
"Kau tidak bisa tidur, aku mana bisa tidur?"
Pho Ang-soat maju mendekat, menarik tangannya, tangan yang digenggamnya terasa dingin
halus. "Sebelum aku menemukan Be Khong-cun, aku tidak akan pulang, tiada muka aku pulang ke
rumah."
"Aku tahu," sahut Cui-long pendek.
"Karena itu aku hanya membuatmu ikut menderita bersama aku."
Cui-long mengangkat kepala menatapnya lekat-lekat, katanya halus, "Kau harus tahu, aku tidak
gentar menderita, derita apa pun dapat kurasakan." Ditariknya tangan Pho Ang-soat, telapak
tangannya dia tempelkan di mukanya, katanya lirih, "Asal kau bersikap sedikit baik kepadaku,
jangan menghinaku, umpama aku harus mati, aku pun rela."

Pho Ang-soat menarik napas segar, katanya, "Memang aku yang salah terhadap kau, aku sudah
tahu, oleh karena itu meski hari itu kau benar-benar tinggal pergi, aku tidak akan menyalahkan
kau."
"Tapi cara bagaimana aku bisa pergi? Umpama kau mengusirku dengan menghajar pakai
cemeti, aku pun tidak akan pergi."
Pho Ang-soat tiba-tiba tertawa lebar. Senyumannya laksana bongkahan salju yang tersorot
sinar matahari, kelihatannya mengkilat kemilauan dan cemerlang.
Mengawasi senyuman orang, Cui-long seperti termangu dan menjublek, lama sekali baru dia
menghela napas, katanya, "Tahukah kau apa yang paling kusenangi?"
Pho Ang-soat geleng-geleng kepala.
"Aku paling suka melihat kau tertawa tapi kau justru jarang mau tertawa."
Pho Ang-soat berkata halus, "Aku akan sering tertawa kepadamu, cuma sekarang ...."
"Sekarang belum saatnya kau tertawa?"
Pho Ang-soat manggut-manggut, tiba-tiba dia merubah pokok pembicaraan, "Kenapa orang itu
tidak datang?" Seolah-olah dia ingin selalu menyembunyikan perasaan hatinya supaya orang selalu
menganggap dirinya seorang yang kaku dan dingin.
Cui-long menghela napas dengan kecewa, katanya, "Jangan kuatir, kukira dia pasti datang."
"Menurut pendapatmu, orang macam apa dia sebenarnya?"
"Kukira dia pasti musuh besar Lok Siau-ka, setelah tahu Lok Siau-ka berada di Pek-hun-ceng,
masakah dia tidak akan menyusulnya ke sana?"
Pho Ang-soat mengangkat kepala, matanya memandang jauh ke alam yang masih tertutup
kabut tebal, mulutnya menggumam, "Hari ini sudah tanggal 15 bulan 9, sebetulnya peristiwa apa
yang bakal terjadi? ...."
Angin pagi sepoi-sepoi, sayup-sayup tiba-tiba terdengar kumandang nyanyian yang mendatangi
semakin dekat dan keras.
"Darah orang-orang gagah takkan berhenti mengalir,
Kepala musuh tak habis dibunuh,
Kepala boleh terpenggal, darah boleh mengalir,
Dendam kesumat tiada akhir.....
Anda sedang membaca artikel tentang Peristiwa Merah Salju 2 [Serial Pisau Terbang keEmpat] dan anda bisa menemukan artikel Peristiwa Merah Salju 2 [Serial Pisau Terbang keEmpat] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/peristiwa-merah-salju-2-serial-pisau.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Peristiwa Merah Salju 2 [Serial Pisau Terbang keEmpat] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Peristiwa Merah Salju 2 [Serial Pisau Terbang keEmpat] sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Peristiwa Merah Salju 2 [Serial Pisau Terbang keEmpat] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/peristiwa-merah-salju-2-serial-pisau.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar